Kabar Terkini

Membedah Hibah dan Trauma Korupsi Masa Lalu

funding fund raising for charity money donation for non profit organization road sign arrow

Menarik apabila melihat struktur dana hibah yang digelontorkan oleh badan-badan publik di Inggris untuk kemajuan musisi dan industri musiknya. Hal ini dibagikan secara menarik lewat diskusi panelis bersama British Council (BC), British Phonography Industry (BPI), Arts Council England (ACE), British Underground, PRS Foundation, dan UK Trade and Investment (UKTI). Masing-masing dari organisasi ini mencoba membuka jalan bagi para praktisi musik Inggris untuk kemudian berkarya dan bahkan menembus pasar internasional. Inilah yang menjadi topik diskusi siang kemarin di Old Courtroom, Brighton yang menjadi bagian dari acara The Great Escape.

Masing-masing dari organisasi ini mewakili berbagai kepentingan dalam industri musik Inggris sekaligus pula menawarkan hibah kepada para seniman. Pelaku industri dan label diwakili oleh BPI sedangkan British Council menjadi perpanjangan tangan Kementerian Luar Negeri untuk diplomasi budaya. ACE sendiri lebih terfokus pada pembinaan kesenian secara umum sedang UKTI adalah Departemen Perdagangan Inggris. British Underground mewakili pemberdaya musisi sedang PRS mewakili para pemegang hak kekayaan intelektual. Kesadaran untuk bekerja sama antar organiasi dan membangun berbagai program hibah kemudian mencerminkan bagaimana industri memegang peranan strategis dalam musik. Program hibah untuk pengembangan musisi dan kemudian bahkan sebagai produser yang ingin membawa musik Inggris ke luar negeri sebagai bentuk ekspor digarap dan disediakan jalurnya.

Apabila melihat Indonesia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Kementerian Perdagangan memiliki kepentingan dalam peningkatan perdagangan antar negara, juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Pariwisata pun demikian. Di sisi lain Badan Ekonomi Kreatif sedang banting tulang membuktikan keberadaannya. Pemerintahan dan kementerian masih melihat sektor industri musik sebagai sebuah benda asing yang tidak strategis dalam pengembangan, peran Bekraf sebagai jembatan antar instansi ini pun masih harus ditingkatkan. Hibah disediakan dengan cukup lapang, meskipun banyak dari kita yang tidak tahu bagaimana meraih maupun mendapatkan akses ke sumber hibah tersebut, walaupun apabila kita lihat lebih jauh saat ini pun banyak kementerian bersinggungan dengan birokrasi dan transparansi.

Persoalan transparansi sebenarnya menjadi menarik di Indonesia. Dikarenakan pengalaman buruk korupsi yang merajalela, hampir semua inisiatif dalam pemerintahan akhirnya masuk dalam ranah pengadaan. Hibah pun menjadi sangat sempit ruang geraknya. Untuk semua hal berjumlah 200 juta rupiah ke atas, tender terbuka harus diadakan untuk menangkis tuduhan korupsi. Sebuah langkah yang baik, namun seringkali tidak strategis dalam menggerakkan roda industri yang serba cepat dan fleksibel.

Seringkali yang terjadi adalah tidak banyak pelaku industri tahu bagaimana mengakses dana di bawah angka 200 juta rupiah tersebut dikarenakan tidak ada mekanisme yang jelas dan transparan. Penunjukan langsung sebagaimana dalam perkara pengadaan dalam berbagai kementerian menjadi jalur tikus yang hanya segelintir orang saja yang tahu bagaimana mengaksesnya. Di sisi lain tender di atas 200 juta rupiah memakan waktu yang sangat lama dan pelaku industri seringkali harus berhadapan dengan administrasi dan birokrasi. Persiapan tender seringkali menembus batas 3-6 bulan, waktu yang terbilang lama untuk pergerakan sebuah inisiatif yang terus berubah. Belum lagi tidak ada keamanan. Tender adalah sebuah proses dagang, mereka yang memiliki inisiatif bisa saja menang bisa saja kalah dalam proses pengadaan. Tentunya proses ini hanya bisa digarap oleh mereka yang memiliki kapital besar di awal dan mengerti seluk-beluk proses administrasi di berbagai kementerian.

Yang menarik dalam proses hibah yang kita pelajari kemarin adalah banyak dari hibah ini digarap oleh badan perpanjangan tangan pemerintah. Mereka mendapat dana dari kementerian, tapi kemudian bertanggung jawab untuk menggarapnya dan membagikannya kepada mereka yang layak. Transparansi menjadi yang terutama dalam garapan ini. Setiap dana hibah memiliki jatah yang jelas dan rentang yang jelas, juga diikuti dengan proses aplikasi yang lengkap. Aplikasi ini bisa jadi cukup melelahkan bagi para pelaku industri musik, dikarenakan pada dasarnya mereka diminta untuk membuat kasus bisnis dan kasus kebudayaan dan harus berargumen dalam tulisan, mengapa mereka layak mendapatkan dana hibah tersebut, beserta dengan metrik evaluasi kesuksesan insiatif ini. Setiap metrik menjadi penting dan organisasi harus mengerti luar dalam organisasinya, tujuan artistik setiap kegiatan juga kepentingan berbagai elemen pemerintahan di dalamnya. Pun mereka agnostik dalam bentuk seni dalam arti mereka tidak memiliki preferensi aliran seni, sehingga proposal menjadi yang utama.

Tentunya banyak pelaku industri dan organisasi seni kemudian mencoba mengakses inisiatif ini. Jujur saja masih banyak pelaku industri musik dan musisi muda di Inggris pun tidak terlalu paham dengan jalur ini, meskipun akses untuk jalur ini tersedia di internet dan terbuka bagi siapa saja. Namun bagi mereka yang mengetahui, mereka bisa melayangkan aplikasi ini kapan pun. Namun memang hanya mereka yang mampu menulis proposal dengan meyakinkanlah yang kemudian akan diseleksi dan kemudian yang layaklah yang akan mendapatkan akses akan dana hibah ini.

Tak ayal, proses administrasi dan birokrasi pemerintah dan pemahaman pelaku industri akan metrik pemerintahlah yang menjadi kunci dalam memastikan proses ini berjalan dengan lancar dan terus lincah menghadapi permasalahan yang ada. Untuk Indonesia, mungkin sudah saatnya meningkatkan transparansi dan kemudian membedah efektivitas birokrasi yang ada. Untuk para pelaku industri, untuk sementara ini hanya yang dekat dengan kekuasaan dan pemerintahlah yang mendapatkan akses, bila ingin menjadi bagian didalamnya menggali jalur-jalur tikus adalah yang terutama. Sebelum trauma akibat korupsi terobati, hibah akan tetap sulit dan industri musik akan tetap sulit bergerak

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: