Kabar Terkini

Konser Kembali Bergulir, Agustus dan Nasionalisme


Setelah usai lebaran, kalender konser-konser pun mulai kembali bergeliat. Musik akan kembali mengisi kehidupan warga beberapa kota di bulan Juli dan Agustus ini. Beberapa konser sudah terjadwal dan dapat dilihat dalam penanggalan event A Musical Promenade.

Yang ingin menikmati kembali bunyi-bunyian, dipersilahkan untuk mengintip sedikit jadwal di MusicalProm dan melihat informasi konser yang ada.

Agustus adalah salah satu bulan yang ramai dengan konser. Dan selain berada setelah lebaran, bulan Agustus menjadi lahan yang dapat ‘dioptimasi’ karena lekat dengan peringatan kemerdekaan 17 Agustus. Sedikitnya 3 konser orkestra akan dilaksanakan di Jakarta dan Surabaya untuk memperingati Kemerdekaan RI.

Sebenarnya menarik apabila kita melihat konsepsi nasionalisme Indonesia dan kaitannya dengan musik. Ekspresi musik orkestra dan paduan suara tampak melekat dengan nasionalisme itu sendiri. Jika kurang yakin, lihatlah Paduan Suara dan Orkestra Gita Bahana Nusantara yang selalu mengisi upacara puncak di Istana Merdeka. Belum lagi Korps Musik TNI yang membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan aubade. Jamuan malam di Istana pun sering tidak lepas dari musik.

Mudah untuk menunjuk sejarah sebagai biang keladi. Namun sebenarnya menarik untuk digarap lebih jauh lekatnya nilai nasionalisme di Indonesia dengan musik. Dan nasionalisme nampak mampu menopang alasan bermusik baik dalam melakukan konser ataupun berkompetisi di luar negeri, terbukti dengan maraknya konser bertema nasionalisme.

Tidak habis apabila kita melihat produk seni seperti acara televisi, film layar lebar, musik bahkan teater yang mengambil ceruk nasionalisme. Sungguhkah semangat nasionalis itu menggelegak sehingga hanya mampu diekspresikan lewat karya seni? Ataukah seni menjadi sebuah wujud keprihatinan seniman akan kebangsaan dan beresonansi langsung dengan penonton?

Ataukah nasionalisme sudah menjadi sebuah komoditas yang tercermin dalam bermusik? Seberapa jauh motif ekonomi menopang nasionalisme di Indonesia? Dan sejauh mana seni ikut ‘mendompleng’ perwujudan identitas? Menonton konser bertema kebangsaan tidak sekedar berlandaskan motif: Ya saya seorang Indonesia, karenanya saya merasa berkewajiban menonton konser yang menggambarkan kelekatan saya dengan kebangsaan saya. Relasinya tidaklah sesederhana itu. It feeds on the belief, but often it is not the underlying motive. 

Setiap pertanyaan di atas sebenarnya membutuhkan riset yang mendalam dan dalam tataran praktis akan memberikan informasi bagaimana audiens berelasi dengan program seni yang kita tawarkan, sesuatu yang mungkin bisa kita gunakan kemudian untuk menyusun strategi kesenian.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: