Kabar Terkini

Malam Opera dari Korea


Siapa bilang musik Korea hanya K-pop saja? Jumat, 8 April 2016, empat musisi asal Korea membuktikan bahwa bangsa Korea juga dapat mementaskan karya-karya opera dengan sama bagusnya. Kyoung-eun Lee (soprano), Jeong-kyu Kim (tenor), Pietro Kyung-ho Kil (bariton), dan Sung-keun Kim (pianis) mempergelarkan Concert of Korean Singers yang diadakan oleh Yayasan Musicorum. Malam itu, lieder dan terutama aria-aria opera memanjakan telinga para pecinta musik vokal di Goethe Haus. Ibarat makan di restoran kelas satu, semua hidangan baik hidangan pembuka, hidangan utama, maupun hidangan penutup disajikan apik. Jumlah hidangan yang sangat banyak pun—22 nomor—tidak lantas membuat penonton menjadi terlampau kenyang, malah mungkin kurang.

Malam itu, penampilan pianis muda Sung-keun Kim patut diacungi jempol. Pianis jebolan Chonnam National University itu tampil tenang sepanjang konser, mampu menjaga fokus untuk mengiringi lebih dari dua puluh lagu. Soprano Kyoung-eun Lee juga harus diberi kredit khusus, karena sebagai penampil terbanyak—13 lagu—mampu menjaga kualitas penampilannya sampai akhir, terlepas dari beberapa kekurangan kecil. Tenor Jeong-kyu Kim dengan kepekaan dan kontrol dinamik yang luar biasa membuat penampilannya dapat disandingkan dengan tenor-tenor kenamaan dunia. Tapi dari semuanya, sepertinya penampilan bariton Kyung-ho Kil yang paling kokoh. Meski hanya tampil di empat nomor, keempatnya dibawakan dengan karakter yang kuat. Melihat penampilan Kyung-ho yang selalu total dalam menghayati peran, sangat sulit untuk tidak jatuh hati kepadanya.

 

Konser malam itu dibuka oleh Kyoung-eun dengan Where’er You Walk, aria dari opera Semele karya Handel. Selanjutnya, empat lagu karya Tosti: A vucchella, Ideale, Sogno, dan Non t’amo piu berturut-turut dinyanyikan Jeong-kyu dan Kyoung-eun. Setelah itu, barulah Kyung-ho tampil menyanyikan Die beiden Grenadiere karya Schumann.

Kyung-ho Kil

Kyung-ho Kil membawakan Die beiden Grenadiere

Nuansa opera mulai terasa saat Jeong-kyu membawakan Dein ist mein ganzes Herz karya Lehár. Proyeksi dan kontrol suara yang baik menjadi andalan tenor yang satu ini, begitu juga di nomor-nomor lainnya.

Jeong-kyu Kim

Kyung-ho Kil membawakan Die beiden Grenadiere

Kyoung-eun kembali ke atas panggung untuk menyanyikan dua lieder karya Richard Strauss, Breit’ über mein Haupt dan Zueignung. Sepertinya Kyoung-eun tampak sedikit kurang fit, membuat penampilannya menjadi kurang maksimal. Selanjutnya, Jeong-kyu membawakan Il lamento di Federico dari opera L’arlesiana karya Cilea. Keluh kesah Federico yang galau akibat cinta cukup mengaduk-aduk emosi penonton. Babak pertama ditutup dengan Kyoung-eun membawakan recitative dan aria Selva Opaca dari opera Guillaume Tell karya Rossini. Kyoung-eun berusaha tampil maksimal dengan berakting juga, sayang ia kadang masih terpaku pada partitur di atas panggung, membuat penampilannya kurang total karena masih diselingi membalik halaman dan melirik ke arah partitur.

Kyoung-eun Lee

Babak kedua diawali dengan dua lagu Korea, Song of Loom dan New Arirang yang dibawakan Kyoung-eun dengan baik sekali. Khusus untuk New Arirang, ada sesuatu entah apa yang membuatnya spesial; seperti ada kerinduan di sana, rindu akan sebuah tempat yang bahkan belum pernah kita singgahi sebelumnya.

Kyung-ho Kil

Kemudian penonton dibawa ke tanah kelahiran opera: Italia. Aksi komikal Kyung-ho membawakan Si può dari opera I Pagliacci karya Leoncavallo langsung mendapat sambutan meriah dari penonton. Selanjutnya giliran tenor Jeong-kyu membawakan karya Puccini, Addio fiorito asil dari opera Madame Butterfly. Sedikit keluar dari Italia, Kyoung-eun menyanyikan Porgi amor dan Dove sono dari opera Le nozze di Figaro karya Mozart. Kembali ke Italia, Kyung-ho kembali merebut hati penonton lewat penampilan ekspresifnya membawakan Nemico della patria dari opera Andrea Chénier karya Umberto Giordano. Kyoung-eun dapat menjaga tensi pertunjukan dengan penampilan gemilangnya membawakan Tacea la notte placida dari opera Il trovatore karya Verdi, disusul Jeong-kyu yang sama gemilangnya membawakan Nessun dorma dari opera Turandot karya Puccini. Sedikit memberi napas kepada penonton, Kyoung-eun dan Kyung-ho saling mengutarakan cinta sambil berdansa dalam tembang manis Lippen schweigen karya Lehár.

Malam itu dipungkasi Jeong-kyu dan Kyoung-eun dengan membawakan Brindisi dari La traviata karya Verdi. Sayang, stamina dan konsentrasi mereka sepertinya agak sedikit kedodoran. Namun hal tersebut tidak membuat penonton urung meminta tambahan. Sebagai hidangan penutup, seluruh penampil kembali tampil di atas panggung membawakan O sole mio. Dengan hadirnya Kyung-ho di atas panggung, atmosfer pertunjukan menjadi hidup kembali, sampai akhirnya hampir seluruh penonton ikut menyanyikan lagu tersebut bersama-sama.

Concert of Korean Singers

Melihat wajah-wajah penonton yang keluar dari auditorium dengan senyum puas, dapat dikatakan pertunjukan malam itu sukses membawa kebahagiaan bagi penonton. Mungkin suatu saat nanti Yayasan Musicorum akan mengundang mereka lagi, dengan program art song Korea disandingkan dengan tembang puitik Indonesia? Tentu akan menjadi peristiwa kebudayaan yang menarik sekali seandainya bisa terjadi. Semoga. (tim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: