Kabar Terkini

Gedung Pertunjukan, Jenjang yang Tiada


Berbincang tentang gedung pertunjukan untuk musik klasik memang hampir tidak ada habisnya. Namun ada satu hal yang agaknya sering terluput dari pembicaraan adalah setiap seniman, termasuk musisi klasik, membutuhkan fase-fase untuk mengembangkan karier yang ternyata harus tercermin dalam infrastruktur yang ada.

Seorang musisi memulai karirnya dari bawah, kemungkinan besar dari sebuah ruang tamu. Perlahan setiap musisi membangun basis audiensnya dan perlahan mampu menarik penonton yang lebih banyak. Tidak ada musisi yang tiba-tiba melonjak untuk mengisi gedung dengan kapasitas 1000 orang.

usmar-ismail-hall

Usmar Ismail Hall Jakarta

Perbincangan mengenai pembangunan infrastruktur gedung pertunjukan di Indonesia tidak bisa hanya berbicara mengenai pembangunan sebuah gedung besar, namun perlunya melihat apakah ada kelengkapan infrastruktur gedung pertunjukan dalam setiap anak tangga yang ada. Dari ruang tamu, yang hanya berkapasitas 6-8 orang, perlahan menanjak hingga sebuah ruang resital berkapasitas 300 hingga sebuah auditorium besar berkapasitas 1000 orang.

Karenanya, membuat auditorium besar 1000 orang adalah sebuah pemborosan apabila tidak diikuti oleh adanya anak tangga untuk naik ke tingkat 1000 orang tersebut. Dari segi kuantitas venue ladder ini pun harus berbobot di bawah, sehingga membuka banyak kemungkinan bagi pemain muda yang ingin membangun audiensnya tanpa resiko yang besar. Venue Ladder Jakarta

Pertanyaan saat ini tidak banyak fasilitas gedung pertunjukan yang tersedia untuk umum. Dari sedikit contoh di atas, banyak dari gedung pertunjukan yang paling sering digunakan untuk pertunjukan musik klasik dikelola oleh pusat budaya asing. Pun dari sisi suplai dapat terlihat adanya ketimpangan yang terjadi di Jakarta. Supplai cukup besar di titik tengah dan titik puncak namun tidak berimbang di titik mula dan juga di gedung berkapasitas 500-1000 kursi.

Adalah sebuah ketidakadilan apabila setiap seniman muda yang ingin memulai karir harus mengeluarkan kocek besar untuk menyewa gedung berkapasitas 200-300 orang tanpa kemampuan untuk mengisi tempat duduk. Hanya seniman yang memiliki kapital cukup besar di awal karir yang kemudian dapat menyelenggarakan resital, sehingga karir musik menjadi sangat timpang. Di sisi lain, mungkin hanya seniman muda yang memiliki akses dan network saja yang dapat mengajak teman-teman untuk berkolaborasi sehingga mampu mengisi ruang tersebut ataupun mungkin malah mendapatkan ruangan secara cuma-cuma. Dapat dilihat dari persebaran yang ada, pengembangan karir di awal sangat sulit kecuali sudah mencapai titik penonton di atas 200 orang.

Wacana membangun gedung konser bukanlah semata-mata membangun sebuah gedung pertunjukan, namun bagaimana mengisi anak tangga setiap jenjang venue yang ada sehingga progresi karir pun dapat terjadi secara bertahap dan terbuka bagi lebih banyak musisi yang ingin membangun karir tanpa dibebankan sewa yang berlebihan. Pun banyak musisi maupun penyelenggara perlu membangun perjanjian penggunaan dan penyewaan venue yang mampu mengembangkan musisi muda dan baru.

Erasmus Huis Jakarta

Erasmus Huis Jakarta

Suplai infrastruktur dan jenjang kapasitas ini pun sangat penting dalam melihat persebaran gedung pertunjukan di dalam sebuah kota yang mampu membangun karir musisi.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Gedung Pertunjukan, Jenjang yang Tiada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: