Kabar Terkini

Pangeran Abad 20, Alan Gilbert bersama LSO


Minggu ini menandai debut direktur musik New York Philharmonic di hadapan London Symphony Orchestra. Sebagai konduktor tamu, Alan Gilbert sebagai seorang advokat musik abad-20 membawa penampilan yang luar biasa di konser malam ini di Barbican Centre.

Malam ini di bawah arahannya, London Symphony Orchestra menjadi sama sekali berbeda. Membawakan tiga karya dari komponis-komponis  yang diselesaikan di dua dekade awal abad lalu. Memimpin New Y0rk Philharmonic selama 8 tahun, tidak heran ia mendapatkan apresiasi yang luar biasa untuk menghidupkan musik-musik abad 20 dari berbagai institusi dan penghargaan mancanegara. Malam itu, semuanya terlihat jelas mengapa ia begitu berpengaruh. Malam ini tampil pula pianis Daniil Trifonov yang tampil memukau.

Naik panggung sebagai konduktor yang tidak terlampau populer, ia memantapkan diri sebagai interpreter yang diacungi jempol. London Symphony Orchestra malam Jumat ini menjadi begitu cair dan lugas di bawah kepemimpinannya. Garapannya kuat dan mengena dan sekalipun tidak terasa kaku terbata-bata. Beberapa kali melihat LSO di bawah pimpinan direktur musiknya sendiri Valery Gergiev di beberapa kesempatan, LSO terlihat emosional, berat dan cenderung kasar, hari ini orkestra ini terasa lancar, ringan tapi sangat ekspresif.

Karya Jean Sibelius, En Saga Op.9 membuka dengan kehangatan dan warna tiup kayu yang dominan, orkestra berbaur membangun harmoni selapis demi selapis hingga akhirnya membuih dengan indah. ‘En Saga’ yang berarti ‘sebuah kisah’ dalam bahasa Finlandia adalah sebuah symphonic poem, sebuah bentuk komposisi simfonik yang terinspirasi oleh pengalaman ekstramusikal yang secara menarik tidak disebutkan pula oleh Sibelius. Hal ini menuntut pemain untuk kemudian menerjemahkan karya yang ditulis tahun 1892 dan direvisi tahun 1902 ini secara bebas yang secara halus dan meyakinkan dibawakan oleh LSO malam itu.

Daniil Trifonov, pianis belia berusia 25 tahun yang kini sudah malang melintang dari panggung ke panggung dunia membawakan salah satu konserto dari komponis Rusia andalannya Sergei Prokofiev. Permainannya kali ini mencengangkan, berbeda dengan pengalaman penulis 3 tahun lalu ketika ia membawakan Piano Concerto no.3 bersama orkestra yang sama di bawah arahan Gergiev. Kali ini membawakan Piano Concerto no.2, ia terlihat begitu matang dan terlihat lebih seksama menggarap musik yang menantang secara teknis ini. Namun demikian, ia begitu tanggap terhadap detail musikal yang diberikan oleh Prokofiev tetapi dengan santai bercengkrama dan bermitra dengan orkestra. Kini, latar belakang musik kamarnya sungguh terasa dan relasi musikalnya pun terasa hangat. Orkestra pun bersama Gilbert terlihat tanggap mendukung maupun didukung permainan Trifonov yang cemerlang.

London Symphony Alan Gilbert 3

Pemuncak konser ini adalah karya komponis sebangsa Sibelius, Carl Nielsen yang tahun lalu dirayakan ulang tahun ke-150. Komposisi empat bagian ini menjadi etalase bagaimana kerja sama Gilbert dan seluruh orkestra yang begitu apik dan bagaimana warna orkestra begitu hangat dan padu. Fluiditas menjadi salah satu kekuatan orkestra ini, namun baru kali ini penulis menyaksikan bagaimana fluiditas ini menjadi begitu berharga dalam ekspresi mereka. LSO dikenal sebagai orkestra yang Spartan, keras kepala dan memiliki karakternya sendiri yang berbeda di hadapan orkestra kota London lainnya. Namun entah bagaimana di tangan Gilbert, meski di awal terlihat garis-garis sisa kegarangannya, perlahan tampak bagaimana Gilbert mampu menjinakkan tenaga yang luar biasa dari orkestra ini. Presisi dan ketepatan saat menjadi terutama dalam interpretasi karya Nielsen Symphony No.4 Op.29 (‘The Inextinguishable’) ini. Terbalut dalam balutan sutra yang halus dan tebal, permukaannya yang kasar tidak lagi terasa. Terlihat presisi akademis dalam karya namun didaktika sama sekali tidak pernah mendominasi penyampaiannya, interaksi antar pemain pun terasa nyata.

Pengalaman malam ini sungguh indah, tidak alang teriakan ‘Bravo!’ membahana di antara para penonton malam itu. Debut Alan Gilbert nampaknya kesan tersendiri bagi publik London, tidak heran New York Philharmonic memilihnya terlebih melihat bagaimana ia mampu mengubah warna London Symphony Orchestra dan menyajikan musik terbaik. Luar biasa…

London Symphony Alan Gilbert 1

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: