Kabar Terkini

Bagaimana Paduan Suara Anak Memikat Publik?


Seorang komponis muda bercanda dalam status FB, “Kok ketika komponis A menang kompetisi di Wina kemarin tidak bergaung seperti keramaian ketika paduan suara menang kompetisi ya?”

Tentu ini pertanyaan ini mengemuka setelah The Resonanz Children Choir menang di Italia dan mendapat liputan yang berlimpah dari media. Padahal di waktu yang hampir bersamaan, banyak paduan suara Indonesia lainnya juga meraih gelar juara sebagaimana diliput Musicalprom di sini. Pertanyaan ini pun mengemuka bukan hanya menyoal persoalan komponis saja, namun juga menyorot bagaimana perlakuan media berbeda-beda dalam menyikapi kabar.

Dalam ranah ini, penulis tidak akan menyoal artistik karena ranah ini telah menjadi ranah dewan juri dalam perlombaan dan juga reputasi kualitas perlombaan tersebut yang dibangun selama bertahun-tahun, namun kali ini penulis akan lebih melihat bagaimana gaung itu dapat tercipta di media sosial dan media massa pada umumnya. Dan dari sini kita dapat belajar dari fenomena yang terjadi. Berikut adalah beberapa telaah yang mengemuka:

  1. Persoalan relasi media massa
    Jejaring adalah hal yang terutama dalam membagikan informasi. Hubungan yang baik dengan penggarap berita di media massa tentunya berpengaruh besar apakah kabar prestasi akan tercium oleh media massa utama. Memiliki kawan wartawan di media massa besar dengan jangkauan sindikasi yang lebar akan mampu membantu tersebarnya kabar berita prestasi yang menggiurkan untuk dijadikan liputan. Jangan lupa juga bahwa belajar dari kasus TRCC, Resonanz Music Studio pun memiliki jangkauan yang luas dan konsisten lewat prestasi cabang kegiatan mereka yang lain yakni Batavia Madrigal Singers dan Jakarta Concert Orchestra, belum lagi dengan alumni kelompok Batavia Madrigal Singers yang cukup banyak lewat sejarahnya selama 20 tahun terakhir ini dan reputasinya sebagai paduan suara terkemuka di Indonesia.
    .
  2. Jangkauan network/jejaring terdekat
    Paduan suara anak seperti TRCC memiliki jangkauan jejaring terdekat yang sangat luas dibanding paduan suara lainnya. Dalam lingkup mereka sebagai paduan suara anak-anak beranggotakan 42 orang didukung 3 pelatih, tim orang tua, dan sponsor dapat terlihat bagaimana buzz dapat berbunyi nyaring di media sosial. Selain sponsor membagikan kabar secara resmi, katakan ada 42 orang anak membagikan kabar di Facebook ataupun Twitter, 84 orang tua membagikan kabar ini di media sosial mereka, belum lagi kita melihat jaringan terdekat dari 84 orang tua ini yang kemungkinan berada dalam lingkup melek teknologi dan umumnya berada dalam usia keemasan produktif mereka. Dengan usia anak 10-15 tahun, usia orang tua juga berada dalam rentang usia yang suportif, cukup melek teknologi untuk membagikannya dalam jaringan mereka. Belum lagi teman-teman paduan suara dari pelatih maupun penyanyi yang pastinya juga sangat luas. Bandingkan dengan seorang komponis berusia 30-35 tahun. Belum tentu kawan-kawan komponis seperjuangannya bersedia membagikan kabar baik dari rekan mereka, pun orang tua mereka berada dalam kelompok umur yang belum tentu fasih menggunakan media sosial.
    .
  3. Nasionalisme dan kelompok lebih representatif
    Nasionalisme merupakan komoditas yang sangat laku untuk dijual di Indonesia dewasa ini. Pun lagi perjuangan sebuah kelompok anak-anak untuk mengibarkan bendera merah putih akan lebih menggelegak semangat nasionalisme pembaca dibandingkan perjuangan seorang komponis muda untuk mengibarkan bendera merah putih, sebagai sebuah bentuk perlawanan postkolonial – apabila ditilik dalam ranah ilmu budaya. Apabila kita awas pun, simpati untuk perjuangan kelompok juga terpengaruh oleh usia pelakunya. Semakin muda peraih prestasi, semakin tinggi pula simpati dan resepsinya. Hasil yang serupa belum tentu mampu dicapai oleh sekelompok paduan suara mahasiswa yang berprestasi serupa di luar negeri, pun juga tidak serupa dengan paduan suara anak yang memenangkan kompetisi di dalam negeri. Persoalan rasa nasionalisme ini pun dapat dirambah lebih jauh untuk melihat motivasi afinitas para konsumen media dan para wartawan media. Joey Alexander dan ramainya sosial media karena nominasi Grammy kemarin adalah salah satu contoh yang baik untuk melihat bagaimana umur dapat berpengaruh terhadap persepsi seseorang.
    .
  4. Kemenangan itu manis
    Gelar ‘Grand Prix’ sebagai juara umum tentunya akan sangat disyukuri dan mendapat liputan yang lebih luas dibandingkan memenangkan juara ke III misalnya dalam sebuah turnamen yang bisa jadi lebih buas dan kompetitif. Harus diamini bersama bahwa tidak semua peliput maupun publik mengetahui seluk-beluk kompetisi di luar negeri, terlebih bidang kompetisi paduan suara yang sangat niche. Hal ini sangat sulit untuk diemulasi, mungkin contoh ballroom dancing adalah yang terbaik: Sepasang penari memenangkan ‘grand prix’ dalam Dance Sport French Open dan sepasang penari lain memenangkan juara utama di Blackpool Dance Festival. Hanya mereka yang mengetahui seluk-beluk dunia kompetisi dansa atau meluangkan waktu secara rinci bertanya pada Google saja yang mengetahui reputasi kompetisi mana yang lebih terbangun. Karena publik media saat ini adalah publik media instan yang bahkan akan menekan tombol share kurang dari 10 detik membaca tanpa menelisik lebih jauh. Kemenangan pun menjadi kunci viralnya kabar ini.

Tulisan ini hanyalah membagikan dan membedah bagaimana persepsi dalam media berkesenian pun dapat dibangun dan dioptimalkan. Pastinya fenomena kemenangan dalam perlombaan musik adalah berita yang ditunggu-tunggu banyak penggerak seni. Kabar kemenangan tersebut besar ataupun kecilnya adalah sebuah hiburan bagi banyak penggerak seni yang telah bersusah payah melawan anggapan umum bahwa seni dan musik adalah hal yang ‘kurang penting’ di mata khalayak di Indonesia. Yang pasti, gaung yang didapat oleh kelompok TRCC adalah gaung yang sulit didapatkan oleh banyak paduan suara maupun seniman musik lain apabila tanpa diikuti strategi media yang lebih mumpuni.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: