Kabar Terkini

Menyoal Demam Panggung


~dari blog Vanessa Tunggal, diterjemahkan oleh Michael Mulyadi – emphasis original

Setiap kali saya akan pentas ataupun tampil di resital, orang-orang pasti kerap kali bertanya, “Mengapa kamu melakukannya?”

Dulu saya percaya bahwa ada orang yang dilahirkan untuk menjadi penampil, adapun yang tidak. Namun kini saya berubah pendapat. Saya percaya bahwa semua orang punya kemampuan untuk tampil di depan umum dengan baik tapi beberapa musisi tidak tahu bagaimana caranya agar nyaman berada di atas panggung. Orang-orang pun bereaksi berbeda dengan ‘demam panggung’ dan beberapa membutuhkan waktu yang lebih di pentas maupun lebih banyak pengalaman di tampil di atas pentas untuk mengatasi persoalan ini dan menjadikan mereka penampil yang matang. Bagaimanapun, beberapa musisi tidak punya keberanian maupun mengambil kesempatan untuk tampil memainkan lebih dari satu buah karya pendek di atas pentas.

Saya sendiri tidak pernah merasa sebagai penampil yang percaya diri. Saya membutuhkan waktu yang panjang untuk merasa nyaman di atas pentas. Pun saya sering berada di bawah performa terutama di karya-karya awal resital maupun ujian. Sulit rasanya untuk bermain ketika orang lain menonton, walaupun hanya ada tiga orang penonton. Setiap kali guruku kerap mengatakan, “Kamu harus keluar, lepas dan bermain.” Saya pun selalu menjawab dengan argumen favorit saya, “Tidak, aku bukan pianis yang baik, gampang sekali gugup…”

Beruntung di salah satu pelajaran, saya mendapat jawaban ini, “Baik, kalau begitu kamu tahu apa yang harus kamu lakukan apabila merasa mudah gugup? Kamu harus tampil lagi, lagi, dan lagi dan LAGI! Ikutilah kompetisi! Kamu harus keluar dan bermain! Banyak pianis profesional menguji coba program konser mereka dalam tataran kecil dulu sebelum tampil di hadapan penonton yang lebih banyak. Kamu bukan profesional, kan? Lantas mengapa kamu berharap bisa tampil sempurna hanya dengan sekali mencoba?”

Saya pun jadi berpikir, “Apabila penampil hebat saja terus tampil, dan mereka akan terus berkembang karenanya. Aku di sini cuma duduk di bangku piano di ruang latihan ketakutan untuk tampil?!” Aku tidak akan berkembang hanya dengan begini! “Kamu tidak harus jadi hebat hanya lewat sekali coba, tapi kamu harus mulai menjadi hebat.” Setidaknya aku harus memulai. Tidak bisa aku hanya terus menunggu sampai merasa siap sekalipun sebenarnya aku telah siap.

Jadi, mengapa aku harus melakukannya? Untukku, ini bukan masalah pamer keahlian (Sayangnya, aku belum punya keahlian hebat… sampai sekarang), tapi aku melakukannya untuk menantang diriku sendiri untuk mengalahkan demam panggung dan untuk berbagi musik. Setelah bertambah pengalaman, aku pun merasa penampilanku (sedikit) lebih baik.

Sesungguhnya pernyataan “tidak masalah kalau kamu bermain salah ataupun lupa musik ketika tampil” adalah benar, tapi jangan jadikan alasan untuk tidak belajar mengatasi rasa gugup. Musisi harus mampu tampil dengan baik sekalipun dalam tekanan.

Bagaimana kami menginspirasi orang apabila kamu tidak tampil dengan baik?

Bagaimana kamu dapat membagikan musik apabila kamu sendiri tidak bisa memainkan musik tersebut di depan orang lain?

Apa bagusnya kalau musik yang indah cuma bisa didengar dirimu sendiri di dalam ruang latihan?

Dan apakah pentingnya bermain musik apabila kamu tidak punya maksud untuk berbagi sukacita musik kepada orang lain?

Seorang guru pernah mengatakan bahwa kali pertama kamu menampilkan musik adalah saat terburuk, dari sana semuanya akan berangsur lebih baik. Teman saya pun pernah mengatakan bahwa baginya bermain instrumen dan pentas adalah dua keahlian yang berbeda. Jadi, satu-satunya cara adalah memulai untuk belajar dan mengembangkan keahlian itu. Kamu tidak bisa menghilangkan demam panggung, tapi kamu akan tahu dan mampu mengatasinya.

Satu pepatah mengatakan, “The terror of performing never goes away. In fact, you get very, very comfortable being terrified.” “Teror di atas pentas tidak akan pernah hilang. Nyatanya, kamu akan menjadi nyaman sekali menghadapi ketakutan tersebut.”

pertama diterbitkan dalam blog Vanessa Tunggal dalam bahasa Inggris

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: