Kabar Terkini

Yang Muda, yang Berkarakter: Ruisi Quartet


Kelompok yang digawangi pemusik muda seringkali mendapat stereotipe sebagai kelompok yang lincah, berenergi dan segar namun seringkali tidak berarah. Jujur saja, inilah yang ada di benak penulis ketika menghadiri sebuah konser tengah hari (lunchtime concert). Bertempat di Gereja St. James di Piccadilly, penulis telah bersiap dengan segala kemungkinan: konser siang hari di gereja oleh kelompok musik yang namanya belum tentu dikenal. Tapi siang ini, stereotipe dan ekspektasi penulis dijungkirbalikkan sepenuhnya.

Ruisi Quartet, sebuah kuartet gesek yang dibentuk oleh dua orang bersaudara Alessandro (biola 1) dan Max Ruisi (cello) serta Guy Button (biola 2) dan Asher Zaccardello (biola alto) sungguh tampil dengan performa penuh. Berenergi, tanggap dan berkarakter, kuartet ini ternyata telah memiliki kematangan musikal yang paripurna didukung dengan kejernihan yang luar biasa. Tiga Divertimenti karya Benjamin Britten yang membuka konser di Senin siang ini menjadi bukti bagaimana fasih keempat musisi muda ini mengeksplorasi ekspresi dan ranah musikal mereka. Musik terasa hidup, bernafas dan menjadi bukti solidnya permainan mereka baik secara individu maupun permainan musik kamar yang apik dibina bersama. Temperamen dan kekokohan di bagian pertama March dibalas dengan puitis di bagian kedua Waltz dan ditutup dengan keanggunan yang jenaka di bagian ketiga Burlesque.

Kuartet ini ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka telah menjelajahi Eropa dan di London telah naik panggung di berbagai panggung musik kamar ternama seperti Wigmore Hall dan Kings Place dan telah menjadi Kuartet Residen di Royal College of Music di tahun 2013/2014 lalu. Penerima anugerah kelompok gesek terbaik Young British String Players yang diadakan Royal Philharmonic Society di tahun 2015 juga menunjukkan keberanian mereka dalam mengungkapkan ide musikal mereka yang bisa jadi berbeda, namun disampaikan dengan meyakinkan.

String Quartet Haydn Op.76 no.2 ‘Fifths’ adalah saat mereka menunjukkan warna mereka sebagai kuartet yang mempunyai visi musikal tersendiri. Perlu dicatat, karya kuartet Haydn yang cenderung transparan mampu menjadi etalase seberapa berkualitas kelompok kuartet yang memainkannya. Siang itu permainan mereka memiliki dimensi yang berbeda yang lagi membongkar persepsi mendasar akan kuartet Haydn yang cenderung dianggap sebagai karya kuartet mula-mula tanpa intrikasi yang kompleks. Dengan citarasa, Quartet Ruisi mengetengahkan pendekatan yang hangat dan bahkan menjejak pada mosi Sturm und Drang. Persepsi Haydn yang klasik anggun seakan dirombak untuk menjadi jembatan periode musikal menuju masa romantik yang bergairah. Namun uniknya mereka tidak pula terjebak pada mosi romantik yang berbunga-bunga sehingga Haydn sang Bapak Kuartet Gesek dan Simfoni ini tidak tenggelam di dalamnya. Tidak ayal, kelompok ini pun berani untuk menjadikan seluruh kuartet Haydn sebagai jurus pamungkas mereka. 

Siang ini siang yang tak terduga dan membuka mata, kejutan cantik yang melampaui ekspektasi.img_3951

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: