Kabar Terkini

Sudahkah Musik Klasik Menjawab Isu Terkini?


Konser-konser di Indonesia umumnya adalah konser-konser ketok magic. Jarang sekali terdengar bahwa seorang musisi mempersiapkan sebuah konser dari 1 tahun sebelumnya. Namun apabila dilihat secara mendalam sepertinya konser musik klasik di Indonesia walaupun memiliki keunggulan karena tidak terlalu terbebani program jangka panjang, tetapi tetap tidak memiliki kelenturan untuk menjawab isu terkini.

Konser musik klasik di Indonesia seringkali cukup cepat ketika diprogramkan. Beberapa bahkan hanya direncanakan 3-6 bulan sebelumnya dan kemudian maju pentas. Berbeda dengan banyak organisasi seni di luar ketika program konser seringkali harus melalui banyak komunikasi baik dengan direktur artistik, direktur musik, agensi, konduktor tamu, dan bahkan solois tamu. Alhasil program pun telah disusun jauh-jauh hari bahkan sejauh 18-24 bulan ke depan. Akibatnya adalah pergerakan dan kelincahan kelompok seperti ini sangat buruk. Sedikit berbeda ceritanya dengan kelompok-kelompok musik kamar yang rutin dan lebih tanggap untuk memodifikasi program.

Namun di Indonesia lain, kelompok musik kamar mulai bermunculan. Orkestra pun juga tidak memiliki beban program yang terlampau jauh di muka. Tapi sepertinya dibandingkan kesenian lain seperti sastra, film dan bahkan teater, seni musik klasik di Indonesia malah seakan tidak pernah tanggap untuk menjawab isu-isu terkini. Apa yang menyebabkan lambatnya seni musik menjawab isu terkini di masyarakat adalah sebuah pertanyaan yang perlu dijawab.

Dugaan pertama adalah musik klasik sudah tercerabut dari akarnya di Indonesia. Ia seakan berada di awang-awang sendiri dan tidak terasa mengakar dan bahkan berada di dunianya sendiri yang terpisah dari isu-isu mutakhir Indonesia. Salah satu faktor adalah rendahnya kepedulian pendengar musik klasik akan isu terkini sehingga musik klasik lebih berfungsi sebagai candu yang kemudian melanggengkan pemikiran status quo. Hal ini di sepanjang sejarah musik klasik barat sempat terjadi. Contoh yang kental adalah bagaimana F.J. Haydn perlahan kehilangan pamor di masa tuanya dikarenakan musiknya yang dianggap tercerabut dari pergolakan masa akhir abad 18 dan awal abad 19 di mana pergolakan sosial politik mulai menggelegak. Musiknya kemudian tidak lagi relevan bagi para pendengar dan kemudian lebih dianggap sebagai sebuah ninabobo bagi kaum bangsawan dari pergolakan kelas sosial kala itu.

Dugaan kedua adalah tidak pahamnya para musisi klasik Indonesia akan kekayaan repertoar yang mereka miliki yang dapat dieksplorasi untuk mengungkapkan kekinian. Dugaan ini terlalu tajam untuk dituduhkan kepada musisi Indonesia. Namun perlu diakui, bahwa tidak banyak musisi klasik Indonesia yang mendalami historiografi musik klasik sehingga seringkali tidak memahami konteks karya musik yang dibawakan dan dipilih untuk dibawakan. Kalau ini sungguh terjadi, pilihan karya musik yang dimainkan adalah hanya karena keinginan dan bukan karena kepekaan terhadap keadaan sosial sekarang. Lagi-lagi ini kemudian juga menyebabkan musik klasik tercerabut dari kekiniannya. Tidak sedikit musisi yang mengadakan konser ataupun resital namun sedikit peduli tentang makna di balik setiap karya yang dimainkannya.

Dugaan ketiga adalah rendahnya penciptaan musik baru dan sedikitnya waktu panggung yang disediakan bagi mereka menyebabkan para musisi klasik terpaksa hanya berkutat di karya-karya lama yang menurut mereka tidak memiliki konteks yang sesuai untuk menyuarakan problem masa kini. Meminta komponis menuliskan karya baru memang membutuhkan waktu, sehingga bisa saja kemutakhiran hilang tertelan arus waktu. Akan tetapi apakah sungguh komponis pun juga ingin mengungkapkan gejolak Indonesia masa kini lewat musik mereka dan apakah ada niatan dari musisi untuk menampilkan karya ini, belajar karya baru secara khusus. Karena apabila tidak ada niat kuat dari kedua pihak, baik musisi maupun penampil, penciptaan dan pertunjukan karya baru yang menyuarakan kekinian hanya akan jadi sebuah mimpi.

Dugaan keempat adalah musik klasik terlalu suci untuk kemudian berbicara tentang kekinian. Pandangan Platonik ini sebenarnya mencoba mengangkat bahwa musik terlalu suci dan murni untuk kemudian bercampur dengan persoalan nyata di dunia ini. Dalam pandangan ini musik pun kemudian dicoba untuk dilepas dari konteks sosialnya dan juga diklaim tidak perlu memiliki konteks sosial. Yang terpenting adalah keindahan dan sebuah pandangan estetik absolut dalam sebuah karya musik. Karenanya kondisi sosial dan waktu kemudian berubah menjadi pencemar dari kemurnian musik tersebut. Tidak sedikit musisi klasik Indonesia pun melihat musik dalam tataran ini.

Dugaan kelima adalah cari aman. Bisa jadi banyak musisi masa kini tidak melihat musik dalam pandangan dugaan keempat di atas. Mereka justru paham dengan persoalan di sekitarnya, demikian juga para penciptanya. Namun untuk menyuarakan kisah masa kini, berarti juga harus berhadapan dengan pusaran kontroversi isu tersebut. Pusaran kontroversi ini bisa jadi kontraproduktif bagi karir sang musisi ke depan atau malah membahayakan karir mereka. Karena itu, cari aman untuk tidak bersuara adalah langkah paling masuk akal dan diam pun sungguh menjadi emas. Mencari aman kemudian memandulkan keampuhan musik untuk berbicara soal keadaan di sekitarnya.

Sekali lagi tulisan di atas ini hanya berupa dugaan dan belum tentu benar. Akan tetapi dalam situasi seperti ini musik seharusnya bisa berperan lebih aktif sebagai seni yang mampu menjadi cermin bagi masyarakat untuk merefleksikan hidup mereka dan pandangan mereka. Musik klasik kini menjadi seni yang bungkam dalam pergolakan, justru kalah suara dibandingkan sastra, film dan musik pop. Mungkin musik klasik memang tidak relevan? Atau mungkin dimatikan relevansinya oleh musisinya sendiri? Mungkin saja.

~ kalau saya jadi dirigen orkes ternama Indonesia, saya pasti sudah memilih Shostakovich 5.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Sudahkah Musik Klasik Menjawab Isu Terkini?

  1. Mohon diberikan contoh karya musik klasik yang cocok dengan isu terkini, berikut penjelasan mengapa karya tersebut cocok. Terimakasih

  2. Saya sendiri akan angkat contoh karya Shostakovich Symphony no.5 yang sempat saya singgung. Shostakovich 5 adalah sebuah ekspresi sang komponis untuk melawan rezim Stalin yang represif dan kejam termasuk kepada para seniman yang banyak diculik dan dihilangkan, komunisme menjadi panji utama mengapa tindakan itu dilakukan. Kini di Indonesia terbalik, komunisme menjadi alasan pula untuk merepresi ekspresi para seniman, mengaburkan upaya menggali tragedi kemanusiaan justru dengan kekhawatiran bangkitnya komunisme. Bahkan polisi dan tentara malah kepalang terlalu aktif melakukan pembersihan yang agaknya terlalu berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: