Kabar Terkini

Ramai Festival Ulangtahun Jakarta yang Batal Sepihak


~ dari tempo.com dan kompas.com

Jakarta Anniversary Festival 2016 tidak diadakan namun telah memakan korban. Sedianya dalam surat edaran, Unit Pelaksana Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki akan mengadakan sebuah festival menjelang peringatan ulang tahun Jakarta dan mengundang beberapa kelompok seniman untuk turut meramaikan. Namun acara tersebut dibatalkan dengan alasan anggaran tidak ada dan acara tidak sejalan dengan fungsi UP yang bergerak di ranah fasilitas.

“Kami merasa dilecehkan, kami diundang secara resmi dan dibatalkan sepihak. Padahal selama ini tak ada pembicaraan tentang kendala acara ini,” ujar pimpinan grup Cilay Ensemble, Muhammad ‘Cilay’ Ichsan saat konferensi pers di Fakultas Musik Institut Kesenian Jakarta, Kamis, 16 Juni 2016. 

Terhadap tuntutan para seniman yang dirugikan, Imam (Hadi Utomo, kepala UP PKJ TIM) mengatakan tak pernah ada laporan kepadanya bahwa para seniman sudah melakukan latihan dan publikasi. Mekanisme APBD, mengharuskan adanya kontrak. “Tuntutan bagaimana, wong belum ada kontrak. Makanya saya batalkan sebelum ada kerugian lebih besar. Kalau mereka tidak nyaman ya harus dimaklumi.” 

Persoalan ini apabila menilik tulisan dari Kompas sebenarnya terjadi akibat ketidakpahaman musisi pendukung acara dengan mekanisme UP PKJ dan ranah kerjanya. Di samping hadirnya oknum UP PKJ yang membuat surat edaran dan undangan tanpa ada kejelasan, seniman pun seharusnya mampu menyikapi persoalan ini dengan meminta finalisasi perjanjian kerja lewat kontrak hukum yang jelas.

Tentu pembatalan yang dilakukan oleh UP PKJ dapat dikatakan tidak melanggar hukum, sebab pembentukan panitia dikabarkan belum ada, juga belum ada kontrak kerja yang menjadi payung hukum kegiatan ini. Juga apabila diamati lebih jauh, fungsi UP PKJ dalam kebijakan kebudayaan Pemda DKI sudah sangat jelas dan hanya berkecimpung dalam pengelolaan fasilitas dan bukan fungsi kuratorial yang diamanatkan pada Dewan Kesenian Jakarta. Mengingat hal tersebut adalah arif apabila pihak pendukung acara segera meminta finalisasi kontrak di muka untuk memastikan ikatan hukum dan perjanjian kerja kepada UP PKJ terlebih mereka bergerak di luar ranah fungsional mereka.

UP PKJ TIM pun tidak memiliki obligasi hukum apapun dari surat undangan dan surat pemberitahuan pembatalan itu, dan tidak dapat dipersalahkan dikarenakan belum ada kontrak dengan musisi. Konferensi pers ini dalam esensi tidak banyak berbicara akan kekeliruan UP PKJ, namun lebih kepada perlunya seniman untuk lebih berhati-hati dan awas dalam menyikapi tawaran kerja. Undangan hanyalah undangan apabila belum diikuti kontrak kerja yang jelas.

Melihat situasi ini, seniman pun perlu lebih awas akan mekanisme yang ada dan juga lebih tanggap dalam berhubungan dengan pemerintah DKI lewat prosedur yang memiliki kepastian hukum yang mengikat. Karenanya, seniman pun dituntut untuk memahami ikatan kerja dan mekanisme hukum di belakangnya sebagai bagian dari manajerial seni pertunjukan. 

Persoalan besarnya adalah dengan dibatalkannya acara ini berarti penyerapan anggaran kesenian di DKI Jakarta akan menunjukkan rapor merah. Apabila tidak diikuti dengan sebuah kegiatan pengganti yang dilaksanakan oleh badan fungsional yang tepat dalam waktu dekat, sebenarnya kita menyaksikan sendiri bagaimana kesenian belum jadi agenda utama Pemerintah DKI Jakarta. Kabar ini adalah kabar yang lebih menyedihkan karena tampak ketidaksiapan elemen-elemen pemerintah untuk berinvestasi pada kesenian di Jakarta. Apabila birokrasi sungguh berjalan lancar, kita sebenarnya dapat melihat peralihan inisiatif ini dari UP PKJ ke DKJ, yang tentunya lebih berpihak pada kesenian dan pekerja seni dibandingkan sekedar membatalkan acara tersebut. Sebuah pesan dibalik ‘penghematan anggaran dan payung hukum’ untuk semua kita.
– photo: http://pandji.com/wp-content/uploads/2013/10/ONROP-photo-by-erieknjuragan10_-0004.jpg

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: