Kabar Terkini

Refleksi Keramaian Art|Jog dan Freeport, Upaya Art Wash?


Bagi Anda yang mengikuti keramaian diskusi sponsorship Freeport and Art|Jog, Art|Jog|9 baru saja memberi jawab atas kritik dari berbagai pihak akan hubungan sponsor dengan merilis surat ini. Hal ini sebenarnya juga pernah dialami oleh berbagai organisasi seni di mancanegara, yang paling keras salah satunya adalah ramainya Tate Modern dengan sponsorship BP setelah terjadi insiden tumpahan minyak di Meksiko. Namun apa yang bisa kita dari seni musik pelajari dari hal ini?

Sponsorship adalah hal yang mungkin tidak dapat kita hindari dalam berkesenian di Indonesia. Terlebih dengan minimnya keterlibatan pemerintah dalam dukungan terhadap kegiatan seni dan kegagalan pasar di bidang kesenian, sponsor dari pihak swasta adalah salah satu pilihan yang terbaik yang tersedia untuk mendukung terselenggaranya kegiatan seni.

Pada dasarnya sponsorship adalah sebuah perjanjian dagang antara penyelenggara dengan pendukung. Namun sebagaimana banyak perjanjian perdagangan adanya pula ketegangan dan beragam kepentingan yang ada di dalamnya. Dan dalam kasus Tate Modern, sponsorship kemudian menjadi sarana untuk menancapkan pengaruh.

Pertanyaan dan keberatan yang diajukan seniman adalah sebuah hal yang lumrah dalam sponsorship terlebih apabila ada persoalan yang kemudian mengusik kalbu para seniman. Dalam hal ini, Freeport dituding sebagai penyebab terjadinya berbagai eksploitasi, penindasan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, di mana beberapa seniman kemudian mengambil sikap untuk menentang termasuk untuk tidak ambil bagian dalam kegiatan Art|Jog.

Persoalan ini sebenarnya adalah sebuah kegamangan dalam menindaklanjuti kebijakan berkesenian dalam organisasi. Penyelenggara Art|Jog menyatakan bahwa sponsorship ini merupakan sebuah jalan keluar di tengah kesulitan dana yang mereka hadapi. Tentunya keputusan tersebut yang mereka hadapi adalah sebuah keputusan bisnis yang kemudian dapat dikritisi baik dari segi etika maupun segi bisnis.

Keputusan ini tentunya mengangkat kembali persoalan etika dalam mensponsori kegiatan seni, dan kemungkinannya mencederai seniman, pengunjung maupun penyelenggara sendiri. Sponsorship dan bentuknya kemudian juga dapat dikaji lebih jauh dan seberapa jauh kegiatan ini sebenarnya mampu mempengaruhi kesenian itu sendiri, apakah sponsor kemudian bertindak sebagai sensor terhadap karya seni ataupun sekedar kesenian dianggap sebagai pencitraan dari perusahaan tersebut. Dalam kasus BP dan Tate Modern, BP dan Tate Modern kemudian dituding melakukan art wash, yakni usaha untuk mencuci nama buruk perusahaan dengan keterlibatan dalam mendukung kesenian yang bernilai baik di mata masyarakat. Hal ini terjadi karena BP didapati secara aktif menginstruksikan agar perjanjian sponsorship yang mereka miliki digunakan semaksimal mungkin untuk memperbaiki citra dan brand perusahaan.

Dari segi bisnis pun pemilihan sponsor juga harus menjadi perhatian secara umum akan dampak dari pemilihan tersebut terhadap citra kegiatan dan organisasi secara umum. Sikap yang lebih berhati-hati dan memperhitungkan secara baik untung-rugi pertalian sponsor dengan perusahaan tertentu kemudian harus menjadi fokus dalam menentukan sponsor yang terbaik. Mungkin adalah sebuah hal yang konyol, namun organisasi sebenarnya memiliki kuasa penuh untuk menolak ataupun menyetujui perjanjian sponsorship seperti ini apabila tidak sesuai dengan visi dan pandangan organisasi penyelenggara. Bisa jadi keputusan bisnis untuk menerima Freeport sebagai sponsor Art|Jog malah mencederai relasi bisnis organisasi dengan perusahaan sponsor yang lain, terlebih dengan meledaknya persoalan ini di media massa. Atau malah berakibat baik karena mendapat sorotan yang luar biasa di mata publik?

Dalam seni musik tentunya sponsorship juga bukan barang yang luar biasa. Perusahaan rokok, minuman keras dan bahkan minyak dan tambang adalah beberapa perusahaan yang tentunya mendukung berbagai kegiatan seni musik seperti konser dan festival dan seringkali dapat dipertanyakan motif dan dukungan mereka. Apakah kemudian menerima ataupun tidak hal tersebut adalah sebuah keputusan dari organisasi penyelenggara dan tentunya selama tidak melanggar aturan pemerintah adalah sebuah keputusan yang sah. Namun, tentunya dapat kita lihat secara lebih mendalam persoalan etika dan juga pertarungan pengaruh dalam berkesenian dan apakah hal tersebut diterima secara umum di masyarakat. Beberapa perusahaan bank investasi pun di negara-negara barat bahkan juga mulai dicurigai motifnya dalam mendukung seni, terlebih apabila mereka diketahui terlibat dalam aktivitas finansial yang kurang etis.

Tentunya kali ini Art|Jog telah kecolongan dan pernyataan pers yang menyiratkan bahwa hal ini adalah sebuah keterpaksaan akibat tidak adanya jalan lain adalah pernyataan bermata dua, bisa menyakiti seniman dan sponsor lain dan juga menyakiti Freeport yang sudah menjadi sponsor. Alhasil pernyataan ini adalah sebuah pengingat bagaimana kesenian di Indonesia pun harus awas terhadap permasalahan sponsor dan citra apa yang akan dihasilkan lewat perjanjian sponsor ini. Yang pasti kali ini Art|Jog sudah kecolongan dan citra dari penyelenggara sendiri yang kini dipertaruhkan.

Ade Tanesia melalui blognya menyerukan agar dibentuk sebuah kode etik dalam perjanjian sponsor untuk menyatukan berbagai kalangan seni. Namun apakah hal seperti ini mungkin? Sponsorship dalam perjanjian dagang adalah ranah yang cukup tertutup, di mana dua organisasi menjalin kerja sama. Lantas siapakah yang dapat menggunakan wewenang untuk menentukan kode etik tersebut? Di dalam penyiaran saja yang memiliki komisi pengawas sendiri masih kesulitan untuk memastikan perjanjian iklan dan penayangannya sesuai dengan kode etik yang telah ditentukan. Batasan apa yang perlu digarap juga masih sulit. Kita pun masih mendapati iklan rokok di dalam siaran pertandingan olahraga di jam sore yang sebenarnya dilarang, dikarenakan pertandingan tersebut disponsori oleh perusahaan rokok. Aturan yang sudah jelas pun dapat diakali dengan cerdik.

Nasi sudah menjadi bubur dan tantangan kali ini adalah apakah Heri Pemad Art Management, penyelenggara Art|Jog, mampu memanfaatkan bubur dengan berjualan bubur ayam? Kita lihat di waktu yang akan datang.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: