Kabar Terkini

Gedung Kesenian Tanpa Visi? Curhat dari Dunia Teater


Di awal bulan ini, teaterdankota.org menerbitkan sebuah tulisan tentang tidak adanya proses kuratorial di dalam banyak gedung kesenian di kota Jakarta. Menurut redaksi Teaterdankota, Jakarta kini memiliki banyak ruang pertunjukan, beberapa di antaranya dibangun di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin di medio 1960-1970an, namun ternyata tidak memiliki visi kuratorial dalam menentukan arah artistik gedung pertunjukan, terlebih dengan pincangnya Unit Pelaksana Teknis yang mengambil alih gedung-gedung kesenian seperti TIM, GKJ, Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Wayang Orang Bharata di Jakarta. Kini, lingkungan fasilitas ini tanpa dilengkapi keahlian untuk mengelola sebuah organisasi seni pertunjukan, di tengah tantangan untuk tidak hanya berfungsi sebagai pengelola fasilitas gedung.

Pada dasarnya nyaris tidak ada pengelolaan gedung pertunjukan yang mandiri dalam pengertian seni di Jakarta saat ini. Konteks pengelolaan dalam hal ini adalah bagaimana gedung pertunjukan memiliki visi terhadap kuratorial, jadwal pementasan yang konsisten, program seni dan lain sebagainya…. Pengertian gedung teater atau pertunjukan yang ada di Jakarta lebih pada pengertian fisik semata sebagai sebuah fasilitas, yang tidak di topang oleh sebuah disiplin pengembangan kesenian yang lebih bersifat diskursif. Hal ini menyebabkan gedung kesenian di Jakarta saat ini lebih  ‘steril’ karena proses penggunaan gedung yang bisa di sebuah ‘sewa’ bagi para publik atau kelompok seni yang ingin menggunakannya.

Pertanyaannya kini adalah sejauh manakah itikad baik untuk membentuk gedung pertunjukan di Jakarta yang berfungsi sebagai ruang publik namun juga memiliki visi artistik yang jelas sehingga tercapai tujuan pengembangan seni pertunjukan? Di satu sisi betul, gedung pertunjukan juga dapat disewa, namun di sisi lain gedung-gedung pertunjukan ini juga perlu memiliki spesialisasi dan nilai tambah di mata para seniman yang nampaknya masih agak terbengkalai saat ini. Gedung kesenian yang dikelola UPT ternyata hanya lebih bertugas sebagai gedung pertunjukan, namun tanpa dilengkapi infrastruktur yang jelas. Di satu sisi itikad baik pemerintah untuk mengambil alih aset daerah adalah baik (dapat dilihat tulisan terdahulu di sini) namun harus dirunut pemikirannya hingga akhir, yakni membentuk lingkungan yang mendukung berseminya kegiatan kesenian dengan fasilitasi beragam aktivitas dengan jelas dan terarah.

Gedung Kesenian Mis Tjitjih

Ini adalah keluhan dari teman-teman teater, sebentar lagi Yayasan Klasikanan akan menerbitkan kajiannya untuk gedung pertunjukan musik di Jakarta. Jakarta dengan penduduk 8 juta orang tapi dengan 50 gedung di daftar Teaterdan kota yang bahkan apabila kita teliti sedikit sekali yang kini masih aktif digunakan sebagai gedung pertunjukan seni, apalagi dengan visi artistik dan kegiatan kuratorial yang jelas.

Lengkapnya, silakan baca di sini http://teaterdankota.org/peristiwa/gedung-gedung-kesenian-di-jakarta/

~inilah mengapa pentingnya manajemen seni pertunjukan dan kebijakan budaya di Jakarta

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: