Kabar Terkini

Aroma Barok dari Jepang


Gaya musik barok bukan hanya monopoli ensembel Eropa. Warna musiknya yang khas dan kebangkitan interpretasi baru tapi lama dalam garapan instrumen kuno juga belum genap 70 tahun bergeliat di Eropa. Dan semalam di residen Barbican Centre selama tanggal 8-9 April ini, menjadi buktinya.

Tiga konser dan satu lokakarya selama dua hari, konduktor Masaaki Suzuki bersama kelompoknya Bach Collegium Japan malam Minggu ini tampil di gedung konser utama untuk menutup rangkaian residensi mereka tahun ini dengan sajian yang cukup berani dan menampilkan musik  Johann Sebastian Bach yang sangat familiar di telinga.

Orchestral Suite No.3 dalam D mayor, BWV 1068 menjadi sajian pembuka malam itu. Konser dibuka dengan karya orkestra dipimpin oleh Masaaki sendiri sebagai konduktor. Orchestral Suite yang dikenal lewat karya Air on G String-nya yang ternama ini, merupakan salah satu yang paling familiar di telinga pecinta klasik. Lalu kemudian dilanjutkan dengan permainan biola Ryo Terakado dan Yukie Yamaguchi diiringi oleh orkes dalam format kecil dan membawakan Concerto untuk Dua Biolin dalam D minor, BWV 1043.Belum lagi di babak kedua dibuka dengan Cantata ‘Bekennen will ich seinen Namen’ BWV200, lalu dilanjutkan dengan salah satu karyanya paduan suara Bach yang signifikan, Magnificat in D Major, BWV243.Bach Collegium japan Masaaki Suzuki1

Pilihan repertoar ini menunjukkan seberapa ensembel ini begitu percaya diri unjuk kefasihan mereka menggarap karya barok dengan pendekatan bak musisi Eropa. Didukung sekitar 6 orang pemain barat, orkestra berjumlah sekitar 22 orang ini memang menunjukkan kaliber mereka.Begitu juga dengan paduan suara yang berjumlah 19 orang ini.Karya-karya yang dipilih ini begitu transparan dan begitu familiar di telinga, terlebih bagi publik Inggris yang lekat dengan gerakan praktek instrumen kuno dan berpaduan suara. Sesekali seperti pada konserto Suzuki sendiri yang diduduk di depan memimpin sebari memainkan harpsichord.

Didirikan tahun 1990, kelompok ini adalah ensembel musik kuno yang berkonsentrasi pada karya Barok pertama di Jepang. Suzuki melakukan ini setelah ia menamatkan pendidikan musik kuno Eropa di Belanda dengan raksasa Ton Koopman. Di Jepang, pada awalnya mereka dianggap aneh karena pada saat itu, merupakan sebuah hal yang tidak biasa mendapati ensembel musik kuno. Di Eropa, mereka pun dianggap sebelah mata karena pendekatan musik barok tidaklah mudah dan tentunya dipertanyakan bagaimana mungkin pemain-pemain Asia mampu memainkan gaya musik Eropa yang khas dan bahkan tidak tentu dapat dimainkan dengan sah oleh pemain Eropa sendiri.

Namun di tahun 1995 sebagaimana malam ini, mereka mematahkan anggapan chauvinistik itu. Memainkan instrumen kuno, ensembel ini memiliki pendekatan yang musikal dan presisi. Permainan pun selalu terlihat hidup dan bergairah, membangun struktur karya selapis demi selapis lewat suara yang tergarap dan indah. Ornamentasi pun memberi geliat kehidupan yang berbeda dari interpretasi kelompok lainnya.

Sungguh kelompok ini adalah kelompok yang dewasa dalam permainan musik Bach. Ketika banyak kelompok Eropa kini semakin menekankan pendekatan ritmis dalam interpretasi musik, Suzuki dan BCJ mampu menemukan titik impasnya menjadikan interpretasi mereka mulus dan berlimpah. Keseimbangan antara garis vertikal dan horizontal musik pun terjaga, menjalin lantunan melodi yang membuai juga sembari memperhatikan alur ritmis yang gegap.

Paduan suara pun tampil dengan hidup. Lima orang solois diketengahkan untuk membawakan karya Magnificat ini: soprano Rachel Nicholls dan Joanne Lunn, kontratenor Robin Blace, tenor Colin Balzer dan Dominik Wörner tampil dengan mengesankan. Kecermatan dalam intonasi dan presisi dari paduan suara juga tanpa cacat sehingga mampu menaklukkan auditorium berkapasitas 1943 orang ini yang malam kemarin juga dipadati banyak penonton berkebangsaan Jepang. Setiap kata dituturkan dengan jelas dan tanggap, sedang Masaaki sendiri mampu menggalang kerjasama antara orkestra dan paduan suara dengan santun namun menuntut.

Harus dikatakan bahwa menaklukan akustik Barbican Hall yang besar dengan instrumen kuno tidak mudah, namun semalam dengan musik yang atentif dan terfokus, penulis bisa langsung membayangkan bagaimana ensembel ini berinteraksi dengan ruang dan elemen gaung gereja barok yang kaya, bukti keabsahan dan imajinasi musikal kelompok ini yang mampu mengadaptasi permainan mereka untuk ruang Barbican yang cenderung kering ini.

Instrumen kuno dan praktek pertunjukannya memang baru dibangkitkan kembali, namun dengan ketekunan ternyata semua mampu ditaklukkan oleh siapapun, apapun kebangsaannya. Ini adalah bukti bahwa pemahaman akan idiom musik menjadi kunci, musik bukanlah monopoli bangsa atau ras tertentu saja. Bach Collegium Japan membuktikannya, dan tentunya dengan kualitas mereka kini mereka bukan hanya diakui di Jepang, tapi di penjuru Eropa dan Amerika.Bach Collegium Japan Masaaki Suzuki 2

 

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: