Kabar Terkini

Menyikapi Kasus Citra ISI, Menengok Administrasi Kampus


Kisah Dr. Citra Aryandari dan perseteruannya dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berbuah diskusi yang ramai (baca berita di sini). Namun menimbulkan sebuah tanda tanya yang cukup besar tentang proses administrasi di lingkungan perguruan tinggi negeri seperti ISI Jogja ini.

Menarik bagaimana perseteruan di ISI dibawakan dahulu ke taraf rektorat untuk diselesaikan. Namun menurut berita di Kompas.com, keputusan rektorat untuk mendukung mosi Dr. Citra Aryandari tidak disepakati oleh level fakultas sehingga dekanat put tidak mengambil langkah untuk meratifikasi keputusan tingkat rektorat. Menarik apabila melihat bagaimana relasi kekuasaan terbentuk dalam organisasi ini dan kebijakan internal kepegawaian dalam institusi ini masih perlu dimatangkan lebih lanjut. Juga perlu dicermati bagaimana langkanya institusi pendidikan tinggi yang mengkaji seni pertunjukan juga berperan dalam memperumit permasalahan ini.

Fakultas di banyak perguruan tinggi negeri memang memiliki jurisdiksinya tersendiri dan seringkali bertindak secara independen dan menentukan kebijakannya secara tersendiri, termasuk dalam kepegawaian. Dalam ranah ini, perlu dikaji lebih lanjut bagaimana proses kepegawaian dan relasi subordinat antara universitas dan fakultas serta batasan kebijakan itu berada. Seperti di banyak perguruan tinggi negeri, fakultas memiliki sistemnya sendiri untuk menentukan jadwal mengajar, proses seleksi khusus, dukungan ruang lingkup penelitian maupun fasilitas yang diterima dosen. Tidak sedikit renumerasi dosen pun ditentukan oleh fakultas untuk kemudian dibayarkan dan dioperasikan oleh rektorat universitas tingkat pusat. Di sini banyak peran universitas hanya sebagai eksekutor dari kebijakan fakultas dan pencatat administrasi, bukan pengambil kebijakan yang dominan. Hal ini berujung pada seberapa efektifkah langkah Dr. Citra Aryandari mengangkat masalah ini ke level rektorat, karena bisa jadi kasus ini adalah sepenuhnya ranah fakultas yang tidak banyak bisa dicampuri level universitas sekalipun.

Proses rekrutmen pun harus dicermati. Di banyak perguruan tinggi negeri seperti ISI, proses seleksi dosen merupakan sebuah kerjasama level fakultas dan universitas. Universitas lebih banyak berperan dalam proses seleksi administratif kepegawaian dan bahkan proses pencalonan kepegawaian negeri sipil serta kriteria-kriteria yang terlibat di dalamnya. Di level fakultas, proses rekrutmen umumnya berdasar pada proses kompetensi sang dosen, lingkup keilmuannya dan spesialisasinya. Ketersediaan waktu dan tenaga serta beragam tujuan pendidikan maupun riset menjadi fokus dalam menentukan jadwal, penentuan mata kuliah, pendampingan akademis maupun fasilitas riset di kampus. Citra Aryandari2

Kasus Dr. Citra Aryandari mengangkat bagaimana proses seleksi di tingkat fakultas berlangsung. Seberapa jauh pendekatan akademis dan bahkan kewacanaan yang diyakini oleh calon dosen berperan sebagai penentu dalam diterima atau tidaknya seseorang. Ruang lingkup pendekatan akademis dan kewacanaan sebenarnya berperan penting dalam menentukan subyek riset sang dosen di institusi tersebut, juga mata kuliah yang kemudian akan disampaikan serta pendekatan akademis seperti apa yang diberikan ketika membimbing mahasiswa. Di banyak perguruan tinggi di luar negeri, dosen permanen tidak hanya berperan sebagai pengajar tapi juga berperan sebagai peneliti di universitas tersebut dan berhak menentukan subyek penelitiannya sendiri termasuk wacana yang diambilnya. Wacana dan ruang penelitian tersebut yang kemudian menjadi magnet jurusan dan fakultas di mata peserta didik, terlebih mereka yang mengejar pendidikan S2 dan S3. Subyek itu pula yang kemudian menentukan kualitas penelitian dan kinerja sang dosen dalam mengangkat keilmuan tersebut di fakultas tempat ia bekerja.

Karenanya patut disorot pula bagaimana seorang dosen dalam perguruan tinggi seperti ISI diseleksi dan diangkat. Apabila wacana keilmuan seorang calon dosen tidak sejalan dengan visi dan misi fakultas, mengapa repot-repot mengangkat dosen tersebut sebagai seorang dosen permanen di jurusan tersebut terlebih apabila wacana keilmuan tidak cocok dengan visi fakutlas. Perlu dicatat, wacana keilmuan dan pendekatan akademis adalah suatu hal yang periferal yang dapat diangkat hanya melalui diskusi bahkan membaca publikasi calon tersebut. Apabila ada spesialisasi calon dosen tersebut dirasa kuat dan dibutuhkan namun tidak sejalan dengan arahan penelitian akademis kampus yang sudah berjalan, secara sederhana calon dosen tersebut dapat dijadikan seorang dosen tamu honorer yang mengajar 1-2 mata kuliah. Dalam hal ini perlu dikatakan bahwa apapun kebijakan kepegawaian dan akademis di FSP ISI, saat ini mereka telah kecolongan dalam proses seleksi dosen karena tidak menimbang calon dosen secara mendalam.

Menurut website isi.ac.id tanggal 5 April ini, menarik melihat jajaran dosen di program Etnomusikologi FSP ISI Yogya. Dr. Citra Aryandari adalah satu-satunya dosen dengan kualifikasi doktoral di program tersebut. Dalam sebuah program diwajibkan untuk memiliki dosen dengan kualifikasi S3. Bagaimanapun kualifikasi Dr. Citra Aryandari ini tentunya berpengaruh dalam proses tawarnya di jurusan tersebut.

Citra sendiri telah masuk lingkup akademis ISI di tahun 2006 sebelum ia menamatkan pendidikan S2-nya di bidang psikologi pendidikan tahun 2009. Ia pun menamatkan S3-nya di tahun 2012, 6 tahun setelah ia mengajar di ISI. Dapat terlihat bahwa lingkup spesialisasi akademis dan keilmuan tidak sepenuhnya berperan dalam proses rekrutmen dosen ketika ia memulai karirnya sebagai dosen. Namun kini setelah ia memantapkan pendekatan akademisnya lewat pendidikan S2 dan S3-nya, barulah hal tersebut menjadi sebuah permasalahan yang diangkat oleh FSP yang memiliki visi yang berbeda, padahal dengan kualifikasinya Citra sendiri sebenarnya berperan dalam menentukan visi akademis etnomusikologi karena ia adalah satu-satunya doktorat di jurusan itu. Sedikit masukan dalam kondisi sperti ini adalah pentingnya peran senat akademik (yang diisi oleh para guru besar) tingkat universitas yang paling tepat untuk turun tangan memecahkan persoalan ini.

Melihat permasalahan kasus yang dipaparkan sebagai permasalahan diskursus akademis, secara sistemik dapat terlihat bagaimana minimnya perguruan tinggi yang mengkaji seni pertunjukan memiliki andil yang perlu dikaji lebih jauh. Sedikitnya perguruan tinggi yang menggarap seni pertunjukan sedikit banyak berpengaruh pada bagaimana lini akademik di Indonesia terbentuk. Di satu pihak, organisasi berlomba-lomba untuk mencari doktor S3 untuk mengisi jajaran pendidiknya yang dahulu under-qualified (di mata Dirjen Pendidikan Tinggi) tapi di lain pihak dengan sedikitnya organisasi yang mengkaji seni pertunjukan, sedikit pula lapangan pekerjaan bagi para lulusan S3 ini untuk beralih sehingga pekerjaan di satu institusi bagaikan oase di padang gurun.

Menarik apabila mencermati negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat, di mana S3 melimpah dan fakultas pun dapat menyeleksi S3 ini dengan lebih seksama, mempekerjakan mereka sebagai dosen honorer paruh waktu sebelum diberikan jabatan dosen tetap. Dan ketika mereka masuk, masing-masing sudah terlebih dahulu harus memegang kualifikasi S2 maupun S3 sehingga misi dan visi akademik dan pembentukan wacananya dapat ditelusuri. Di sisi lain publikasi menjadi salah satu alasan rekrutmen yang dilakukan oleh sebuah institusi sebagai bentuk rekam jejak.

Masih banyak kisi lain yang dapat dibahas. Ramai dan sulitnya kasus ini, adalah salah satu cermin bagaimana institusi pendidikan tinggi kita masih perlu banyak berbenah.

~Update terkini (14/4) Jawaban dari Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI lewat konferensi pers.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: