Kabar Terkini

Kebudayaan Jadi Korban dan Musik Jadi Pembela


Musik nampaknya memiliki berbagai segi politik yang kuat. Di antaranya baru saja terjadi di Brazil, pemerintahan presiden interim Michel Temer membubarkan Kementerian Kebudayaan Brazil yang menimbulkan protes yang luar biasa keras. Kini, kabinet terbarunya dijajari oleh 100% laki-laki, berkulit putih dan heteroseksual, sebuah bentuk anti keragaman yang sangat klasik.

Menurut banyak pihak di Brazil, sebuah negara yang juga kaya keragaman dengan penduduk sebanyak 250 juta ini, keputusan politik ini akan merugikan Brazil sendiri. ‘O Fortuna’ dari Carl Orff menjadi suara bagi para pemrotes lewat paduan suara dan orkestra di tanggal 17 Mei kemarin yang menduduki sebuah gedung milik pemerintah.

Kabar terbaru per hari Senin (24 Mei), Reuters mengabarkan bahwa Temer akhirnya membatalkan keputusan untuk menghapuskan Kementerian Kebudayaan akibat protes yang luar biasa ini.

Alasan semula diambilnya langkah ini adalah demi menghemat anggaran negara. Presiden sebelumnya Dilma Rousseff dicopot akibat tuduhan penyalahgunaan anggaran negara sehingga langkah Temer sebagai presiden interim adalah mengurangi jumlah kementerian hingga sepertiga dari 33 menjadi 23 dan menggabungkan Kementerian Kebudayaan dengan Kementerian Pendidikan. Langkah ini ternyata sangat ditentang di Brazil. Namun nampaknya kebudayaan masih menjadi perhatian yang utama dalam kebijakan pemerintahan di Brazil dan juga sungguh menjadi bagian dari perhatian publik.

Kita pun masih mengingat di pemerintahan presiden SBY yang lalu, kebudayaan dihapuskan dari agenda kabinet. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berubah menjadi Kementerian Pendidikan Nasional sedangkan Kebudayaan menjadi ranah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dimana metrik ekonomi menjadi yang utama dalam membangun kebudayaan. Bagaimanakah dengan saat ini? Kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah muncul kembali, dalam beberapa tahun ini, apa dampak yang telah dirasakan?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: