Kabar Terkini

Menjelajah Buku Musik di Hari Buku Nasional


Baru lalu Hari Buku Nasional yang diperingati tanggal 17 Mei setiap tahunnya. Berbagai isu mengemuka mengenai buku dan peredarannya menjelang hari buku nasional ini. Banyak yang mengatakan bahwa Hari Buku Nasional adalah lebih berfokus pada menumbuhkan minat membaca. Namun isu buku selalu menjadi perbincangan yang menarik, terutama dalam konteks musik klasik.

Dalam sejarah musik klasik, lahirnya buku adalah awal dari meluasnya praktik musik di barat yang kini dikenal dengan musik klasik. Teknologi cetak Gutenberg bukan hanya mengubah sejarah literasi sastra tapi juga literasi musik. Lahirnya teknologi cetak pun menjadi cikal-bakal lahirnya buku-buku musik, sebuah teknologi yang akhirnya pada saat itu tidak bisa dilepaskan dari keberadaan musik itu sendiri di barat.

Buku dan literasi pun berkorelasi erat dengan literasi musik dan juga lahirnya buku-buku musik. Di masa-masa itu, lahirlah buku-buku Madrigal abad 16 yang kemudian populer di kalangan bangsawan dan meluas. Musik pun semakin laju sejalan dengan berkembangnya literasi dan distribusi buku. Pun tak lama kemudian, muncul pula buku-buku pembelajaran musik seperti Gradus ad Parnassum yang ditulis Johann Fux di abad 18 bersamaan dengan buku-buku praktis seperti yang ditulis oleh ayah W.A. Mozart, Leopold Mozart, tentang bermain biola yang baik. Keistimewaan seorang Bach pun terlihat bagaimana ia mampu menuliskan karya dengan bersih dan rapih di atas kertas dengan cara yang relatif spontan. Bakat seorang Mozart pun terlihat dari bagaimana ia mampu menuliskan karya Miserere dari Allegri yang menjadi rahasia ketat Vatikan dan tidak pernah diterbitkan di luar hanya dengan sekali dengar.

Di tahun-tahun berikutnya tercermin bagaimana seorang Beethoven dan Chopin kemudian berjuang untuk memastikan karyanya diterbitkan dan kisah-kisah romantis bagaimana seorang komponis kemudian bergadang ditemani lilin di samping pianonya menyelesaikan karya yang menjelang deadline penerbitan. Buku-buku piano menjadi primadona sejalan dengan berkembangnya kelas menengah akibat demokrasi dan revolusi industri di Eropa. Sejatinya pada masa-masa di abad 16-19, musik yang dikenal dan sukses adalah musik yang bukan saja ditampilkan di atas panggung, tapi juga menghiasi rak-rak rumah, meja dan piano di rumah. Percetakan dan literasi menjadi primadona dalam mengerti, memainkan dan mengapresiasi seni musik. Di pertengahan abad 19, dengan berkembangnya literasi publik dan lahirnya media massa, lahir pula kritik musik baik dalam garapan media cetak besar maupun dalam jurnal-jurnal musik yang terkhususkan bagi pecinta dan pengamat musik. Literasi merasuk dalam kehidupan musik klasik.

Walaupun dengan segala pertentangannya dan juga gejolak akibat teknologi rekam dan internet, musik klasik tidak pernah sepenuhnya lepas dari literasi. Membaca masih menjadi kegiatan kunci dalam bermusik dalam tradisi ini. Mencermati Hari Buku Nasional tahun ini, tidak alang penulis menilik kembali bagaimana kesejarahan buku musik di Tanah Air dan bagaimana peran buku dan apresiasi serta literasi dalam kehidupan musisi Indonesia.

Lewat pembicaraan dengan musikolog Erie Setiawan, secara penerbitan buku keilmuan musik, Indonesia masih sangat hijau dan tidak tergarap. Menurutnya, buku keilmuan musik tidak lebih dari 200 judul yang sempat terbit dalam kurun waktu 70 tahun Indonesia merdeka. Lengkapnya, Erie saat ini sedang menggarap katalog buku-buku tersebut untuk membuktikan hipotesanya. Buku-buku belajar praktis sudah cukup banyak berkembang dan dapat ditemui di beberapa toko buku besar, namun tidak banyak yang berbicara soal musik klasik.

Apabila kita bicara tentang buku partitur, jumlah buku yang diterbitkan sangat sedikit.Penulis hanya menemukan kurang dari 10 buku partitur komposisi komponis Indonesia yang beredar luas. Beberapa adalah karya Trisutji Kamal, Ananda Sukarlan dan Levi Gunardi yang sempat menghiasi rak-rak buku toko buku ternama. Banyak karya yang lain mungkin lenyap. Gejala ini pula yang mendorong Dewan Kesenian Jakarta membuat buku antologi, yang hingga sekarang masih ditunggu rangkaian lanjutannya.

Yang kemudian menjadi persoalan adalah apakah sungguh rendahnya minat baca para peminat musik di Indonesia berpengaruh terhadap penerbitan dan penjualan buku-buku musik. Persoalan pun lebih bersifat sistemik. Rendahnya minat membaca di masyarakat Indonesia tentunya juga terefleksi pada minat baca masyarakat musik, termasuk musisinya. Membaca belum menjadi garapan utama dalam kegiatan bermusik klasik sekalipun. Membaca partitur tidak tentu diikuti dengan keinginan membaca buku teks, pun juga tidak tentu diikuti dengan apresiasi kekayaan intelektual para penulis dan komponis. Walaupun harus diakui bahwa banyak buku musik yang sampai di Indonesia tidak murah, baik partitur maupun buku teks, sedangkan jangkauan pemasaran buku lokal tidaklah luas.

Rendahnya minta baca dan apresiasi kemudian berimbas pada lahirnya gelagat pragmatis para musisi Indonesia untuk kemudian lebih menghalalkan untuk menggunakan buku-buku partitur bajakan alias fotokopi. Alasan utama adalah sulitnya mendapatkan akses buku musik yang baik, pun pengiriman masuk juga sulit. Alasan lain yang mungkin lebih kuat justru adalah sebenarnya masih rendahnya apresiasi karya seni dan pengakuan atas hak kekayaan intelektual yang menjangkit. Hanya sedikit paduan suara misalnya yang ketat memilih untuk membeli partitur asli. The Archipelago Singers adalah contoh dari beberapa paduan suara yang mampu dan mau membeli partitur secara resmi dan asli untuk menghargai kerja para komponis. Justru tidak sedikit paduan suara yang berbasis relijius yang memilih untuk membajak dan memfotokopi. Kelompok seperti orkestra memiliki ruang yang lebih sempit karena selain partitur yang sudah masuk ranah publik, sulit mendapatkan partitur orkestra melayang-layang bahkan di internet.

Nyatanya persoalan literasi dan apresiasi pada musik dan kaitannya dengan Hari Buku Nasional sebenarnya sangat erat. Minat baca dan apresiasi akan kekayaan intelektual baik dalam bentuk karya musik maupun buah pemikiran tulisan masih perlu ditingkatkan. Belum lagi, ada pula diskusi bahkan di kalangan musisi sendiri yang merendahkan diskusi dan pembahasan musik secara terbuka serta intelek dan mengambil sikap kontra literasi dalam bentuk cetak maupun daring. Cita-cita Hari Buku Nasional seharusnya lebih disikapi secara lebih serius oleh insan musik, terlebih insan musik klasik.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: