Kabar Terkini

Berpikir Sistem dalam Organisasi Seni


Sistem seringkali dilihat sebagai bentuk yang salah dalam organisasi. Mendengar kata sistem, sering kita merujuk secara tidak sengaja pada sebuah komponen teknologi informasi dalam sebuah organisasi. Atau lain lagi, kita sering salah kaprah dalam melihat sistem sebagai sebuah rentetan aksi yang mengikat pelaku di dalam organisasi. Ya, sistem pun sebagai sebuah kata mengalami peyorasi. Namun sesungguhnya saatnya kini seni sungguh merangkul cara berpikir sistem atau yang biasa disebut systems thinking.

Nyatanya dalam organisasi dan manajemen tidak terlepas dari sistem. Dalam Paradigma Sistem yang berlaku dalam administrasi bisnis, organisasi dipandang sebagai sebuah sistem di mana terdapat dua elemen yakni “input” dan “output”. Dan juga “proses” yang mampu mengubah “input” menjadi “output” yang diinginkan. Lewat ketiga hal ini, pelaku mampu melihat secara keseluruhan apa saja yang menjadi input sebuah organisasi akan pula mempengaruhi bagaimana output yang ingin dihasilkan.

Input maupun output memiliki peranan yang sentral dalam sebuah organisasi karena lewat input maupun output inilah sebuah organisasi seni bersentuhan dengan dunia eksternalnya dan tentunya mempengaruhi bagaimana organisasi seni tersebut dipandang oleh masyarakat umum. Tidak jarang organisasi seni seringkali dihakimi keberhasilan ataupun tidaknya melalui output yang ia hasilkan.

Meski demikian kontrol sebuah organisasi atas input maupun output tidak pernah paripurna. Keduanya menjadi sebuah elemen eksternal yang tidak dapat dikendalikan. Oleh karenanya, pemikiran sistem mengenalkan “proses” sebagai sebuah aktivitas yang mampu dikendalikan secara penuh oleh organisasi yang mampu mengubah input menjadi output. Dalam sebuah pementasan teater contohnya, apabila ingin mendapatkan output akting yang baik, seringkali pemikiran langsung tertuju pada bagaimana mendapatkan input aktor yang terbaik pula. Namun pemikiran sistem mengenalkan proses yang dapat dirancang untuk mampu menghubungkan input dan output tersebut. Salah satu proses yang dapat diambil adalah proses audisi yang mampu menyaring yang baik dari yang kurang baik, ataupun organisasi dapat mengenalkan proses training camp sebagai salah satu pilihan untuk menyelak hasil dari keseluruhan sistem dan mengembangkan output sesuai dengan keinginan manajemen dan organisasi.

Yang menarik dalam pemikiran sistem adalah sebuah organisasi dapat diteliti dengan mendalam melalui pemahaman bahwa systems terdiri dari serangkaian sub-sistem yang masing-masing memiliki input maupun output, baik yang digunakan oleh proses sub-sistem lainnya, maupun yang kemudian menjadi excess/limbah. Limbah ini pun secara sengaja maupun tidak sengaja dapat mempengaruhi subsistem lainnya sehingga tidak berjalan sesuai tujuan di awal. Setiap subsistem ini kemudian saling berkait satu dengan yang lainnya. Inilah yang membedakan pemikiran sistemik dengan pemikiran proses yang berpikir sebagai sebuah garis lurus (lihat diagram Event oriented thinking di bawah) Dengan seperti ini, pemikir tetap mampu melihat keseluruhan sistem secara holistik namun tetap mampu melihat kedalaman secara partikular.

Kontrol dalam sebuah organisasi adalah sejauh mana pemikiran sistem ini mampu diterapkan, terlebih dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang ada. Pemikiran sistem menjadi penting terlebih dalam organisasi seni terlebih dikarenakan organisasi seni harus menjawab permasalahan yang ada, dikarenakan organisasi seni memiliki model yang berbeda pula dengan organisasi komersial lain yang berbasis manufaktur.

Salah satunya adalah permasalahan wabah Baumol yang dipercayai menjangkiti seni pertunjukan. Wabah Baumol adalah sebuah permasalahan yang menyangkut ongkos dalam memproduksi suatu barang yang diajukan oleh William J. Baumol and William G. Bowen di dekade 1960-an. Menurut penelitian mereka, seni pertunjukan terjangkiti sebuah wabah yakni tidak terjadinya penyusutan ongkos produksi dalam seni pertunjukan. Dalam musik misalnya, ongkos pementasan simfoni Mahler di tahun 1916 akan sama dengan atau bahkan lebih murah dari ongkos pementasan simfoni yang sama di tahun 2016 ini. Seni pertunjukan tidak mengalami penyusutan ongkos dan tidak merasakan efek industrialisasi dan otomatisasi yang dirasakan banyak sektor manufaktur, seperti penggunaan teknologi untuk pembuatan berbagai produk sehingga ongkos produksinya lebih murah. Di sisi lain upah seniman dan musisi terus meningkat.

Namun demikian, pemikiran Baumol di satu sisi dapat dijawab dengan kemampuan berpikir sistem. Hanya dengan melihat ongkos produksi para pemain, sesungguhnya wabah Baumol ini dapat ditangkal dengan pemikiran sistemik yang lebih mendalam. Dengan mampu menggarap sebuah pertunjukan dalam bentuk subsistem, organisasi mampu melihat ongkos-ongkos mana saja yang dapat ditangkal, ataupun dilakukan efisiensi. Pengenalan sistem baru maupun perlakuan baru pun mampu menjawab permasalahan tersebut sehingga mengurangi ongkos secara keseluruhan.

Contoh dengan melihat box office sebagai salah satu sistem yang mampu dioptimasikan lewat layanan penjualan online, maupun swalayan yang mampu memotong beban ongkos pegawai. Cara lain adalah mungkin dengan meningkatkan pelatihan sukarelawan sehingga mampu menggantikan peran para pegawai tetap untuk peran-peran seperti penerima tamu dan lainnya. Namun di sisi lain dapat pula dilihat dampaknya, seperti pengurangan karyawan yang berpengaruh pada kepuasan kerja karyawan, di sisi lain peran bagian pengembangan audiens dan masyarakat menjadi penting dikarenakan adanya ketergantungan operasional pada sukarelawan. Tapi di satu sisi aktivitas ini mampu menurunkan pengeluaran organisasi misalnya. Pemikiran seperti ini pun mampu untuk menjawab persoalan-persoalan lain baik lewat modifikasi sistem dan subsistem yang ada.

Secara umum, pemikiran sistem adalah pemikiran yang perlu dikembangkan dalam memandang organisasi seni. Jawaban akan dapat dikembangkan apabila sistem dan subsistem dalam sebuah organisasi dipilah secara seksama untuk ditingkatkan baik dari sisi efektivitas maupun efisiensi.

Sudahkah kita berpikir sistemik? Jangan kalah dari profesional IT yang terlatih sebagai pemikir sistem.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: