Kabar Terkini

Tanggal Mengejar Setoran


Bagi Anda yang melihat seberapa sering konser musik klasik saat ini, ini adalah pertanda saatnya kejar setoran. Ramadhan segera tiba, dan sebagaimana banyak saudara Muslim berupaya untuk membayar hutang puasa dari tahun lalu, penyelenggara konser kini sedang sibuk untuk memastikan kegiatan tidak bertepatan dengan bulan puasa.

Menurut jadwal yang didapati di internet, bulan Ramadhan akan dimulai tanggal 8 Juni. Dalam beberapa minggu ini akan banyak konser diadakan untuk menghindari berbenturan dengan bulan suci. Mungkin pertanyaan singkat yang perlu diajukan adalah apakah sebab konser musik klasik cukup dihindari untuk dimainkan pada bulan Ramadhan? Apakah musik klasik bertentangan dengan prinsip ke-Islam-an? Ataukah bermusik kemudian dianggap akan mengganggu jalannya ibadah puasa bagi yang menikmati musiknya ataupun bagi musisinya? Atau ini hanya persoalan prioritas saja, bahwa Ramadhan adalah waktu spesial untuk merenung bagi seluruh umat Islam dan hiburan semacam konser musik klasik kemudian tidak lagi masuk prioritas.

Yang nyata bagi banyak musisi, di bulan Ramadhan ketika kebutuhan naik dan inflasi akan cukup terasa hingga puncaknya di Idul Fitri, seringkali pendapatan kemudian tersendat dikarenakan jarangnya pertunjukan di bulan Ramadhan ini. Hal ini terutama dirasakan oleh para musisi lepas yang diupah sesuai dengan jam kerja/jasa yang mereka berikan. Di saat karyawan dan buruh pabrik menerima Tunjangan Hari Raya (THR), musisi di bulan ini malah harus mengencangkan ikat pinggang.

Benar juga kata kritikus film Eric Sasono dalam status Facebooknya di awal Mei lalu menyikapi industri film. Menurutnya, para tenaga kerja di bidang perfilman telah mengalami euphemisme dalam bahasa Indonesia untuk kemudian disebut sebagai ‘insan film’, padahal dalam kenyataannya mereka adalah ‘pekerja film’ yang menggantungkan hidup bekerja membuat film. ‘Insan musik’ pun juga seakan memperhalus profesi musisi dan menekankan pada aspek spiritualnya, padahal dalam kerangkan sosial musisi ini adalah ‘pekerja musik’ yang berada dalam lingkup masyarakat di mana ada ‘pemilik modal’ yang mempekerjakan dan penguasa yang bisa jadi tidak terlalu memperhatikan kesejahteraan para ‘pekerja musik’.

Indikasi mendasarnya adalah ketika bulan puasa ini tiba. Siapakah dari para pemodal dan pemegang kekuasaan yang prihatin dengan kondisi ‘pekerja musik’ yang kering kerontang di bulan puasa yang sepi pekerjaan dan melakukan sebuah tindakan? Di saat kita tidak mau ambil peduli, sebenarnya kapitalisme murni telah menggerogoti nurani. Dan di saat itulah, saatnya makna Ramadhan perlu kembali direnungi.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: