Kabar Terkini

Adakah Perbedaan antara Musik Klasik dan Musik Rakyat?


~Oleh Anamy M. Paat. Ditulis berdasarkan karya John Blacking, Le sens musical, Paris, Les Éditions de Minuit, 1980 (terjemahan dari John Blacking, How musical is man?, Seattle and London, University of Washington Press, 1973)

Perbedaan antara musik klasik dan musik rakyat seringkali menjadi bahan diskusi dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pendidikan musik. Apabila ditinjau dari maknanya, menurut antropolog dan etnomusikolog John Blacking, semua musik adalah musik rakyat (baca : folk music), dalam arti bahwa musik tidak bermakna tanpa adanya hubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Namun demikian, pertanyaan berikut ini tetap muncul: “Adakah perbedaan antara musik klasik dan musik rakyat, ataukah sebaliknya, tidak adakah perbedaan alamiah yang tersirat dari kedua musik tersebut?”.

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengacu kepada John Blacking dan bukunya yang berjudul How musical is man? yang secara kebetulan saya pelajari saat saya mengikuti pendidikan di jurusan musikologi beberapa tahun silam di Université Paris 8, Prancis. Agar dapat memberikan suatu pandangan yang tidak terlalu ‘disederhanakan’ dan sedikit lebih mendalam tentang buku ini, kami berencana untuk mempublikasikan beberapa tulisan bersambung yang, tentu saja, keseluruhannya mengacu kepada buku John Blacking tersebut. Jadi, tulisan singkat pertama ini sesuai dengan bagian pengantar buku, dan akan membahas tentang runtuhnya prasangka tertentu yang menganggap musik Afrika sebagai sesuatu yang ‘berbeda’, walaupun sebenarnya kita tidak mengetahui apabila ada perbedaan alamiah antara musik rakyat Afrika dan musik klasik atau tidak.

Bermula dari kisah seorang musisi yang akhirnya menjadi antropolog profesional, John Blacking berhasil melihat awal dari kelahiran cabang bidang yang baru: antropologi musik. Baginya, How musical is man? merupakan suatu usaha untuk memperlihatkan berbagai hasil penelitiannya mengenai cara manusia bermusik dalam budaya yang berbeda-beda. Meskipun ia telah meneliti selama satu tahun di lapangan (baca: di Afrika Selatan), lebih tepatnya di dalam masyarakat suku Venda, ia tetap menganggap bahwa musik rakyat Afrika adalah sesuatu yang ‘lain’ dibandingkan dengan tradisi musik yang selama ini ia tekuni, yaitu musik yang telah ditulis oleh Bach, Chopin, atau Mozart untuk piano.

Rakyat suku Venda adalah orang-orang pertama yang berhasil meruntuhkan beberapa prasangka yang dimiliki oleh antropolog tersebut. Selama ini Blacking memaknai musik sebagaimana yang telah diajarkan kepadanya: ia mengerti bahwa musik adalah suatu sistem pengaturan suara-suara, dan di dalamnya, sejumlah akumulasi peraturan dan struktur suara yang diperbolehkan telah ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat Eropa. Setelah dua belas tahun meneliti suku Venda, Blacking memasuki dunia baru yang penuh dengan ekperimen musik dan juga pengertian yang lebih mendalam mengenai ‘musiknya sendiri’. Ia tidak menganggap bahwa pembedaan antara kata ‘folk music’ dan ‘musik klasik[1]’ merupakan suatu kebutuhan dasar dalam memaknai musik.

Tidak hanya itu, pembedaan antara kerumitan beragam gaya dan kemampuan bermusik tidak memberikan kita pengetahuan yang lebih berguna untuk mengekspresi musik, ataupun cara berpikir dalam proses kreatif bermusik. Musik terlalu menyentuh secara mendalam perasaan manusia dan praktik sosial, dan karena hal itu, strukturnya lahir dari suatu pemikiran yang tidak disadari sepenuhnya yang seringkali sulit untuk dikelompok-kelompokkan sesuai dengan peraturan tertentu. Dengan demikian, dari segi pandang struktur dan fungsi, semua musik adalah musik rakyat (baca : folk music). Musisi klasik tidak lebih peka atau lebih pandai secara alamiah dibandingkan dengan musisi rakyat karena struktur musik klasik – seperti halnya dalam musik Afrika – hanya merupakan ekspresi sistem-sistem yang jumlahnya lebih banyak, pertukaran pikiran antara manusia di masyarakatnya, dampak pembagian kerja yang lebih luas, dan kumpulan sejumlah tradisi kemampuan bermusik.

John Blacking, dengan demikian, tidak membenarkan adanya pembedaan alamiah antara musik klasik dan musik rakyat. Ia menyatakan bahwa literasi dan notasi musik merupakan, tentu saja, faktor penting yang dapat melahirkan suatu struktur musik yang lebih kompleks, namun penulisan dan notasi tersebut menampilkan perbedaan tingkat, bukan perbedaan alamiah yang tersirat dalam pembedaan musik rakyat dan musik klasik. Hal inilah yang menjadi ide yang ia bela dan ternyata dapat diterapkan pada sistem musik lain yang juga diteliti oleh etnomusikolog-etnomusikolog, terutama untuk musik ‘klasik’ Arab, India, Cina, Jepang dan Indonesia. Ia yakin bahwa pendekatan antropologis yang digunakan untuk meneliti tentang semua sistem-sistem musik akan memungkinkan kita untuk lebih memahami musik.

Jika aspek sosial dan alamiah musik dalam penelitian John Blacking dapat dipertemukan dan dibuktikan kebenarannya, secara menyeluruh ataupun tidak, penelitiannya mengenai musik suku Venda dapat memberi dampak dalam cara memaknai musik dan pada metode pendidikan musik. Pemikirannya juga dapat mendorong beberapa ide baru berkaitan dengan peran musik dalam pendidikan dan di masyarakat. Bagaimana musik dapat memegang peran penting dalam pendidikan? Di tulisan berikutnya, kami akan membahas tentang apa yang Blacking maksud dengan musik yang manusiawi.

[1] Folk music (musik rakyat) dan art music (musik seni).

2 Comments on Adakah Perbedaan antara Musik Klasik dan Musik Rakyat?

  1. tanya dong..
    1. di buku itu ditulis ga kenapa dia menelitinya musik suku Venda di Afsel?
    2. apakah hanya 1 itu yang dia teliti? kalau ya, apakah bisa digeneralisir?
    3. aku pengen tahu, gimana prosesnya beliau dalam menggeneralisir temuannya itu..
    thank you, Namy, Michael..

  2. Nah Nug, gw mencoba jawab pertanyaan nomor 2 dan 3 dulu ya.
    Persoalan yang dihadapi dunia musik saat ini adalah sebenarnya juga soal generalisir bahwa musik Barat lebih maju dan lebih unggul dibandingkan dengan musik etnik. Dalam tulisan Blacking ini dia tidak melakukan generalisasi, melainkan ia mengajukan sanggahan bahwa musik klasik Barat lebih maju dan ‘superior’. Tujuan yang ingin ia capai adalah sebuah emansipasi kekayaan budaya, bahwa mereka yang tinggal di pedalaman hutan tetap memiliki kekayaan budaya yang sama berharganya di mata kemanusiaan dengan kekayaan budaya mereka yang tinggal di perkotaan.
    Dikarenakan generalisir akan konsepsi musik Barat yang lebih ‘keren’ yang sudah ada sebelumnya termasuk juga anggapan bahwa validitas ekspresi musik hanya bisa diukur dengan neraca musik Barat, tulisan Blacking hanya perlu mengajukan satu buah tulisan sebagai pematahan generalisasi yang sudah ada sebelumnya. Setelah Blacking, banyak sekali tulisan-tulisan etnomusikologis yang bernada serupa untuk mengembalikan derajat musik rakyat, di hadapan kemanusiaan – suatu hal yg sudah terlalu lama baku ukurnya dimonopoli oleh keilmuan musik barat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: