Kabar Terkini

Mencari Kesetiaan: Antara Cinta, Negara dan Tipu Daya

Bethan Cullinane sebagai Innogen

Jumat malam ini mungkin adalah Jumat yang biasa di kampung halaman sastrawan kelas wahid Inggris, William Shakespeare. Malam ini di Stratford-upon-Avon, Royal Shakespeare Company yang adalah organisasi teater terbesar di kota yang dijuluki sebagai asal-muasal kesusastraan Inggris ini mempersembahkan Cymbeline sebuah drama komedi tragedi.

Mengambil latar Inggris di masa Romawi, Cymbeline mengisahkan cinta yang bertaut dengan tipu daya dan perjuangan mencari identitas kebangsaan. Menurut wartawan The Times Rachel Sylvester, kisah pergulatan kebangsaan yang diangkat ini memiliki kedekatan dengan apa yang dialami Inggris saat ini, yakni referendum untuk bergabung atau keluar dari Uni Eropa yang akan diadakan 23 Juni ini. Pergulatan batin, perjuangan serta tipu daya terlihat kental sebagaimana banyak karya-karya Shakespeare. Meskipun memiliki tautan nilai yang mendalam dan berani di masanya, namun memang karya ini tidak banyak dipertunjukkan sehingga bisa menyaksikannya pada saat ini, di peringatan 450 tahun Shakespeare, menjadi kenangan tersendiri.

Berdurasi 3 jam lebih, produksi yang digarap kali ini adalah karya sutradara Melly Still dengan desain oleh Anna Fleischle. Melly Still pun patut diacungi jempol dengan interpretasi yang berani. Still terlihat berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai eksperimental dari karya yang cukup besar ini. Dengan penokohan yang cukup banyak, Still di awal berusaha untuk mengangkat lokalitas dalam karya ini dengan membawa perbincangan antar bangsa dengan menarik. Shakespeare menulis karya ini penuh dalam bahasa Inggris klasik, namun Still mengambil langkah berani untuk menghiasi karya dengan konteks bahasa Eropa lain, seperti Prancis, Italia, Inggris kolokuial (Wales) dan Latin sebagai bahasa pemersatu dunia Romawi sebagaimana dikisahkan bercampur dengan bahasa Inggris Shakespeare sendiri. Meski demikian ia tetap mementingkan pemahaman penonton dengan proyeksi terjemahan dan penggunaan bahasa Inggris. Produksi inipun mengetengahkan banyak aktor kulit berwarna sehingga memberikan kesan multikultural yang kuat.

Still kemudian juga berusaha untuk mengangkat nilai-nilai feminin dari karya Shakespeare ini dengan mengganti beberapa peran berpengaruh yang semula pria dan mengubahnya menjadi peran perempuan. Peran utama Cymbeline yang semula adalah seorang raja dengan ratu yang berusaha menggulingkannya, diubah menjadi seorang ratu dengan suami yang berusaha menggulingkannya. Peran kunci lain seperti sang hamba yang paling setia Pisanio pun menjadi Pisania, pangeran yang terasing Guiderius pun menjadi putri pejuang Guideria yang berani. Interpretasi ini kemudian mampu memberi kedalaman lebih dalam karakter Shakespeare yang memang tidak banyak memberi ruang bagi pemeran perempuan dalam karya-karyanya (terkait pula dengan zamannya di abad ke-16).  Penataan panggung Fleischle membawa perseteruan dan kisah cinta ini dalam imajinasi distopia dengan grafiti dan pakaian layaknya para pemberontak dan militia. Latar pun banyak berpusat pada imaji hutan dan belantara.

Gillian Bevan sebagai Cymbeline tampil dengan meyakinkan, memberikan warna yang kental pada alur cerita. Bethan Cullunane sebagai Innogen, putri Cymbeline yang penuh cinta dan kesetiaan ini pun dihadirkan dengan hangat dan tulus. Hisan Abysekera sebagai Posthumus pun tampil dengan lincah dan penuh kerapuhan. The Duke yang diperankan oleh James Clyde pun mengena.

Meski diproduksi dengan menarik, Cymbeline kali ini meskipun bertumpu pada inovasi terasa agak tawar sehingga kedalaman agak terkompromi. Intrikasi sebenarnya tergambar cukup jelas, namun terasa kurang intens dan terfokus. Namun demikian dari sisi komedi, karya ini cukup asyik dan menggigit. Harus dicatat bahwa selalu ada tantangan untuk memberikan interpretasi dan nilai tambah dari banyak karya Shakespeare, karena karyanya telah dikenal orang, membuka ruang untuk kreativitas yang lebih lagi.

Tepuk tangan pun mengisi teater berukuran 1050 orang dengan panggung yang menjorok ke penonton sehingga penonton terasa begitu dekat dengan panggung tidak ada bangku yang berjarak lebih dari 15 meter dari panggung. Malam kemarin adalah malam yang mengasyikkan untuk melewatkan akhir pekan.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: