Kabar Terkini

Prancis dan Spanyol: Sebuah Perkawinan Musik


~ oleh Vincent Wiguna

Malam yang kelabu. Dilema sang maestro untuk menyendiri, mengendap, dan menjalani kehidupan rohaninya membuahkan suatu karya yang sarat makna. Bénédiction de Dieu dans la solitude (The Blessing of God in Solitude) selesai ditulis Frans Liszt tahun 1847, tahun yang penting bagi hidupnya dimana ia memutuskan untuk berhenti menjadi pianis konser di puncak kejayaannya dalam usia 35 tahun dan memfokuskan pada komposisi serta mengaba, kembali menjalani disiplin rohani iman Katholiknya, serta saat pertama ia bertemu dengan seorang putri yang akan mendampinginya selama 40 tahun ke depan.

Sebelum Celimene Daudet memulai permainannya, konser semalam dibuka oleh suguhan ringan pianis – pianis dari Gitanada School of Music. Tujuh pianis cilik memberikan suasana yang riang dan menunjukkan dedikasi Gitanada dalam mendidik insan – insan muda selama lebih dari 13 tahun. Adalah Daudet, artis Steinway asal Perancis yang menjadi bintang malam ini. Karya Liszt yang dijelaskan di atas, dimainkan dengan memukau dengan menjaga kalimat – kalimat yang panjang tetap menyatu. Sebuah karya yang diilhami oleh puisi Alphonse de Lamartine, pionir literatur romantisme Prancis ini berbeda dari kebanyakan karya religius Liszt yang didominasi oleh harmoni modal, karya ini menggunakan harmoni yang kaya serta percampuran langgam pentatonik. Harmoni kromatis yang dalam tradisi musik Barat merujuk pada penderitaan dan kematian, tidak terdengar dalam karya ini. Suatu penggambaran tanpa cacat dalam ketenangan berhasil membius penikmat selama hampir 20 menit tanpa merasa lelah atau resah melainkan terus makin mendalami lebih lagi.

Lulusan Conservatoire National Superior di Lyon dan Paris ini menunjukkan kepiawainnya dalam memainkan 3 Prelude karya Debussy: La Puerto del Vino yang menggambarkan kehidupan Spanyol dengan ritmik habanera yang lincah, Bruyeres yang menggambarkan suasana pastoral dengan musik tonalnya, dan ditutup dengan General Levine yang gagah dengan gaya marching serta cakewalk. Selanjutnya giliran karya komponis Spanyol, Manuel de Falla, yang diperdengarkan lewat Fantasia Baetica; sebuah karya yang banyak memakai gaya flamenco dalam progresi harmoni dan ritmik, figur gitar, serta pencampuran elemen musik Perancis yang kental terlihat dari motif dan pemakaian pedal. Sebagai salah satu karya terabstrak Falla, komposisi ini dianggap ditulis untuk menghormati Debussy, tokoh yang diidolakannya. Daudet membawakan ritme-ritme menjadi sangat hidup dan penuh kejutan.

WhatsApp-Image-20160617

Konser pun ditutup dengan kolaborasi antara gitaris kenamaan Indonesia, Sudirman Leman, dengan Daudet sebagai reduksi orkestra. Membawakan karya standar lulusan konservatori musik, Concerto de Aranjuez karya Joaquin Rodrigo, lulusan University of Music and Dramatic Arts Austria ini tampil dengan tenang dan matang. Nada-nada yang cepat dalam gerakan pertama dimainkan dengan tonalitas yang penuh. Pada gerakan kedua, bagian paling terkenal dan tidak jarang diambil sebagai ide komposisi lain (Spain, Chick Corea) menunjukkan keindahan ornamentasi barok dan harmoni yang menciptakan nuansa khas negeri Matador. Resonansi dan vibrato yang dibuat mampu mempercantik suara petikan dalam ruangan berkapasitas 100 orang tersebut dan merayu pendengar untuk jatuh cinta terhadap instrumen ini. Memang tidak dapat dipungkiri dengan dukungan orkestra lengkap pasti mampu memberikan sentuhan warna yang lebih kaya. Namun concerto ini pun tetap ditutup dengan tarian yang lincah di gerakan ketiga, sebuah penampilan yang dapat dinikmati baik kaum awam maupun gitaris klasik lainnya.

~ Vincent Wiguna adalah pengajar piano dan teori musik di Yayasan Musicorum dan aktif sebagai pianis kolaboratif di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: