Kabar Terkini

Kritik Musik untuk Membangun Ruang Publik


Kritik dan ulasan musik seringkali menyebabkan banyak kontroversi. Tidak sedikit pelaku seni musik yang geram melihat tulisan kritik dan ulasan pertunjukan, rekaman maupun peristiwa musik lainnya, MusicalProm pun juga tidak luput dari kegeraman tersebut. Tulisan yang tajam dan apa adanya seringkali menimbulkan kegusaran di hati pembaca, terlebih pihak terkritik. Namun seberapa perlukah sebenarnya kritik dan ulasan musik?

Musik semula banyak bergerak di ranah individu dan kelompok. Kala pertunjukan belum menjadi konser yang hingar-bingar, musik dikonsumsi sebuah kelompok kecil dan kalangan terbatas, ranah privat. Namun sejalan dengan berkembangnya budaya konser dan berkembangnya media, khususnya media cetak, berkembangnya kelas menengah dan golongan borjuis baru di Eropa kemudian memuncak pada ledakan demokrasi. Pada saat ini terbentuklah pula pemisahan antara ranah individu dengan kelompok, antara pemerintah dan masyarakat. Kebebasan berpendapat dan jaminan hukum kemudian memagari sebuah ranah baru, sebuah ruang publik di mana kepentingan pribadi tidak lagi berkuasa, namun setiap individu dijamin haknya untuk menyatakan pendapat dan bersuara. Demikian pendapat filsuf Jurgen Habermas dalam mengkaji ruang publik atau ranah publik.

Musik pun bukan hanya sebuah konsumsi di ruang tamu ataupun di tepi ladang di antara kerabat, tapi telah mekar dan menjangkau lebih banyak orang. Musik disebarkan lewat buku-buku cetakan, diperdengarkan di keramaian di mana masyarakat didaulat menjadi penonton dan konsumen. Musik pun diputar di radio, didendangkan lewat pengeras suara. Konser juga ditonton ratusan hingga ribuan orang, yang bersahut memuji dengan riuh tepuk tangan ataupun sorakan ejekan. Musisi menjadi sebuah corong, menyampaikan pesan di depan khalayak, di mana masyarakat bukan hanya sebagai penerima namun juga berhak bereaksi. Musik sebagai medium ekspresi menjadi pengejawantahan sebuah pesan dalam ruang publik.

BMW LSO Open Air Classic 2016-2

Dalam perimbangan musik yang masuk ke ruang publik, kritik seni pun juga lahir sebagai perimbangan opini di ruang publik. Hadirnya kritik musik yang dilontarkan di ranah publik menegaskan bahwa musik sebagai sebuah seni pertunjukan tidak lagi berada di ranah privat, di ruang keluarga. Ulasan pertunjukan musik di ruang publik juga menyatakan bahwa musik tersebut sungguh hadir di tengah masyarakat dan menjadi milik publik begitu musisi tampil di atas panggung dan nada-nada terangkai. Masyarakat bukan hanya menjadi penikmat yang pasif, namun sungguh mendengar, mengapresiasi pula berkomentar. Opini pun dapat terbentuk dari banyak pihak dan dapat beradu argumen dalam ranah terbuka yang dijamin kebebasannya. Inilah sebuah ranah publik di mana ide saling menari dan menjadi bagian dari sebuah diskursus – musik dan nada bersama esai dan kata.

Mempertahankan sebuah dunia musik tanpa pemikiran kritis dan pengungkapan pendapat secara terbuka adalah sebuah pertanda bahwa musik tersebut masih disembunyikan di ranah individu dan kelompok di mana kebebasan berpendapat dan ragam opini terepresi. Sebagaimana apabila pengunjung sebelum masuk ke taman harus mengetuk pintu taman,  pengunjung pun menyadari bahwa ia memasuki sebuah taman pribadi dan bukan taman umum. Pun sang pengunjung masuk ke taman bukan untuk merusak taman, ia hanya beropini atas taman tersebut setelah kunjungannya. Kritik dan ulasan musik pun tidak mendisrupsi konser tersebut, ia hanyalah perwujudan opini atas pengalaman menyaksikan pertunjukan musik.

Kegagalan untuk mengakui bahwa kritik musik menjadi bagian dari kebebasan berpendapat di dunia musik menyatakan bahwa musik yang dipersembahkan masih berada di ranah individu atau kelompok terbatas. Kala sebuah ulasan bagus kemudian diterima dengan sukacita oleh pihak terkritik, namun mengutuk ulasan lainnya, hal ini adalah sebuah perilaku oportunistik yang menggunakan ruang publik hanya demi keselamatan sendiri, namun enggan menerima seutuhnya peran ruang publik yang mewadahi kebebasan berpendapat.

Kritik musik berdiri berdampingan bersama sajian musik dalam membentuk ruang publik di arena musik di mana diskursus terjadi. Pertanyaannya kini adalah bagaimana sikap setiap kita terhadap ruang publik? Keengganan memandang dan menerima silang pendapat dan bincang logis jangan-jangan menandakan belum siapnya musik masuk ke ranah publik. Ataukah malah ketidaksiapan pelakunya?

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: