Kabar Terkini

Di Belanda Membedah Seriosa Indonesia

”. Maria Yolanda Haliman (pianis) dan Satriya Krisna (tenor)

~pianis Ruth Petra Alexandry berbagi pengalaman mendukung acara

Hari Jumat tanggal 13 Mei 2016 merupakan hari yang bersejarah bagi perkembangan musik klasik Indonesia. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Negeri Belanda bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Musik dan Musisi Indonesia di Belanda mengadakan konser dengan tujuan utama untuk memperkenalkan karya-karya komposer Indonesia di dunia Internasional. Konser kali ini berjudul “SERIOSA – Indonesian Art Songs Concert”. Seperti judul konser tersebut, lagu seriosa Indonesia menjadi tema utama pada konser ini. Ide untuk mengadakan konser dengan tema lagu seriosa Indonesia ini muncul ketika para pelajar musik klasik di Belanda sedang membicarakan buku Antologi Musik Klasik Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2013.

Separuh anggota dari Perhimpunan Pelajar Musik dan Musisi Indonesia di Belanda tersebut adalah penyanyi sehingga mereka tahu cukup banyak tentang lagu seriosa Indonesia, sedangkan separuh sisanya sama sekali tidak pernah mendengar tentang karya-karya tersebut. Seperti kebanyakan mahasiswa musik lainnya, respon pertama ketika mendengar tentang karya yang belum dikenal adalah dengan mencoba memainkannya saat itu juga. Semua merasa terpukau dengan keindahan lagu-lagu seriosa tersebut dan merasa amat sangat disayangkan jika karya-karya ini tidak diperkenalkan ke khalayak luas.

Mahasiswa Musik Belanda3

Gambar kiri: Eunike Christi Indrawan (pianis) mengiringi Marlina Deasy Hartanto (soprano), gambar kanan: Ardelia Padma Sawitri (soprano) diiringi Cesar Yuwono (pianis)

Bak gayung bersambut, tidak lama setelah itu Bapak Bambang Hari Wibisono, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda menghubungi Satriya Krisna, salah satu penyanyi yang juga merupakan pelopor pendiri Perhimpunan Pelajar Musik dan Musisi Indonesia di Belanda dan beliau menawarkan para pelajar musik klasik di Belanda untuk mengadakan konser musik klasik bekerja sama dengan Kedubes RI di Belanda. Semua mahasiswa musik pun sangat antusias dan semua turut bahu-membahu mempersiapkan konser ini. Para mahasiswa musik yang terlibat dalam konser ini adalah Ardelia Padma Sawitri, Marlina Deasy Hartanto, Satriya Krisna, Caesar Yuwono, Revy Siswanto, Petra Ruth Alexandry, Eunike Christy Indrawan, Yolanda Haliman dan Stephanus Harsono.

Ardelia dan Revy merupakan pasangan duo pertama yang membuka konser malam itu. Dea, begitu soprano kelahiran Bandung ini biasa disapa, membuka konser dengan lagu karangan Mochtar Embut berjudul “Setitik Embun”. Dentingan piano iringan Revy pun berhasil menciptakan atmosfer melankolis sehingga Dea pun mampu mengekspresikan kerinduan dan kesedihan yang tersurat dalam lagu ini. Kedua musisi yang sama-sama menempuh pendidikan di Hogeschool voor Kunsten Utrecht juga menampilkan “Lebur” karya F.X. Soetopo, “Kisah Angin Malam” karya Syaiful Bahri dan “Lagu Buaian” karya Syafii Embut. Dea dan Revy berhasil menjalin kerjasama dengan baik sebagai duo meskipun mereka baru bermain bersama dalam jangka waktu yang cukup singkat. Sebagai pianis pengiring, Revy mampu memberikan sokongan kepada Dea sehingga Dea bisa berekspresi dengan bebas di semua lagu yang mereka tampilkan.

Mochtar Embut nampaknya adalah salah satu komposer favorit Marlina Deasy Hartanto, yang biasa dipanggil Deasy. Empat dari lima lagu yang dia tampilkan malam ini adalah lagu-lagu ciptaan Mochtar Embut. Bersama dengan Petra, Deasy menampilkan “Sandiwara” dan “Siklus Sajak Puntung Berasap” yang ditulis berdasarkan sajak Usmar Ismail. Diawal permainan mereka, Deasy terlihat cukup gugup namun seiring dengan berjalannya pertunjukan Deasy pun berhasil menguasai panggung dan terlihat sangat menikmati penampilan tersebut. Komposisi ciptaan komposer wanita Indonesia ternama, Trisutji Kamal, juga turut ditampilkan oleh Deasy dan Petra. Karya tersebut berjudul “Tembang”. Lagu ini mencerminkan kekaguman dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan lagu ini bisa juga ditafsirkan sebagai doa kepada Sang Pencipta. Petra terlihat mengambil waktu hening sejenak sebelum bermain untuk meresapi makna dan kata-kata dari lagu tersebut. Pianis asal Jakarta yang akan menyelesaikan program bachelor di Conservatorium van Amsterdam pada bulan Juni nanti berhasil menciptakan suasana khidmat yang terpancar di lagu tersebut. Keheningan yang menyergap berhasil membawa penonton ke dalam suasana yang syahdu.

Mahasiswa Musik Belanda1

Gambar kiri: Revy Siswanto (pianis) dan Ardelia Padma Sawitri (soprano), gambar kanan: Petra Ruth Alexandry (pianis) dan Marlina Deasy Hartanto (soprano)

Dibandingkan dengan seluruh pasangan duo yang tampil pada konser “SERIOSA – Indonesian Art Songs Concert”, Satriya dan Yolanda adalah pasangan duo yang telah bekerja sama paling lama. Hal ini pun terlihat dari kekompakan yang dimiliki duo yang telah bermain bersama sejak tiga tahun terakhir. Keduanya terlihat amat rileks dan percaya diri sejak awal penampilan mereka. Sang pianis, Yolanda Haliman, terlihat agak malu-malu saat menjelaskan kepada penonton tentang latar belakang lagu-lagu yang akan ditampilkan mereka saat itu. Namun pada saat dia duduk di piano dan memulai permainannya, seketika Yolanda terlihat seperti orang lain dan bermain dengan penuh percaya diri. Mereka menampilkan “Dewi Anggraini” karya Iskandar, “Puisi Rumah Bambu” karya F.X Soetopo yang dikarang berdasarkan puisi karya Kirdjomoeljo dan “Wanita” karya Ismail Marzuki. Suara Satriya Krisna, tenor yang belajar di bawah bimbingan Henny Diemer ini sangat membahana dan mengundang decak kagum para penonton mengisi penuh auditorium. Banyak penonton yang turut bersenandung bersama saat Satriya dan Yolanda menampilkan lagu karangan Ismail Marzuki yang berjudul “Wanita”.

Dikarenakan jumlah vokalis dan pianis yang tidak sesuai, tiap vokalis pun tampil dengan dua pianis yang berbeda. Setelah istirahat, konser kembali dibuka oleh Deasy dan Eunike. Keduanya pernah belajar di sekolah musik yang sama di Jakarta, yaitu Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik. Namun mereka baru bermain bersama di Belanda karena keduanya sama-sama menempuh pendidikan di Koninkljik Conservatorium Den Haag. Sebagai pasangan duo vokal-piano, mereka menerima bimbingan dari Han-Louis Meijer dan Hans Eijsackers dan tampil bersama dalam berbagai konser selama setahun terakhir. Dibawah bimbingan kedua guru tersebut, Deasy dan Eunike mematangkan permainan mereka sebagai duo vokal-piano dan hal tersebut bisa terdengar dari permainan mereka yang terdengar solid. Deasy dan Eunike menampilkan karya-karya Mochtar Embut yan berjudul “Srikandi” dan “Siklus Sajak Bumi Hijau. Permainan Eunike berhasil menggambarkan kata-kata yang digunakan dalam sajak dari W.S. Rendra tersebut sehingga penampilan ini terdengar dinamis.

Di babak kedua ini Dea berpasangan dengan Caesar, pianis asal Surabaya yang sejak tahun ini melanjutkan pendidikan musiknya di Conservatorium van Amsterdam di bawah bimbingan Frank Peters. Dengan kostum khas Bali dan bertelanjang kaki, Caesar menjelaskan tentang lagu-lagu yang mereka tampilkan dengan penuh semangat. Pada konser malam ini mereka menampilkan “Cintaku Jauh di Pulau” karya F.X. Soetopo yang terinspirasi dari sajak karya Chairil Anwar. Selain itu, mereka juga membawakan “Lagu Pujaan” karya Iskandar dan “Taman Tak Bernama” karya Mochtar Embut. Sungguh sangat menghibur hati untuk melihat musisi muda seperti Caesar yang bermain dengan penuh semangat, namun terkadang permainannya yang berapi-api menutupi suara Dea.  Namun seperti kebanyakan pasangan duo yang tampil pada malam ini, Dea & Caesar mampu bekerja sama dengan baik meskipun mereka baru mulai bermain bersama dalam jangka waktu yang cukup singkat. Penampilan perdana mereka sebagai duo ini sangat menarik dan hidup.

Selain cemerlang dalam memainkan karya-karya untuk piano solo, Stephanus Harsono juga menunjukkan kebolehannya sebagai pianis pengiring. Stephanus tampil bersama Satriya sebagai penampil terakhir membawakan lagu karya Syafii Embut yang berjudul “Cempaka Kuning” dan “Malam Indah” serta “Bukit Kemenangan” karya Djauhari. Pemenang Prinses Christina Concours 2014 ini juga memiliki karakter permainan yang cukup mirip dengan teman seperguruannya, Caesar, yaitu penuh semangat dan menggebu-gebu. Dipadukan dengan Satriya yang memiliki suara yang juga memiliki karakter kuat dan membahana, pasangan duo ini menutup dengan “Bukit Kemenangan”. Seperti judulnya, lagu ini tentu saja memiliki karakter yang berapi-api dan terdengar seperti lagu mars.  Stephanus dan Satriya menutup konser dengan sukses dan penonton pun bertepuk tangan dengan riuh. Sebagai encore, seluruh penyanyi yaitu Satriya, Deasy dan Dea membawakan lagu berjudul “Desaku” karangan Ibenzani Usman dan diiringi oleh Stephanus.

Konser pertama hasil kerjasama antara Kedubes RI di Belanda dan Perhimpunan Pelajar Musik dan Musisi Indonesia di Belanda ini terbilang sukses. Auditorium terisi penuh dan seluruh penonton terlihat antusias dengan konser ini. Banyak diantara penonton yang mengungkapkan kekaguman mereka terhadap indahnya karya komposer-komposer Indonesia yang selama ini tidak mereka ketahui sebelumnya. Sebagai bagian dari memperkenalkan karya komposer-komposer Indonesia di dunia internasional, Kedubes RI di Belanda dengan bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendistribusikan buku Antologi Musik Klasik Indonesia ke seluruh konservatorium dan kalangan musisi profesional di negeri Belanda. Konser ini diharapkan menjadi langkah awal dikenalnya karya-karya musik klasik Indonesia dan bisa menjadi pemicu digelarnya konser-konser lain yang memberikan kontribusi pada perkembangan musik klasik Indonesia.

Salam musik Indonesia!

Mahasiswa Musik Belanda4

Stephanus Harsono (pianis) & Satriya Krisna (tenor)

 

Gambar diambil oleh Herwin Wels

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: