Kabar Terkini

Kalau Maurinho jadi Pelatih Indonesia, Kesenian Kita Butuh Siapa?


Melihat kisah tentang Menteri Pemuda dan Olahraga yang berniat merekrut pelatih kelas dunia seperti Jose Maurinho dan Guus Hiddink sebagai pelatih nasional Indonesia dan membenahi prestasi sepak bola nasional, mengapa kita tidak lepas dari pendangan skeptis?

Permasalahan sepak bola nasional yang miskin prestasi dan tuduhan salah manajemen selama bertahun-tahun bahkan digrogoti korupsi adalah kenyataan yang ada dalam sistem olahraga kita yang digemari oleh jutaan orang Indonesia ini. Pertanyaan yang kemudian menjalar apakah dengan mempekerjakan seorang pelatih yang jawara kelas dunia kemudian akan mengubah wajah persepakbolaan dan prestasi tim nasional Indonesia.

Sudah terlalu sering kita mengharapkan kehadiran seorang Ratu Adil dalam berbagai situasi dan permasalahan yang ada. Seringkali yang harus dihadapi adalah tidak adanya Ratu Adil yang sedemikian sakti yang mampu mengubah persoalan kompleks persepakbolaan Indonesia. Pelatih hanya akan bertanggung jawab menggarap teknis tim di lapangan, baik lewat latihan dan mungkin sampai pada mekanisme pencarian bakat. Namun permasalahan sepak bola nasional bukan sekedar mencati bakat. Tapi kepada persoalan yang mendalam dan bersifat sistemik. Kebijakan pengelolaan olahraga pun bersangkut paut dalam kebijakan nasional. Sehebat apapun Maurinho perannya akan sangat terbatas. Kementerian Pemuda dan Olahraga sebenarnya malah seakan mencari jalan alternatif yang tidak akan menjawab persoalan sepak bola nasional.

Pertanyaan yang serupa ini pun dapat kita layangkan pada bidang kesenian di Indonesia. Apakah dengan mempekerjakan seorang dengan kredibilitas dan kemampuan tinggi lantas kemudian dapat menjawab persoalan miskinnya pengembangan kesenian di tanah air?

Dalam dunia paduan suara kini mulai bermunculan keputusan-keputusan pragmatis dalam merekrut pelatih. Seringkali beban kemudian ditempatkan di bahu pelatih untuk mengubah dan meningkatkan prestasi paduan suara tersebut terutama lewat kompetisi-kompetisi baik nasional maupun internasional. Bahkan kini ada pula pelatih yang berperan sebagai konsultan, dipanggil untuk mendongkrak prestasi paduan suara untuk sebuah kompetisi tertentu. Apakah ini salah?

Tentu saja tidak. Namun harus pula disadari bahwa dalam berkesenian pun bukan permasalahan siapa kepala artistiknya namun lebih kepada bagaimana kapasitas artistik tersebut kemudian dapat merubah kebijakan umum dalam sebuah institusi. Ada keterkaitan yang sangat erat antara kebijakan dan peningkatan kualitas yang berkesinambungan. Pelatih yang hebat tidak akan mengubah wajah paduan suara apabila tidak diikuti perubahan kebijakan di level pengurus maupun, dalam lingkup kampus, rektorat yang dapat menguntungkan dan mempercepat perubahan ini dari akarnya.

Apabila pun tim paduan suara Indonesia mampu merekrut Simon Halsey misalnya tanpa dibekali otoritas untuk mengubah ekosistem paduan suara, rasanya tidak banyak yang akan berubah pula tanpa perubahan mendasar pada kebijakan berkesenian kita dan bagaimana kesenian menjadi bagian yang integral dalam pendidikan dan kebudayaan kita.

Jadi, Jose Maurinho? Ya… Memang sebuah ide gila.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: