Kabar Terkini

Kereta Api Menolak Instrumen Bas, Tiket Hangus, Masuk Kargo Alat Rusak


Mendapat kabar dari prinsipal kontrabass Bandung Philharmonic, mereka ditolak oleh petugas stasiun kereta api untuk pulang bersama instrumen bas mereka yang menyebabkan 2 tiket hangus. Pemain ini telah membeli satu tiket untuk dirinya dan 1 untuk instrumen basnya di kabin penumpang.

Tanggal 25 April malam, di Stasiun Kiaracondong 2 orang pemain Bandung Philharmonic hendak pulang ke Jogja dengan instrumen mereka. Tiket pun telah dibeli, masing-masing untuk penumpang dan juga untuk instrumen masing-masing, Instrumen direncanakan sebagaimana ketika berangkat untuk dimasukkan ke dalam kabin penumpang dan dialokasikan untuk ditaruh bersebelahan dengan penumpang.

Saat itu petugas stasiun tidak memperbolehkan pemain ini untuk membawa instrumen mereka untuk masuk kabin dengan alasan ukuran instrumen terlalu besar, padahal instrumennya sudah dibelikan tiket layaknya seorang penumpang. Instrumen pun tidak diizinkan berangkat sehingga menyebabkan tentunya si pemilik untuk tetap menemani instrumennya. Dua tiket pun hangus begitu saja. Hampir sepertiga dari upah musisi ini untuk bermain di Bandung ini akhirnya lenyap hanya untuk tiket kereta api yang bahkan tidak bisa ia gunakan. Bas pun dipaksa masuk kargo untuk kemudian ditransport, namun dikarenakan menggunakan softcase, sesampai di tempat tujuan didapati bahwa alat-alat musik ini mengalami kerusakan dari baret hingga bocel, pecah dan bahkan patah.

Permasalahan yang tentunya harus diangkat adalah dalam hal ini instrumen kontrabas tersebut tidak diperbolehkan masuk karena dianggap sebagai bagasi. Padahal kontrabas ini telah dibelikan tiket sebagaimana manusia dengan bertubuh bongsor namun tidak berat dan dapat disenderkan dengan nyaman di dalam kereta api tanpa mengganggu penumpang lainnya. Pun aturan yang memang mengikat adalah aturan bagasi penumpang yang menempel pada tiket seseorang dan bukan untuk instrumen musik yang rapuh dan telah dibelikan kursi tersendiri. Di dalam laman PT. Kereta Api bagasi instrumen musik termasuk dalam aturan Bagasi no.6 ini, disebutkan dapat masuk selama ada kursi kosong. Tapi dalam kasus ini, ada kursi tersendiri yang khusus dibeli oleh sang musisi untuk basnya yang dipastikan dapat ditempati oleh basnya.

Aturan Kereta Api

Perlakuan diskriminatif seperti ini selain tidak berpihak pada musisi, juga merupakan perlakuan yang inkonsisten dari penyedia jasa layanan kereta api, dikarenakan musisi yang sama dapat berangkat dengan jasa kereta api dan instrumennya diperbolehkan masuk ke dalam kabin. Hangusnya tiket dikarenakan ketidakberesan manajemen di stasiun PT KA di Kiaracondong adalah hal yang patut disayangkan.

Di sisi lain, inilah tidak enaknya menjadi pemain alat musik yang relatif besar. Belum lagi kondisi instrumen yang masuk bagasi tidak tentu keluar bagasi di tempat tujuan dengan keadaan utuh, seberapapun telah ditempel tanda-tanda sebagai barang pecah belah dan seperti dapat di dalam aturan no.9 di atas PT. KA menolak untuk bertanggung jawab. Perjuangan musisi antarkota antarprovinsi ini sepertinya akan sangat panjang, terlebih dengan tidak adanya asosiasi musisi di Indonesia yang seharusnya mampu menjadi advokat kepentingan musisi di saat seperti ini.

Menurut hemat penulis ada dua kemungkinan solusi yang bisa dipertimbangkan:

  1. Musisi berhimpun untuk kemudian angkat suara kepada para regulator transportasi
  2. Mungkin ada perlunya penyedia jasa layanan penyewaan alat musik di setiap kota, sehingga musisi bisa menyewa meskipun solusi ini tidak ideal bahkan bagi para musisi sekalipun yang harus bekerja dengan perlengkapan yang asing

Bagaimanakah menurut Anda?

~info didapat dari Lingga Lasarda, prinsipal kontrabas Bandung Philharmonic

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Kereta Api Menolak Instrumen Bas, Tiket Hangus, Masuk Kargo Alat Rusak

  1. Richard Awuy // 7 Mei 2016 pukul 1:19 am //

    Harus ada penulis/wartawan koran/majalah berpengaruh yang menulis di kolom budaya mengenai hal-hal yang berkenaan dengan instrumen musik dan transportasi. Semacam kompilasi pengalaman buruk instrumentalis dengan transportasi instrumen-nya. Atau acara wawancara di stasiun TV yang popular juga baik. Guru saya pernah mengalami kesulitan naik pesawat karena membawa pipa kecil pipe organ karena bentuk, ukuran dan material yg mirip senjata tajam.. Yg jadi masalah adalah kalo musisi ingin membawa Stradivari atau Guarneri antik lalu disuruh masuk bagasi, kan jadi repot. Barangkali kalo ada orkestra yang mau konser edukasi, bisa juga undang kepala PJKA ato orang DepHub sambil diceramahin…

1 Trackback / Pingback

  1. Komika Dodit Dilarang Bawa Biola Masuk Pesawat karena Membahayakan – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: