Kabar Terkini

Pergulatan Tannhäuser Mencari Pembebasan


Tannhäuser adalah kisah pengorbanan di mana cinta yang sesungguhnya menjadi jawaban alternatif permasalahan yang ada ketika dunia tidak lagi mampu memberi jawab permasalahan yang ada. Ketika cinta platonis dihadapkan dengan cinta amor yang berbalut birahi dan nafsu, pengorbanan diri yang sepenuhnya dan tulis menjadi pemecahan kebuntuan cara pandang dunia yang bersaling-silang. Pergulatan Tannhäuser mencari cinta dan makna hidup sebagai seorang seniman terentang di antara keterikatan dirinya dengan Dewi Venus dan sang kekasih yang tulus Elisabeth.

Kisah opera yang ditulis oleh komponis Richard Wagner tahun 1845 ini merupakan perpaduan dua kisah rakyat Jerman, Tannhäuser dan Legenda Wartburg. Digarap dalam tiga babak berdurasi tiga jam, produksi yang mengisi kalender pertunjukan Royal Opera House (ROH) dari 26 April hingga akhir Mei ini merupakan produksi yang sama yang dilakukan di tahun 2010. Pertunjukan pun dibuka dengan Overturenya yang ternama. Sejak awal terasa Hartmut Haenchen sebagai konduktor di pit akan memimpin pertunjukan ini dengan langkah musikal yang stabil dan ramping, namun tidak meninggalkan aspek dramatis di dalamnya.

Didesain oleh Michael Levine, proscenium menjadi garis merah dalam produksi arahan sutradara Tim Albery ini. Set berbentuk proscenium megah dari ROH sendiri di muncul atas panggung sebagai perlambang dunia sandiwara dan godaan seni pertunjukan yang menyebabkan Tannhäuser bertekuk lutut pada Venus. Penari-penari balet kemudian menarikan gerakan-gerakan sensual dan menjadi simbol nafsu yang mewarnai panggung, indah namun memperbudak pelakunya. Satu demi satu laki-laki jatuh ke dalam pelukan Venus dan dayang-dayangnya. Babak kedua yang diwarnai kisah pertobatan Tannhäuser dibayangi dengan reruntuhan proscenium yang terhampar di lantai panggung, Wartburg kampung halamannya dilanda perang dan para pria berjaga-jaga dengan senjata di tangan. Di akhir babak ketiga sekali lagi proscenium ini muncul sekembalinya Venus dan godaannya ketika Tannhäuser gagal untuk mendapatkan pengampunan dari Paus di Roma. Resolusi justru bukan pada usaha batin Tannhäuser, namun lewat pengorbanan Elisabeth yang menghapuskan dosa-dosa Tannhäuser.

Tannhäuser di Covent Garden kali ini diperankan oleh tenor Peter Seiffert. Perannya yang dramatis sekaligus melelahkan selama 3 babak ini memang banyak bersentral pada Tannhäuser sendiri. Opera Wagner pun tidak pernah enteng untuk proyeksi suara, terlebih orkestra dan paduan suara besar menjadi pendukung opera ini. Suara harus terdengar namun ekspresivitas harus selalu terjaga. Seiffert sendiri cukup elegan, meyakinkan dan nyaring membawakan peran ini. Namun di babak kedua nampak moderasi menjadikan babak ini kurang mencapai klimaksnya, terutama dalam lakon duel kontes menyanyi dan berpuisi yang kemudian berujung pada Tannhäuser keceplosan menyanyikan pujian Venus dan Venusberg ketika beradu argumen tentang cinta di hadapan kawan-kawan sekotanya yang menyebabkan dirinya divonis sebagai sesat dan pendosa. Namun demikian pada bagian pertama dan kedua perannya perlu mendapatkan pujian.

Tannhauser2

Pujian penuh haruslah dilayangkan pada Christian Gerhaher yang memerankan Wolfram von Eschenbach yang menjadi seteru sekaligus juga sahabat Tannhäuser. Suara baritonnya yang khas mampu memberi keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, antara kilau cemerlang dengan kesenduan. Emosi sang tokoh mampu tersampaikan dengan paripurna, disertai dengan kharisma panggung yang terpancar kuat. Meskipun hanya muncul di babak kedua dan ketiga, seruan bravo membahana bagi Gerhaher di akhir pertunjukan. Emma Bell, memerankan Elisabeth juga dengan cemerlang. Bobot soprano dramatik menjadi ciri khas peran ini yang menawarkan ketulusan namun juga keteguhan hati seorang wanita. Sophie Koch sebagai Venus pun menampilkan akting yang luar biasa, disertai suara yang mumpuni. Namun nampaknya dalam produksi kali ini fokus lebih tertuju pada Elisabeth yang lebih tergarap, di satu sisi menjelaskan peran sang pahlawan wanita dalam kisah ini namun di sisi lain menyebabkan daya tarik Venus dan pergulatan Tannhäuser dapat lebih digarap. Stephen Milling sebagai Herrman tampil impresif.

Meski demikian pertunjukan kedua dari opera (29/4) ini mampu menggerakkan hati. Babak kedua dan babak ketiga menawarkan penonton kesempatan untuk berpikir dan masuk ke dalam emosi setiap pemain. Tannhäuser ini adalah sebuah produksi yang menarik. Dengan set yang tergolong minimal, namun menawarkan pengalaman kisah yang optimal, hanya muncul dua kali di sepanjang sejarah Royal Opera House sebelumnya, karya ini hanya sempat dimainkan tahun 1955 dan kemudian tak disentuh hingga tahum 2010 ketika Tim Albery menghidupkan kembali karya ini di atas panggung. Kini di antara suka cita yang seringkali memperbudak, juga duka yang merundung namun penuh kebebasan, hidup manakah yang akan dipilih?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: