Kabar Terkini

Dosen Etnomusikologi ISI Diberhentikan Karena Postmodern?


~dari berita kompas.com

Kabar terbaru, dosen ISI Jogya, Dr. Citra Aryandari, jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan menggugat dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dikarenakan dicabut keterlibatannya dalam pengajaran karena tidak sesuai dengan visi Etnomusikologi FSP ISI Yogya.

“23 Januari 2016 lalu, Citra kehilangan haknya sebagai dosen, mengajar, mendampingi mahasiswa bimbingan dan menjadi dosen wali,” ujar Kuasa hukum Citra Aryandari, Daru Supriono, Jumat (1/4/2016).

Hal tersebut, ucap Supriono,  karena Citra dinilai mengajarkan materi yang tidak sesuai dengan visi dan misi Fakultas Seni Pertunjukan.

Selama ini, Citra mengajarkan materi cenderung ke aliran postmodern bukan tradisi. Padahal, menurut dia, apa yang diajarkannya itu demi mengikuti standar International dan menambah pengetahuan bagi para mahasiswa.

Citra AryandariYang menarik adalah bagaimana pencabutan pengajaran dalam sebuah institusi pendidikan dalam negeri berarti pula memotong pemasukan dan tunjangan dari sang dosen. Hal ini berarti adanya sebuah tekanan institusi terhadap ketenagakerjaan dan karenanya hal ini berlawanan dengan hak-hak ketenagakerjaan yang harus dijunjung. Oleh karena itu adalah hak dari Citra untuk menuntut ke PTUN.

Namun pandangan bahwa etnomusikologi hanya bersifat tradisi dan tidak memandang konsepsi postmodern seperti yang dilaporkan Citra adalah sebuah pemakzulan keilmuan. Dalam debat kontemporer etnomusikologi, postmodernisme adalah salah satu cikal bakal melesatnya perkembangan etnomusikologi masa kini, sehingga kerangka berpikir postmodern sebenarnya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Postmodernisme sendiri melihat kenyataan secara utuh melalui penyelidikan linguistik dan analisa serta menggali keabsahan dan keberagaman nilai yang ada di masyarakat. Perlawanan pada narasi satu arah dan bagaimana setiap pribadi dan agensi memiliki kemampuan untuk menangkap informasi dan kemudian mengolahnya untuk kepentingan diri adalah salah satu advokasi postmodern. Tanpanya musik tradisi Asia, Afrika sebenarnya tidak memiliki legitimasi yang cukup untuk berdiri di hadapan tradisi keilmuan musik barat. Dan kini pun konsepsi riset etnomusikologi terkini yang digadang universitas ternama seperti Oxford, School of Oriental and African Studies, menggandeng konsep post-modernisme yang sedikit banyak memang diperdebatkan secara sehat dan akademis di kampus yang semakin memperkaya wacana keilmuan.

Citra Aryandari sendiri menyayangkan mengapa pandangan akademis seperti ini tidak diperdebatkan secara terbuka dalam sebuah forum akademis, yang sebenarnya cocok untuk pertentangan pandangan akademis semacam ini. Debat ini pun juga tentunya akan mampu memperkaya wawasan dan wacana dalam institusi pendidikan. Dr. Citra Aryandari sendiri merupakan doktor lulusan Universitas Gadjah Mada di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dan sempat mengajar di University of Amsterdam sebagai dosen tamu.

Namun ini hanyalah sebagian dari keseluruhan cerita menyikapi suatu permasalahan. Masih banyak kisah yang belum sepenuhnya terkuak. Untuk itu, kabar lanjutan masih perlu kita cermati lebih lanjut.

~Update (6/4) analisa singkat dan sederhana yang terbit 6 April, silakan kunjungi di sini. Update terkini (14/4) Jawaban dari Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI lewat konferensi pers.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

9 Comments on Dosen Etnomusikologi ISI Diberhentikan Karena Postmodern?

  1. Loddy Maris // 5 April 2016 pukul 8:37 am //

    Jika dosen ini mau silahkan ke kampus sya, kami lagi butuh dosen musik.

  2. Yentu tidar feer kalau model leadersip nya begitu mestinya kan di panggil dulu beri peringatan .itu namanya otoriter

  3. wieda mardjono // 5 April 2016 pukul 9:09 pm //

    Mestinya ada presentasi diikuti diskusi. Itu akademik namanya. Kalau perlu ada para senator dalam diskusi tersebut agar fair. Jangan gentar Dr. Citra, Anda berjuang untuk ilmu yg belum cukup dipahami lingkungan akademik Anda. Semua akan indah pada waktunya. Teruslah berjuang.

  4. Dari taun ke taun, ISI makin bobrok aja…sedih senang padu padan

  5. JANGAN GUNAKAN KATA-KATA KEILMUAN KALAU KITA TIDAK TAHU DIRI KITA SENDIRI..INDONESIA BANYAK ORANG KOMENTAR TAPI TIDAK MENGERTI YANG DIKOMENTARI.

  6. OJO ADIGUNG ADI GUNA

  7. mau debat apa anda

  8. anda mau debat apa..komen seenaknya saja…

  9. Mungkin bung Anonymous bisa menjelaskan pertanyaan debat dan komen seenaknya ini ditujukan kepada siapa? Mungkin dari sini kita bisa bergerak pada diskusi yang lebih mendalam dan bermanfaat. Salam…

1 Trackback / Pingback

  1. Menyikapi Kasus Citra ISI, Menengok Administrasi Kampus – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: