Kabar Terkini

Pilih Instrumen Ini, Pilih Instrumen Itu


Sebagai pemain flute amatir, saya seringkali mendapatkan pertanyaan “kamu kenapa memilih bermain flute?”. Bila dipikirkan lebih dalam, pertanyaan sederhana ini membuat saya tergelitik untuk mencari tahu apa yang membuat seseorang memutuskan memainkan suatu alat musik tertentu. Alasan seseorang memutuskan untuk bermain suatu alat musik beragam. Mulai dari faktor internal seperti orang tersebut suka dengan suaranya, sampai faktor eksternal seperti dukungan orang tua untuk memainkan suatu instrumen tertentu. Para peneliti ternyata banyak yang memiliki rasa penasaran terlebih dahulu dan melakukan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif untuk mencari tahu apa yang memotivasi seseorang memilih instrumen tertentu. Berikut adalah empat alasan mengapa seseorang memilih suatu instrumen berdasarkan hasil riset.

 

j1inj

Parodi dalam memilih instrumen musik

 

Karakteristik Instrumen

Bila seseorang sudah suka dengan suara dari suatu instrumen, maka besar keinginannya untuk mempelajari alat musik tersebut. Berdasarkan hasil wawancara Colleen Conway dari University of Michigan pada tahun 2000 terhadap 37 siswa sekolah lanjut, karakteristik dari instrumen menarik para siswa untuk mempelajari alat musik. Karakteristik alat musik tidak terbatas pada suara atau fitur fisik alat musik seperti ukuran alat musik, tetapi juga peran suatu alat musik dalam sebuah grup musik. Misalnya seseorang yang lebih suka memainkan melodi akan lebih memilih alat musik violin atau flute dibandingkan contrabass atau trombone. Dari jawaban siswa-siswi dalam penelitian tersebut, terdapat beberapa orang yang memilih memainkan alat musik karena kelangkaan pemain suatu instrumen, seperti tuba. Dengan memainkan alat musik yang jarang dimainkan orang lain, mereka berpikir bahwa akan mendapatkan banyak kesempatan untuk bermain dalam suatu grup musik.

Pengaruh Orang Tua dan Guru

Ini mungkin salah satu alasan yang banyak didengar dari anak-anak yang belajar alat musik. Orang tua yang mendukung anaknya untuk memainkan suatu alat musik tertentu akan membuat anak memilih untuk alat musik tersebut. Peneliti dari University of New South Wales, Simy Meng-Yu Chen dan Robert W. Howard, pada tahun 2004 menemukan selain karena dukungan orang tua untuk bermain suatu alat musik tertentu, bila ada seseorang dari anggota keluarga memainkan suatu alat musik maka anak terkadang mengikuti untuk bermain alat musik yang sama. Misalnya bila seorang ayah bermain saksofon, maka anak memiliki kemungkinan untuk memilih alat musik yang sama seperti ayahnya.

Selain orang tua, guru juga bisa menjadi faktor yang memengaruhi seseorang memilih suatu instrumen. Dalam hasil wawancara Colleen Conway, seorang siswi awalnya bermain trumpet namun tidak kunjung mendapatkan suara yang memuaskan dirinya meskipun sudah berlatih. Akhirnya dia memutuskan untuk bermain trombone karena guru musiknya menyarankan untuk berganti alat musik dan dia senang dengan keputusannya.

Stereotipe Gender pada Instrumen yang Dimainkan

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa jenis kelamin seseorang dan stereotipe gender terhadap suatu instrumen ternyata banyak dijadikan alasan seseorang untuk memilih instrumen musik. Studi literatur yang dilakukan Gina Wych pada tahun 2012 menemukan alat-alat yang digolongkan maskulin dan feminin. Alat musik yang orang-orang golongkan feminin adalah harpa, flute, glockenspiel, cello, clarinet, piano, french horn, dan oboe. Sedangkan alat musik yang digolongkan maskulin adalah tuba, contrabass, trumpet, bass drum, saxophone, cymbal, dan gitar. Terdapat beberapa orang yang masih berpendapat bahwa jenis kelamin tertentu lebih cocok bermain alat musik tertentu. Gina Wych menemukan bila seorang siswa sekolah memainkan alat musik yang tidak sesuai dengan gendernya, maka siswa tersebut dapat mengalami bullying. Hal ini sebenarnya menarik untuk diteliti lebih lanjut, mengingat banyak musisi laki-laki yang bermain flute atau french horn dan musisi perempuan bermain trumpet atau bass.

Ketersediaan Instrumen

Seseorang memilih untuk memainkan instrumen tertentu karena memang instrumen yang tersedia di rumahnya adalah tersebut. Misalnya sebuah keluarga memiliki piano yang sudah turun temurun dipakai, maka seseorang dapat saja memilih untuk memainkan piano karena memang alat tersebut yang tersedia. Ini adalah salah hasil yang juga ditemukan oleh Chen dan Howard. Ketersediaan instrumen juga mungkin bisa terjadi karena alasan finansial. Mungkin saja seorang pemain biola sebenarnya lebih ingin bermain oboe, tetapi karena oboe lebih mahal daripada biola dan orang tersebut hanya mampu membeli biola maka akhirnya diputuskannya untuk bermain biola.

Penelitian-penelitian yang disebutkan dalam artikel ini rerata dilakukan di sekolah di Inggris, Australia, dan Amerika, di mana praktek pendidikan musik yang dilakukan adalah dengan memberikan anak kebebasan untuk memilih alat musik apapun yang ingin dimainkan. Di Indonesia, tidak semua sekolah memberikan pendidikan musik demikian dan biasanya seorang anak belajar untuk bermain musik di luar sekolah seperti les privat. Bila saya menelaah lebih lanjut lagi, ternyata renungan terhadap alasan seseorang bermain musik secara tidak langsung berimplikasi pada pendidikan musik. Setiap orang pasti memiliki alasan yang berbeda-beda dalam memilih instrumennya. James Byo dari Louisiana State University pada tahun 1991 dalam Bulletin of the Council for Research in Music Education menyatakan: “When and how preferences for instruments are acquired are questions that can have an impact not only on the quality of the school instrumental music program but also on the quality of experience for the individual musician” (Kapan dan bagaimana pilihan untuk suatu instrumen dipilih merupakan pertanyaan yang dapat berdampak tidak hanya pada kualitas dari program musik instrumental sekolah tetapi juga pada kualitas pengalaman masing-masing musisi) . Bila selanjutnya dapat ditelaah lebih lanjut di konteks Indonesia, mungkin kelak dapat digunakan untuk mendukung pendidikan musik dan para musisi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: