Kabar Terkini

Festival Regeneratif: Tanggap Ekosistem


Festival yang menghidupi ekosistem? Apakah itu merupakan sebuah hal yang mungkin? Nampaknya Festival The Great Escape mencoba menghadirkan sebuah festival yang menghidupkan industri musik Inggris sendiri.

Ketika banyak festival musik berkonsentrasi mengembangkan kapasitas audiens dan memperbesar daya tariknya di hadapan musisi ataupun mengembangkan kapasitas musisi untuk kemudian meningkatkan jumlah audiens, The Great Escape mengangkat strategi yang sangat cerdik dan berbeda. Kondisi yang di atas sebenarnya mampu menjadikan sebuah festival stagnan. Bagai mencari mana yang terlebih dahulu telur atau ayam, sebuah festival dapat terjebak dalam lingkaran setan yakni dilema memperbesar penonton terlebih dahulu untuk meraih musisi yang lebih banyak, atau meningkatkan jumlah dan kualitas musisi yang tampil untuk kemudian menambah jumlah penonton.

Ketika banyak festival kemudian hadir sebagai festival raksasa tanpa perkembangan artistik yang signifikan, The Great Escape (TGE) secara cerdik mampu menangkap kebutuhan industri yang digarapnya. Festival musik tidak hanya diperuntukkan bagi musisi dan penonton tapi sengaja dibentuk menjadi ajang berkumpulnya para pelaku industri musik. Manajer, produser, eksekutif label, promotor, dan pelaku industri musik, diundang secara khusus untuk hadir dalam ajang ini. Dengan mengakomodasi keseluruhan pelaku dan ekosistem, festival ini kemudian bergulir bagai bola salju.

Pelaku dalam hal ini manajer musik, produser, kurator, eksekutif label besar maupun kecil dan insan pemerintah di Inggris bukanlah pelaku yang guyub. Menggunakan bahasa Robin Malau, mereka bukanlah sebuah industri yang hidup dari bergotong royong, kesemuanya memiliki kesibukan tersendiri. Sedikit berbeda dengan penggerak musik di Indonesia yang lumayan cukup kecil dan saling mengenal satu dengan yang lain.

Sebagai pemikat, para pelaku pertama ditawarkan untuk menghadiri sebuah market update dalam bentuk seminar yang diintegrasikan dengan festival. Inisiatif ini diadakan di tahun ke-4 dari TGE di tahun 2010 dengan menggandeng CMU Insights, sebuah perusahaan kepakaran yang bergerak di bidang riset, konsultan dan pelatihan industri musik. Target utama dalam garapan semacam ini adalah menarik manajer level kecil dan menengah yang ingin mengembangkan bisnis musik mereka. Pembicara dari akademisi dan nama besar di industri pun berjejaring bersama dengan peserta seminar yang terjun di akar rumput.

Perlahan pengembangan ini bukan hanya menarik pelaku industri, tapi juga menarik band-band muda yang ingin mendapatkan akses ke pelaku-pelaku industri ini. Pamor festival pun bertambah seiring dengan semakin banyaknya band-band yang mengisi acara. Para manajer, produser dan eksekutif label besar dan kecil pun ingin melihat talenta-tenta baru di panggung yang dapat mereka angkat dan ajak bekerja sama. Di sisi lain penonton pun semakin banyak dan membesar sejalan dengan semakin banyaknya pilihan sajian di atas panggung. Alhasil hubungan ini menciptakan simbiosis mutualisme antara musisi, pelaku industri dan audiens. Sajian festival pun jadi beragam dan menghidupkan satu sama lain.

Delegasi praktisi pun tidak hanya dari lokal saja. Dengan mengundang British Council sebagai suporter, festival pun kemudian menjaring pelaku industri dari berbagai negara strategis untuk pengembangan pasar dan industri musik Inggris. Untuk tahun ini, China, Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia yang menjadi fokus utama selain Amerika Serikat yang memang menjadi partner utama. Bagi banyak musisi, festival ini adalah kesempatan besar untuk berhubungan langsung dengan promotor, produser maupun label luar negeri.

Di tahun 2016 ini, TGE mengambil langkah yang lebih luas lagi untuk mengembangkan sayap cakupannya. Untuk menjawab inisiatif banyak kota baik di Inggris maupun dunia yang semakin sadar akan kekuatan sektor kreatif musik dan dampak ekonominya, mereka pun mengadakan konferensi khusus tentang inisiatif kota musik. Konferensi ini sejalan dengan banyaknya negara dan kota yang melihat pentingnya peranan musik dalam perencanaan urban dan kebijakan publik. Para pembuat kebijakan, konsultan pemerintah kota dan delegasi pemerintahlah yang hadir dalam rangkaian konferensi ini, menjadikan festival ini mewakili keragaman ekosistem baik dari sisi audiens, seniman, pelaku sektoral dan pemerintah.

Dalam kupasan ini dapat terlihat bagaimana sebuah kemampuan untuk memandang sistem menjadi krusial dalan pengembangan sebuah event. Pengembangan ini tentunya memang ditujukan untuk perkembangan sektor ini sendiri. Di lain pihak, strategi ini adalah sebuah strategi organisasi dan pengembangan audiens festival yang patut menjadi contoh. Di siklus 4-5 tahunan, festival umumnya memasuki fase kritis. Namun secara menarik, penyelenggara festival ini mampu menangkis fase kritis itu untuk kemudian meregenerasi dirinya dengan menciptakan acara baru yang mampu menghidupi, mendukung dan memperkuat sajian secara keseluruhan dan berdampak sistemik bagi acara mereka.

TGE telah menampakkan diri sebagai festival yang tanggap akan ekosistem beserta dengan pergerakannya, sebuah organisasi yang mampu meregenerasi dirinya sendiri. Sungguh menarik.

~ a version of this article appeared in Britishcouncil.id website.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Festival Regeneratif: Tanggap Ekosistem

  1. andreasarianto // 5 Juni 2016 pukul 4:00 am //

    Hmm. Apa mirip dgn konferensi Midem di Cannes ya, lbh difokuskan utk membangun jejaring para pelaku industrinya gak cuma para penampil?

    Ada acara serupa yg bbrp kali diadakan di Singapura, gue lupa namanya apa. Endah n Rhesa pernah tampil di Midem dan ikut beragam “masterclass” dari tim di balik kesuksesan band2 smcm Blink 182 dan Incubus. Memang pada akhirnya pelaku industri harus melek sistem baru kemudian bisa menyadari signifikansi kehadirannya di tengah masyarakat di mana ia berkarya ya.

  2. Iya mirip, di Indonesia adakah? Atau malah pertanyaan yg lbh mendasar, perlukah?

  3. andreasarianto // 14 Juni 2016 pukul 12:20 am //

    Mgkn tepatnya bukan sekadar perlukah, tapi apakah ekosistemnya siap untuk punya platform seperti ini, bagi2 tips supaya bisa sama2 berkembang walau ngerasa gak datang dari kubu yg sama. Perjuangan yg bersifat kedaerahan masih jd hal yg jamak hingga kini di bidang apapun di Indonesia. Kebanyakan asosiasi itu akhirnya jadi mafia doang ujung2nya😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: