Kabar Terkini

Konser: Dari Peristiwa Budaya menuju Perencanaan Budaya


Menelaah buku Graeme Evans yang diterbitkan tahun 2001, Cultural Planning: An Urban Renaissance?, pandangan pun tertuju tentang kegiatan berkesenian musik di Tanah Air. Sudahkah kegiatan kesenian bukan hanya sekedar peristiwa budaya, namun beranjak menjadi sebuah bentuk perencanaan budaya?

Konser sebagai sebuah kegiatan partikuler adalah sebuah kegiatan budaya, sebuah peristiwa budaya dimana bersinggungan ranah sosial di dalamnya. Pemahaman ini adalah hal yang lumrah. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah di manakah asalnya perencanaan budaya? Sebenarnya pergerakan perencanaan budaya bertolak dari kepercayaan bahwa budaya dan seni adalah hak dari semua orang, bahwa perlu adanya pemerataan dalam akses dan keterlibatan masyarakat terhadap budaya dan seni.

Sebagaimana mendapatkan pendidikan adalah hak setiap orang, budaya dan seni pun diperlakukan demikian. Pendidikan pun menjadi bagian dari perencanaan publik, pengaturan anggaran, penyebaran sumberdaya, peningkatan kualitas masuk dalam agenda. Budaya pun juga ikut bermain di dalam pendidikan lewat kualitas intrinsiknya yang meningkatkan kualitas hidup, yang dalam jargon yang kini berkembang ‘memanusiakan manusia’. Budaya pun difasilitasi untuk kemudian meningkatkan taraf hidup, masuk dalam radar perencanaan publik dan digarap sumberdayanya. Hal yang sederhana seperti ketersediaan ruang terbuka publik pun juga menjadi kisah peristiwa dan kebijakan budaya. Budaya pun diyakini harus dikembangkan dalam diri setiap orang – budayanya sendiri yang menjadi bagian dari identitasnya. Peristiwa kesenian pun menjadi bagian dari pengejawantahan budaya tersebut. Pertunjukan direncanakan, pelatihan pun diselenggarakan, dan partisipasi masyarakat juga digiatkan.

Lewat kepercayaan ini muncullah usaha untuk menyajikan budaya dan seni kepada lebih banyak orang, membuka pintu akses terhadap kapital budaya sebagaimana diungkapkan oleh sosiolog Pierre Bourdieu. Dalam tataran ini, perencanaan dalam penyajian dan distribusi pun memegang peranan terlebih dengan berkembangnya paradigma managerialism di mana berimplikasi pada tumbuhnya kepercayaan bahwa hasil yang baik berawal dari pengelolaan yang baik pula baik dalam skala mikro (intra organisasi) hingga skala makro dalam cakupan nasional dan regional.

Dari sinilah kemudian perencanaan budaya menjadi hal yang signifikan. Perencanaan budaya juga tercermin dalam perencanaan dan pengelolaan media, penggarapan cagar budaya, manajemen museum, galeri dan gedung pertunjukan, bahkan dalam pengelolaan pariwisata. Secara implisit pun perencanaan budaya juga tertuang dalam perencanaan publik yang lain seperti regulasi imigrasi, kebijakan ekonomi dan perdagangan. Relasi internasional dan ranah legal pun menjadi bagian dari kebijakan budaya yang implisit sebagaimana diungkapkan David Throsby dalam artikel ‘Explicit and implicit cultural policy: some economic aspects‘ di tahun 2009.

Sebenarnya kita dapat berefleksi tentang kebijakan budaya yang kita miliki saat ini, menariknya dari berbagai kebijakan dan pengelolaan yang ada. Dan perlahan kitapun dapat sedikit mengintip perencanaan kebudayaan seperti apakah yang saat ini ingin kita bangun secara implisit dan apakah perencanaan kebudayaan yang eksplisit dan luas juga dapat diwujudkan di Indonesia. Dari situ kita akan mampu melihat lebih jauh karakteristik serta peranan konser musik yang diselenggarakan dalam perencanaan budaya.

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: