Kabar Terkini

Kerja Serabutan dan Gig Economy


Beberapa bulan terakhir ini di beberapa media massa Eropa dan Amerika sedang gandrung dengan istilah Gig Economy sebagai bentuk baru dari geliat ketenagakerjaan masa kini. Di Amerika Serikat, gig economy sendiri diperkirakan akan mendominasi 40% tenaga kerja di tahun 2020, dan arahnya semakin jelas bahwa liberasi ketenagakerjaan semakin mengarah ke bentuk ini.

Gig Economy adalah sebuah istilah yang digunakan untuk melabeli pergerakan ekonomi terutama di sisi ketenagakerjaan yang mengarah pada semakin terbukanya ikatan ketenagakerjaan. Di masa kini semakin banyak generasi muda, terutama milenials yang lebih memilih untuk bekerja sebagai freelance atau tenaga lepas dibandingkan dengan menjadi pekerja tetap. Pekerjaan pun lebih didasari kontrak dan jangka waktu yang terbatas dibandingkan dengan pekerjaan yang menetap.

Pergerakan tenaga kerja yang semakin menggiat beberapa waktu terakhir ini yang ditandai dengan semakin pendeknya masa bakti seorang pegawai dan kecenderungan untuk berpindah kerja yang tinggi menjadi pembuka akan semakin berkembangnya gig economy. Perkembangan teknologi dan mobilitas terutama dalam dunia kerja memungkinkan banyak pekerja kreatif memilih untuk menjadi tenaga lepas yang tidak terikat di satu perusahaan. Di sisi lain, digitalisasi juga memungkinkan banyak pekerjaan untuk disederhanakan dan tidak lagi terikat tempat. Satu pekerjaan pun dapat dilakukan secara paruh waktu yang kemudian memungkinkan fleksibilitas bagi tenaga kerja.

better_gigs

Di sisi lain, perusahaan pun diuntungkan dikarenakan tidak lagi terlalu dibebani oleh biaya sewa kantor dan logistik di lapangan. Pekerja bisa bekerja di mana saja dan juga tidak membebani perusahaan. Perusahaan pun jadi lebih ramping ‘lean’ dan terkonsentrasi pada fungsi operasional dasar. Fungsi-fungsi tambahan yang membutuhkan keahlian khusus hanya ditarik dan dipekerjakan apabila dibutuhkan saja. Biaya pun jadi lebih murah.

Gig economy sendiri dalam bahasa Inggris dilandaskan pada gaya kerja lepas insan kreatif seperti musisi yang nge-job di berbagai tempat, pelukis yang bekerja di beberapa proyek dalam setahun. Ini pun kemudian meluas untuk mencakup banyak pekerjaan di industri kreatif. Katakanlah semakin banyak desainer kini yang bekerja lepas, juga tenaga IT, marketer dan bahkan tenaga strategist dan konsultan.

Padanan katanya di dalam bahasa Indonesia bisa jadi adalah bekerja serabutan. Dalam berbagai bentuk, serabutan adalah bentuk yang mirip dengan gig economy terutama dalam sisi ikatan kerja dan batas waktu kontrak yang jelas. Yang mungkin membedakan adalah implikasi konotatif yang muncul dari kerja serabutan. Dalam kerja serabutan, seringkali merujuk pada pekerjaan yang tidak terspesialisasi dan malah dapat dilakukan siapa saja. Keterampilan dan pengetahuan khusus tidak menjadi elemen penting dalam kerja serabutan, oleh karenanya seringkali dipandang sebelah mata dan terkesan lebih rendah dan berbayar sedikit dibanding bekerja tetap. Padahal apabila kita lihat secara seksama di Indonesia, pekerjaan seperti dokter pun seringkali serabutan. Tidak banyak dokter yang fokus hanya bekerja di satu tempat, banyak malah yang bekerja di beberapa rumah sakit dan klinik, buka praktek pribadi. Jam kerja pun bisa jadi tidak menentu dibanding yang berkantor.

Karenanya, bekerja serabutan dan aktif dalam gig economy bukan berarti hidup dalam kondisi yang menyedihkan. Bekerja lepas bukan berarti miskin, namun yang menjadi masalah adalah apabila tenaga kerja tersebut tidak memiliki keterampilan dan hanya menjadi tenaga kerja murah belaka. Di banyak negara di Eropa dan Amerika, kerja serabutan dan gig economy sedang naik pamor. Selama tenaga kerja memiliki keterampilan dan negara memiliki aturan ketenagakerjaan yang juga melindungi tenaga lepas, sebenarnya tidak perlu banyak khawatir.

Ketika negara lain mulai berpaling ke gig economy, ketenagakerjaan di Indonesia sebenarnya sudah terpapar dengan gaya seperti ini. Permasalahannya adalah bagaimana mengembangkan spesialisasi dan tentunya bagaimana tenaga kerja kreatif seperti desainer, arsitek, musisi, perupa, penulis, pengacara, guru/dosen dan bahkan dokter memimpin dalam membentuk lingkungan yang kondusif untuk pergerakan ekonomi yang menjamin kesejahteraan tenaga lepas. Bagi tenaga lepas, ada kalanya asosiasi profesional mampu menjadi penyambung lidah dan ikut berperan aktif dalam melindungi generasi tenaga lepas ini. Kesadaran untuk berserikat pun juga harus dipertimbangkan secara matang.

Ketika dunia berpaling pada perekonomian ala seniman, pertanyaan lanjutan adalah seberapa jauhkan seniman di Indonesia sudah siap menjadi contoh bagi industri lainnya?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: