Kabar Terkini

Kekerasan dalam Mengajar Musik


Persoalan yang berkembang tentang kasus pencubitan yang dilakukan guru di Sidoarjo yang berujung pada pelaporan ke polisi oleh orang tua dan demo dari para guru sebagai bentuk protes, mencerminkan bagaimana paradigma pendidikan dibentuk dan dipertentangkan, dan sebenarnya tidak terkecuali pendidikan musik. Belum lagi dengan ramainya tanggapan netizen terhadap mereka yang memprotes kekerasan terhadap murid dan menganggapnya sebagai sebuah perlawanan terhadap sistem pendidikan.

Beberapa dekade lalu, adalah tidak jarang melihat pendidikan musik dan seni juga dibina berdasarkan bentuk hukuman fisik dan bahkan pemukulan pada murid dengan alasan memberi pelajaran. Beberapa aktivitas ini bahkan juga tidak sedikit meninggalkan bekas dan trauma bagi peserta didik. Beberapa bahkan melihat seni bukan saja tidak menarik, namun juga menjadi bidang yang dihindari dikarenakan pengalaman pribadi yang pahit. Meskipun demikian banyak bentuk pendidikan seni dan pendidikan umum yang telah berubah sejak saat itu.

Yang menarik adalah melihat diskusi yang terjadi di sosial media dan yang diangkat kaum guru saat ini dalam kasus di Sidoarjo. Pembelokan kasus malah yang justru terjadi, bahwa anak yang menjadi korban pencubitan hingga meninggalkan 3 bekas tanda membiru itu adalah anak dari anggota militer, yang kemudian menjadi sasaran amarah karena dianggap sebagai kesewenangan aparat. Di sisi lain dari solidaritas para guru yang terjadi adalah polemisasi bahwa guru telah kehilangan otoritasnya di kelas. Sekarang pun persoalan diperumit dengan biasnya sekolah dengan menutup kesempatan seorang anak untuk mengenyam pendidikan dengan menolak menerima anak korban kekerasan ini masuk ke sekolah mereka. Solidaritas yang sudah terlewat batas dan malah dijawab dengan mempertontonkan kekuasaan lewat merampas hak anak untuk memperoleh pendidikan, sebuah tindak ‘bullying‘ kolektif guru terhadap anak tersebut.

Pun netizen menjawab protes dari orang tua murid sebagai penolakan orang tua terhadap pendidikan secara umum. “Kalau begitu anaknya dididik sendiri saja, tidak usah disekolahkan” adalah tanggapan yang berkembang di dunia maya, perlambang bahwa pendidikan dalam pemahaman masyarakat masih lekat dengan kekerasan, seakan tiada pillihan lain dalam mendidik anak terkecuali memahfumi bahwa kekerasan adalah bagian penting darinya.

Diskusi yang berkembang ini sebenarnya telah melenceng jauh dari persoalan yang sebenarnya yakni apakah kekerasan fisik dibenarkan dan diperlukan dalam proses pendidikan?

Kekerasan fisik sebenarnya malah justru berpangkal bukan pada melemahnya otoritas guru ataupun arogansi anggota militer, namun lebih kepada mencuatnya inkompetensi pengajar dan paradigma pendidikan yang ada di Indonesia. Kekerasan fisik dianggap sebagai sebuah resolusi terbaik yang dapat membangkitkan efek jera dan ‘ rasa takut akan otoritas’ dibandingkan dengan cara-cara inovatif untuk mendidik, mengarahkan dan membangkitkan pengertian anak akan kesalahan dan tanggung jawabnya.

Salahkah orang tua murid mengadu pada polisi? Atau salahkah sang guru yang memberi hukuman fisik? Atau malah lebih parah, justru menyalahkan si anak yang memilih untuk jadi anak nakal dan dalam kasus ini sehingga ia tidak lagi berhak mendapat pendidikan umum secara layak di sekolah?

Sudah saatnya pula pendidikan kita bercermin, demikian juga pendidikan seni dan musik kita. Sejauh apakah guru musik mampu menciptakan kecintaan musik sekaligus menanamkan nilai pada anak didiknya? Musik pun beberapa dekade lalu masih menyaksikan bagaimana seorang murid dipukul entah tangan atau anggota tubuhnya dengan oleh sang guru, bahkan dengan penggaris. Cubit atau jewer seakan menjadi sebuah solusi. Penulis pun pernah mengalami pelemparan benda oleh seorang guru musik – sebuah pertunjukan ketidakberdayaan seorang guru dan bukan kedewasaan sebagai seorang profesional serta kebijaksanaannya sebagai seorang pendidik.

Semoga guru musik dan budaya lebih berbudaya dan tidak terjun dalam tindak kekerasan sebagai solusi pintas dalam mendidik. Bagaimanapun kekerasan adalah kekerasan dan guru sebagai sosok cendekia tidak sepantasnya turun derajat dan mengandalkan kekerasan sebagai sarana mendidik.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Kekerasan dalam Pendidikan? Harus Diubah, Seni Kuncinya – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: