Kabar Terkini

Terlalu Keras Kepala, Kisah Mundurnya Direktur Musik James Levine


Setelah 40 tahun menjadi Direktur Musik Metropolitan Opera New York, konduktor James Levine akhirnya mundur (di-PHK) juga. Pengunduran dirinya akan dipastikan akhir tahun ini, setelah perdebatan panjang. Bagi yang tidak mengikuti sirkuit dirigen di dunia opera, ini adalah akhir yang menyakitkan bagi seorang jenius seperti James Levine.

Mundurnya James Levine kali ini dapat dianggap sebagai sebuah PHK. Selama beberapa tahun, James Levine bersama agennya berusaha untuk mempertahankan posisi di Metropolitan Opera New York, salah satu perusahaan opera terbesar dan terbaik di dunia. Didera sakit yang berkepanjangan sejak insiden jatuhnya dari panggung di tahun 2006, diagnosa Parkinson yang mendera, James Levine keluar masuk rumah sakit, membatalkan banyak pertunjukan di Met Opera sehingga menyebabkan jadwal pertunjukan terganggu. Sebagai seorang direktur musik yang juga bertugas di sisi administrasi artistik, alpanya seorang direktur tentunya mempengaruhi rancangan artistik dan kemajuan salah satu kelompok opera paling dilirik di dunia ini. Dokter bolak-balik menyatakan ia sehat, namun berkali-kali pula ia dinyatakan tidak fit sehingga terpaksa membatalkan banyak pertunjukan.

Anne Midgette dari Washington Post mengatakan, ‘Kalau saja Levine mundur 5-10 tahun yang lalu [ketika ia masih dalam puncak kejayaannya], ia akan dikenal sebagai seorang pemimpin masa kejayaan opera di Amerika Serikat’. Tentu saja kepemimpinannya di panggung Metropolitan Opera selama lebih dari 40 tahun (terutama 30 tahun pertama sejak 1975) bukan berdasar pada kolusi atau nepotisme, namun memang karena kualitasnya yang luar biasa.

James Levine yang juga merupakan seorang pianis tangguh dan cemerlang adalah pembaharu Metropolitan Opera di sepanjang 1975-2006, yang berhasil mengangkat derajat dan kualitas Metropolitan Opera dari opera terbesar di AS hingga menjadi salah satu kelompok opera yang paling disegani di dunia. Di tangannya kualitas meningkat secara tajam, repertoire pun beragam dari opera populer seperti Carmen hingga opera-opera paling gres. Ia pun secara berdedikasi selama 30 tahun pertama memimpin lebih dari 2,500 pertunjukan di Metropolitan Opera, dengan tangannya mengangkat kualitas musikal raksasa ini. Ia selalu menyediakan waktu untuk bekerja bersama para vokalis dan memoles talenta. Ia pun berhasil mengangkat Metropolitan Opera melewati masa-masa kelam Nixon di mana peran pemerintah AS mensubsidi kegiatan seni diminimalisir.

Namun semenjak sakit, ia malahan kini dikenal sebagai seorang yang tidak dewasa. Pemahamannya akan keterbatasannya tidak mendorongnya untuk lebih mawas diri. Sebagai seorang pemimpin yang turun tangan langsung, di sela sakitnya ia tetap dengan kukuh mengambil peran yang cukup banyak dalam kegiatan produksi, namun sering kali berujung pada pembatalan pertunjukan, sebuah perilaku yang tentunya berpengaruh pada kondisi psikis seluruh organisasi. Walaupun dalam kondisi yang demikian, agennya pun berkeras untuk memperluas cakupan kerja dan tanggung jawab Levine, yang akhirnya tidak dapat dipenuhinya. Akhirnya dengan tindakan keras kepala seperti ini menyeret Metropolitan Opera dalam jurang ketidakjelasan artistik selama lebih dari 7 tahun. Metropolitan Opera tidak dapat memutus kontraknya, namun juga Levina tidak pula mundur untuk memberi ruang nafas bagi organisasi untuk berkembang tanpa dirinya yang tidak bisa hadir di sana. Akhirnya perlahan karena satu faktor ini dan beberapa faktor lainnya, Metropolitan Opera pun melorot. Padahal sejak krisis finansial tahun 2008, dukungan moral dan kehadiran direktur musik semakin penting dalam organisasi.

Namun kini nasi telah menjadi bubur, James Levine walaupun telah berjasa di masa lalu, kini dianggap sebagai seorang tua yang terlalu keras kepala untuk mawas diri dan memilih pensiun. Manajemen Met Opera bersama dewan pembinanya akhirnya memutuskan secara sepihak untuk perlahan melengserkan tokoh besar ini dan kemudian memberinya titel direktur musik emeritus walaupun tetap mempertahankan beberapa pertunjukan bersamanya. Namun, kini James Levine tidak lagi dikenal sebagai seorang raksasa yang membawa Metropolitan Opera ke kejayaannya. Ia dikenal sebagai seorang dirigen yang menyeret organisasi bersamanya, lewat absensinya selama lebih dari 7-8 tahun tampil on and off dari tanggung jawabnya sebagai direktur musik. Sungguh disayang.

Di lain pihak, di seberang Amerika, meskipun LA Lakers kini berada dalam posisi buncit klasemen Konferensi Barat NBA (basket), Kobe Bryant akhirnya pensiun dengan performa luar biasa di pertandingan profesional terakhir setelah berkarir 20 tahun dengan Lakers. Ia mencetak skor 60 poin dan membawa Lakers menang 101-96 melawan Utah Jazz dan tetap menjadi pemain dengan cetakan angka rata-rata terbanyak di tim dengan 17.1 per pertandingan. Meski posisi Lakers buruk sekali dan mungkin lebih buruk dari Met Opera, namun semua orang mengingatnya sebagai atlet yang undur di masa keemasannya.

~lebih baik mawas mundur dibandingkan dimundurkan

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: