Kabar Terkini

Membangun Portfolio Kini Tugas Musisi


Sedari kecil belajar bermain musik dan bercita-cita sebagai musisi membawa Andi (bukan nama sebenarnya) untuk kemudian menekuni musik dalam pendidikannya. Mengambil jalur pertunjukan, ia pun berkonsentrasi pada saxophone, instrumen pilihannya di masa remaja. Pendidikan pun ditamatkan dengan nilai resital akhir yang gemilang, di persimpangan jalan hidupnya, Andi pun kebingungan: masa depannya terancam.

Perjuangan yang dialami oleh Andi adalah sebuah hal yang lumrah ditemui di lapangan kreatif seperti musik. Besar dengan mimpi terfokus menjadi seorang musisi yang sukses, puluhan ribu anak muda setiap tahunnya memilih untuk berkarir sebagai penampil di dunia musik setelah menghabiskan puluhan ribu jam berlatih instrumen pilihannya. Banyak musisi yang dibentuk secara pendidikan klasik dibentuk hanya untuk satu tujuan: agar mampu menjadi ahli dalam instrumennya sehingga mampu menginterpretasikan karya musik dengan sempurna.

Namun sayangnya dunia tidak terbuka lebar bagi musisi yang demikian, kurang dari 1/200 orang musisi di dunia yang mampu menunjang hidup hanya dari bermusik saja. Apabila kita teliti dengan lebih jauh di Indonesia, hampir tidak ada musisi yang dapat bertahan hidup hanya dengan bermain musik.

Di abad ke-21 ini, musisi justru dituntut untuk membangun ‘portfolio karir’. Sebagaimana bidang profesional lain, musisi pun dituntut untuk membangun kemampuan dan keahliannya dalam segala bidang, dan bukan hanya sebagai pemain musik dengan gaya tertentu saja. Musisi pun diharapkan memiliki beragam kecakapan baik sebagai pendidik, penulis, peneliti, organiser, pedagang, makelar, pemasar, konsultan dan bahkan wirausaha. Tidak sedikit pula yang mengembangkan keahlian spesialisasi lain seperti komponis, ahli tata suara, fotografer, ataupun programmer. Keahlian yang digarap pun bermacam rupa.

Bukan berarti bahwa mereka yang tidak bisa hidup dari pertunjukan saja berarti merupakan seniman kelas dua. Nyatanya, mereka adalah mayoritas di mana dunia karir pertunjukan musik bukan hanya sekedar tampil di atas panggung dan terdengar di rekaman.

Kekurangan yang kita hadapi di banyak pendidikan musik adalah kacamata kuda yang dipakaikan kepada para mahasiswa untuk berjuang dalam pacuan menjadi musisi yang tercepat dan terkuat juga terbaik. Musisi muda hanya diarahkan untuk menjadi penampil luar biasa, namun tanpa disertai kematangan psikologis dan keahlian lain untuk membangun karir yang dapat menopang hidup.

Hampir seluruh musisi yang kita kenal dan berada di sekitar kita membangun portfolio tersebut. Mulai dari berdagang barang vintage hingga menjadi guru di sekolah musik, dari menjadi penata suara hingga musikolog, dari sebagai organiser hingga sebagai pemimpin kelompok musik, dari penampil hingga pemberi masterclass. Karir bukan hanya dibangun dengan satu jalur saja, bagaimana dengan portfolio Anda?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: