Kabar Terkini

Malam bersama King’s College Cambridge dan Orchestra of the Age of Enlightenment


Malam Senin ini, Royal Albert Hall penuh sesak. Tiket pun habis terjual dan 5500 orang memadati salah satu arena konser paling bergengsi di dunia ini. Program malam ini adalah bagian dari festival BBC Proms 2016, sebuah festival musik seni sepanjang 8 minggu yang dikenal dengan tiketnya yang sangat terjangkau. Yang tampilpun juga spesial: Choir of King’s College, Cambridge dan Orchestra of the Age of Enlightenment (OAE).

Choir of King’s College, Cambridge adalah salah satu paduan suara yang ternama di negeri ini yang berasal dari salah satu kolese tertua di University of Cambridge. Sedang OAE adalah orkestra yang mengedepankan pendekatan historis yang bermarkas di pusat kebudayaan Inggris Southbank Centre. Keduanya memiliki reputasi yang terpercaya. Stephen Cleobury, direktur musik King’s College, yang memimpin konser ini.

Barisan paduan suara King’s College ini secara tradisi diisi barisan lelaki, dari mereka yang berusia 8 tahun hingga mahasiswa Cambridge yang mengisi barisan alto, tenor dan bass. Tak kurang 19 anak usia 8-12 tahun mengisi barisan sopran. Sedang 14 pria mengisi barisan 3 suara lainnya. Paduan suara yang dibentuk tahun 1441 ini pun tampil dengan mengutamakan musikalitas dan tutur yang lugas. Adalah tantangan bagi paduan suara manapun untuk mampu mengisi ruang yang sedemikian besar seperti Royal Albert Hall ini, terlebih apabila paduan suara ini terbiasa dengan akustik gothik King’s College Chapel di mana mereka bernyanyi dalam kebaktian setiap harinya. Namun di Royal Albert Hall nampak bagaimana struktur pengolahan suara mereka. Alih-alih menjunjung homogenitas, paduan suara ini lebih mementingkan pengolahan musik dengan beberapa anggota anak senior berperan sebagai jangkar dengan suara anak-anak yang lebih kecil sebagai pendukung – sebuah strategi yang logis untuk akustik kapel itu.

Konser pun dibuka dengan penampilan soprano Lucy Crowe yang menampilkan rangkaian musik Exultate, Jubilate dari Mozart. Ia pun tampil dengan cemerlang dan terkontrol, terlebih dengan karya Mozart yang mengutamakan virtuositas ini. Setelah karya ini giliran semua solois memasuki pentas. Selain Crowe, juga hadir mezzo-soprano Paula Murrihy, tenor Robin Tritschler dan bariton Roderick Williams. Keempatnya menunjukkan pemahaman musikal yang mumpuni dalam membawakan ‘Paucken Messe’ karya F.J. Haydn, salah satu karya misa yang populer dari Bapak Simfoni yang ditulis tahun 1796. Dalam format kuartet keempatnya terdengar independen namun kontrapung terjalin erat.

Di babak kedua yang berpusat pada karya G. Faure, orkestra pun nampak melakukan penyesuaian. Pemain horn mengganti alatnya: horn natural pun berubah jadi horn berkatup. Hal yang sama juga dilakukan pemain tiup kayu yang mengganti alat dengan alat tiup kayu yang modern yang lebih berkilau. Timpani pun tidak lagi membunyikan suaranya yang garing berganti menjadi deru yang bertenaga. Nampak bagaimana orkestra memiliki kesadaran warna permainan yang tinggi. Seketika itu pula konser dibuka dengan karya orkestra, Pavane dari komponis Prancis ini yang dipenuhi warna suara yang rimbun dan tebal. Ya, orkestra ini kini berubah menjadi orkes romantik, meninggalkan spesialisasi mereka di karya musik abad 17-18.

Orkestra pun berganti format untuk terakhir kalinya. Pemain biola pun menyingkir, sedang panggung pun dibanjiri pemain viola dan cello. Cantique de Jean Racine dengan aransemen dari John Rutter pun dimainkan, barisan gesek viola dan cello menemani paduan suara membawakan karya pendek ini. Konser pun dituntaskan dengan karya monumental Requiem, Op.48. Paduan suara yang murni terdengar kontras dengan orkestra dan organ pipa Royal Albert Hall di kejauhan yang cenderung tebal dan gelap dengan permainan kromatis yang memperkaya suasana. Bariton Roderick Williams patut diberi acungan jempol, meskipun hanya bernyanyi di dua nomor, penghayatannya yang mendalam disertai penyampaian yang menggugah menjadi sorotan malam itu. Tak terasa bulu kuduk berdiri ketika mendengar suaranya yang penuh wibawa. Sungguh, karya ini tidak pernah membosankan.

Tepuk tangan membahana di Royal Albert Hall malam itu. Memang, paduan suara anak-anak memiliki kekuatan tersendiri untuk menggugah, dan malam Senin ini pun menjadi bekal yang menyegarkan untuk minggu yang akan datang.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: