Kabar Terkini

Sacra dan Profana, Dua Konser di Dua Sisi Thames


Tanggal 14 di bulan Juli bisa jadi adalah saatnya banyak orang berlibur di Inggris ini. Banyak gedung-gedung konser pun juga mengurangi jadwal pentas ataupun lebih memilih menjamu kelompok lain untuk tampil di tempat mereka. Namun meski sudah memasuki masa liburan, ternyata dua gereja masih aktif menyelenggarakan konser. St. Martin-in-the-Fields dan St. John’s Waterloo masih sibuk menyelenggarakan konser di hari Kamis ini. Dengan jarak kedua tempat kurang dari 15 menit berjalan satu dari yang lain, dua gereja ini memang dikenal sebagai penyaji konser-konser berkualitas di London, sebuah alternatif dari banyak gedung konser dan resital di kota ini.

Siang ini di St. Martin-in-the-Fields adalah giliran seri Great Sacred Music yang mengambil tempat di jam makan siang pukul 1:00. Sebuah seri yang baru diinisiasi gereja ini, Great Sacred Music menyajikan karya musik gereja bersejarah disertai pemaparan tentang musik gereja yang didominasi karya paduan suara tersebut. Diselenggarakan setiap hari Kamis dalam setahun, konser ini digarap langsung oleh ensembel paduan suara profesional di gereja ini, St. Martin’s Voices yang terdiri dari 11 orang, dipimpin oleh direktur musik Andrew Earis dan diiringi permainan organ Jeremy Cole.

Paduan suara ini memang menunjukkan kematangan yang menawan. Hanya dengan dukungan 11 orang, tiga orang sopran bernyanyi lembut mengalun disertai kontrol yang luar biasa. Tiga orang alto memberi warna keemasan yang terdengar empuk di telinga. Tiga orang tenor pun bernyanyi denganfasih, lentur disertai kecemerlangan. Sedang dua orang di barisan bas memberi sentuhan hangat sekaligus kokoh. Berdiri membentuk setengah lingkaran, paduan suara menggarap karya-karya musica sacra ini dengan ketelitian yang mendalam disertai pemahaman harmoni yang mendalam sehingga setiap pergerakan nada terjalin kompak, bersih sekaligus musikal, sebagaimana arahan Earis yang lembut namun mendetail.

Dengan tema ‘Melodic roots and poliphonic branches’ paduan suara ini menggali karya-karya musik gereja yang diilhami sebuah nyanyian sederhana dan kemudian berkembang menjadi sebuah karya paduan suara lengkap. Ubi caritas (Duruflé) membuka konser diikuti himne ‘I cannot tell’ yang diambil dari melodi ‘O Danny Boy’. Berturut ‘Te lucis ante terminum’ (Tallis), melodi ‘L’homme armé’ yang populer di abad 15 kemudian diikut karya Kyrie dari karya misa yang mengambil inspirasi dari melodi ‘L’homme armé’ yang dinyanyikan sebelumnya karya Dufay. ‘Os Justi’ karya Bruckner kemudian mengisi ruang gereja yang dibangun tahun 1722 itu dan kemudian ditutup kembali dengan karya ‘Ubi caritas’ namun kali ini mengambil versi Paul Mealor yang pernah digarap sebagai karya lain namun disesuaikan untuk dinyanyikan dalam pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton beberapa tahun lalu. Konser pendek sepanjang 40 menit yang cocok untuk mengurai mumet pikiran di sela-sela istirahat siang.

Petualangan mencari musik dari gereja ke gereja belum berhenti. Sore harinya giliran konser Rush Hour gratis diadakan di St. John’s Waterloo yang terletak tepat diseberang stasiun ternama Waterloo. Berada di bibir selatan sungai Thames, penulis pun menyeberang sungai dari sisi utara tempat St. Martin’s berada. Di setiap Kamis pukul 6.00 di gereja St. John’s ini, Southbank Sinfonia menyajikan konser gratis untuk menunggu kemacetan dan bubaran kerja mereda dan hari itu kursi St. John’s pun penuh terisi penonton, dari pensiunan, mahasiswa hingga mereka yang berkemeja berjas yang baru saja keluar dari kantor. Disertai segelas anggur gratis, penonton disuguhi karya orkestra penuh dibawah pimpinan direktur musik Simon Over dari orkestra penuh waktu yang diperuntukkan bagi lulusan-lulusan jurusan musik untuk menimba pengalaman bermain dalam orkestra profesional.

Konser pun dibuka dengan karya Gioachino Rossini ‘Introduction, Theme and Variations’ dengan menampilkan virtuositas prinsipal klarinet Jordi Juan-Perez. Karya ini menawarkan melodi yang panjang yang harus dijalin dengan prima oleh solis klarinet. Perez mampu menggarap karya dengan kejenakaan dan kelincahan yang dituntut oleh Rossini, setiap kontras pun tergarap dengan optimal sembari padu berdialog dengan orkestra. Konser pun berlanjut dengan karya konserto monumental dari Edward Elgar ‘Cello Concerto’. Sebagai solois, cellis Philip Higham mengambil tempat. Permainannya yang ekspresif di atas cello Carlo Giuseppe Testore buatan tahun 1697 sungguh memukau. Tonenya yang tebal berbaur sembari mengarahkan orkestra dalam lantunan nada yang penuh penghayatan dan kecemerlangan. Kualitas permainan Higham sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia diminta untuk bermain darurat untuk menggantikan cellis orkestra yang mendadak sakit. Permainannya yang penuh keyakinan menjadi buah tangan yang manis malam itu.

Perlahan pun kesemrawutan London di waktu sore mengurai dan musik pun membekali para penonton yang memadati dua buah gereja ini. Tidak rela rasanya hanya menonton tanpa memasukkan sedikit sumbangan ke ember yang dipegang oleh penyelenggara. Meski sedikit biarlah uang yang tidak seberapa ini menjadi tanda terimakasih sekaligus dukungan untuk keberlangsungan geliat seni di sini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: