Kabar Terkini

Konservasi: Baru atau Lama?


Conservation is not an event but a process, the start of a cycle of development rather than (or as well as) an attempt to arrest the march of time. The mere fact of preservation, even if it is intended to do no more than stabilize, necessarily involves a whole series of innovations, if only to arrest the ‘pleasing decay’. What may begin as a rescue operation, designed to preserve the relics of the past, passes by degree into a work of restoration in which a new environment has to be fabricated in order to turn fragments into a meaningful whole.

~R. Smith 1994:303

Memandang konservasi memang sebagai suatu hal yang menarik. Raphael Samuel seorang sejarawan asal Inggris dalam bukunya Theatres of Memory (1994) menulis lebih mendalam soal peranan peninggalan sejarah (heritage) terutama yang kini semakin dihubungkan dengan masyarakat luas, baik lewat museum, galeri dan bahkan gedung pertunjukan. Hal ini semakin menunjukan proses demokratisasi dari peninggalan sejarah ini, peninggalan sejarah menjadi sebuah proses sosial, sedemikian juga proses konservasinya.

Hingga kini kita pun semakin menyadari keberadaan peninggalan tak benda seperti musik, seni pertunjukan, tradisi lisan, ritual, kepercayaan, adat dan perilaku masyarakat itu juga adalah sebuah bentuk peninggalan sejarah. Nyatanya dalam konservasi juga terdapat sebuah peran aktif membangun sesuatu yang baru. Proses sosial, sebagaimana kondisi sosial itu sendiri, selalu berubah dan bergerak. Pertanyaan kemudian apakah lingkungan yang harus diubah demi terpeliharanya peninggalan sejarah atau apabila kita baca sebagai ‘musik’, ataukah kemudian mengubah bentuk ‘musik’ agar cocok dengan masyarakat yang bersedia memeliharanya dan menemukan makna baru di dalam ‘musik’ tersebut.

Bagaimana menurut Anda?

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: