Kabar Terkini

Tiga Wanita dalam Satu Konser


~ oleh Vincent Wiguna

Kaum hawa tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. Penampilan dari tiga sosok wanita yang meracik sajian musik yang penuh emosi tadi sore menjadi salah satu buktinya. Di tengah masa puasa ini, Aula Simfonia Jakarta dan JSO membawakan karya musik yang menuntut teknik dan stamina yang tinggi. Dengan mendatangkan pemenang Leopold Bellan International Violin Competition 2015, Yuhe Li serta Huang Jin, Resident Conductor dari Guangzhou Symphony Orchestra, penikmat musik klasik di Jakarta dimanjakan dengan suguhan yang berbobot.

Konser dibuka dengan Oberon Overture karya Carl Maria von Weber. Oberon merupakan opera yang diinspirasikan dari puisi seorang Jerman, Christian Wieland, yang diambil dari dongeng Perancis. Di bawah baton Jin Huang, penonton serasa disihir ke dalam sebuah dunia fantasi Oberon, sang raja Elf. Arahan yang jelas berbuah pada kalimat musik yang terarah dan kerangka yang utuh. Gerakan tangan dan tubuh yang energetik mampu ditanggapi oleh seluruh pemain orkestra dengan baik. Eksekusi yang rapi oleh alat musik gesek didukung oleh alat musik tiup yang kokoh dan mampu memberikan warna yang beragam. Dinamika yang luas mampu diperdengarkan tanpa kehilangan detil artikulasi karya komponis Jerman ini. Pengaba lulusan Cincinnati College-Conservatory of Music (CCM) ini pun berhasil membuka sore itu dengan ceria.

Satu hidangan utama pun dikeluarkan: Sibelius Violin Concerto. Sebuah mahakarya virtuostik yang menuntut berbagai teknik yang amat sulit, konserto yang tidak sering dapat didengar secara utuh di Jakarta. Adalah Yuhe Li, solis yang mengenyam pendidikan musiknya di Conservatory of China, Conservatory of Paris, serta University of Art Berlin, yang dengan emosi yang terkontrol berusaha merajut kalimat demi kalimat. Dengan biola Gennaro Gagliano yang hampir berusia 300 tahun, ia berhasil membuat para penonton menahan nafas dan tak kuasa untuk mengalihkan pandangan dari permainannya. Intensitas yang dibangun pemenang kedua London Virtuoso International Violin Competition 2016 ini berhasil menyayat hati para pendengar. Eksekusi nada-nada oktaf yang amat bersih menunjukkan ketenangannya dalam menguasai karya tersebut.

Atmosfer dalam D minor yang sendu mampu dibawakan dengan anggun, sehingga para pemain orkestra pun tampak berusaha mengimbangi emosi dan warna yang terpancar dari gesekan solis. Masih digawangi oleh Huang Jin, yang pernah berkolaborasi dengan Maxim Vengerov, JSO menunjukkan kualitasnya sebagai orkes tuan rumah yang mampu beradaptasi dengan berbagai pengaba. Walaupun terdengar sedikit eksekusi yang kurang tepat dalam melibas rentetan nada dalam sinkop di gerakan ketiga, namun kesalahan minor tersebut tidaklah mengurangi kepuasan penulis menikmati ukiran kalimat yang indah dan terarah.

Konser pun ditutup dengan sebuah ‘simfoni sejagat’ di bagian kedua setelah berbuka puasa. Nuansa Indian Amerika dalam New Word Symphony karya Antonin Dvorak merupakan ciri khas komposer Ceko ini. Sebuah karya fenomenal yang amat populer karena banyaknya siaran dan serial TV yang memakai melodi dan musiknya ini digawangi oleh Rebecca Tong, pengaba yang secara rutin memimpin JSO dalam konser-konser tiap tahunnya. Karya ini ditulis di Amerika, ‘benua baru’, dan mengandung tangganada pentatonik. Tema yang melodius, khususnya di dalam gerakan kedua yang dimulai dengan tiupan English Horn merupakan bagian favorit bagi sebagian besar pendengar.

Di bawah pimpinan mahasiswi doktoral orchestral conducting ini, permainan berubah warna. Tampak Rebecca memberikan banyak ruang bagi orkestra untuk bergerak dan membentuk kalimatnya sendiri. Simfoni yang relatif cukup panjang ini rupanya cukup menguras energi para pemain, khususnya alat tiup logam. Hentakan nada yang kurang konsisten oleh pemain horn membuat kalimat kurang terlihat utuh, beberapa nada yang menjadi tema serta nada-nada pertama masuk juga terdengar riskan di beberapa tempat. Tarian di gerakan ketiga dibawakan dengan tenang dan rapi, mungkin dapat lebih terasa hidup dan lincah bila mengambil lebih banyak resiko dalam memberikan dorongan seperlunya. Namun kekompakkan dan semangat kembali dirasakan di gerakan keempat. Para pemain pastinya ingin menutup konser itu dengan kesan yang sama seperti pembukaan dan Rebecca pun tampak kembali memberikan roh itu ke setiap pemain.

Dituntun ataupun diberi sedikit kebebasan, keduanya mampu memberikan kenikmatan musik yang mengedukasi, baik bagi penonton maupun pemain orkestra sendiri. Alhasil, musik yang dipimpin oleh ketiga sosok wanita ini berhasil menghibur dan menumbuhkan ketertarikan untuk mengikuti perkembangan JSO di konser-konser selanjutnya.

~ Vincent Wiguna adalah pengajar piano dan teori musik di Yayasan Musicorum dan aktif sebagai pianis kolaboratif di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: