Kabar Terkini

Masam Manis Musik untuk Kehidupan


Buah lemon kuning yang tergambar besar di sampul buku mungkin menjadi penanda bagaimana kecut rasa buku akan menampar, pula menyegarkan pembacanya. Berisi kumpulan buah pemikiran musikolog yang bermukim di Jogja, ‘Musik untuk Kehidupan’ menjadi buah tangan yang menarik untuk dicermati.

Musik untuk kehidupan dan musik untuk penghidupan, mungkin inilah inti utama dari buku yang dituliskan oleh Erie Setiawan dan diterbitkan di paruh pertama tahun 2016 ini. Tulisannya berkisar dari pemikiran dan buah pergulatannya mencermati dunia musik yang ia rintis hampir selama 10 tahun terakhir. Buku kelima dari seri Short Music Service ini menjadi catatan pemikiran Direktur Pusat Informasi Musik Short Music Service ini sejak penghujung 2014 lalu hingga pembuka 2016 ini, beberapa di antaranya sempat diterbitkan di berbagai media massa nasional.

Dalam bahasanya yang santai namun juga terkadang filosofis bak empu-empu di Tanah Jawa, sederhana tapi juga rumit, setiap tulisan menjadi buah tangan bagi pembacanya. Namun lebih daripada itu meski ditulis dalam warna ringan dan terkadang menggelitik, ‘Musik untuk Kehidupan’ berkisah tentang sebuah perjuangan untuk mencari pemaknaan dan pemuliaan musik di antara arus industri yang bergelimang godaan dan rintangan. Mencari makna dalam musik berkualitas. Namun demikian, buku ini juga menjadi potret perjuangan para pemusik untuk bertahan dalam kehidupan industri dan kapitalisme, mencari kedalaman dalam setiap anekdot kehidupan. Erie Setiawan mengkritik kealpaan kaum kapitalis seni yang melupakan kualitas, namun juga mencari perdamaian bagi seniman yang berjuang di bawah bendera idealisme, dan penghargaan bagi mereka yang terus berkontribusi.

Tulisannya juga menjadi catatan kehidupan dan pengalamannya sendiri sebagai pemateri, pemangku diskusi dan juga manajer yang sibuk mengelola Art Music Today dan Kelompok Orkes Keroncong Agawe Sentosa. Selain itu, ia juga menunjukkan kepiawaiannya menulis topik yang serupa namun dalam pembahasaan yang berbeda, menjadi ajang intip bagi pemerhati musik ke dalam pemikirannya. Perhatiannya pada pemiskinan musik anak di Indonesia kini, kontaknya dengan pemangku legislatif dan juga sentuhan teknologi yang memperkaya tetapi juga memperkirakan musisi menjadi perhatiannya. Puisi pun ia lontarkan sebagai bentuk apresiasinya akan bahasa dan musik, sudut relasi yang tidak jarang terlupakan oleh pemulia keterampilan namun skeptis keilmuan.

Dalam keseluruhannya, di dalam buku ini terpampang bagaimana seorang Erie Setiawan menawarkan sebuah alternatif gaya hidup bagi para musisi yang cerdik menanggapi ideologi dan berdansa dengan geliat industri. Tanpa disadari, tulisan Erie adalah sebuah jawaban pragmatis untuk musik di Indonesia yang entah berjalan maju ataupun menemui jalan buntu. Baginya, ‘Musik untuk Kehidupan’ ataupun ‘Musik untuk Penghidupan’ tertumpu pada diskusi kualitas setiap karya maupun perorangan, sebuah ranah antah-berantah yang sepertinya juga enggan dijawabnya dengan gamblang dalam 202 halaman terbitan Art Music Today kali ini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Masam Manis Musik untuk Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: