Kabar Terkini

Menjelajah Ruang Suara Royal Albert Hall lewat karya Berlioz


Romeo dan Juliette adalah roman abadi sepanjang masa. Mengenang 400 tahun wafatnya sang pujangga William Shakespeare, BBC Proms malam ini bersama Monteverdi Choir dan Orchestre Révolutionaire et Romantique dan National Youth Choir of Scotland menjelajah karya unik Héctor Berlioz yang dibangun berdasarkan tragedi cinta ini di bawah pimpinan Sir John Eliot Gardiner.

Hector Berlioz pun mengemas karya sepanjang hampir 2 jam ini dengan elegan. Komposisi Roméo et Juliette yang diperdanakan tahun 1839 ini menjadi sintesis berbagai bentuk. Karya ini secara mengejutkan bukanlah sebuah opera, juga bukan oratorio karena teksnya bukanlah teks religius, meskipun mirip seperti cantata besar, terlebih dengan garapan libretto Emile Deschamps. Justru yang menarik, bangun karya ini adalah sebuah simfoni dramatik dimana pengembangannya berdasarkan metode simfoni namun kaya dengan paduan suara dan solois dan menjadi perkembangan lebih jauh dari choral symphony yang diperkenalkan Beethoven. Justru dalam bentuk inilah kecemerlangan Berlioz sebagai seorang komponis begitu nampak lewat orisinalitasnya.


Meski demikian, jejak-jejak simfoni Jermanik pun tampak dalam pengembangan tema yang membubuhi karya ini. Di beberapa tempat terasa bagaimana pengembangan tematik khas Beethoven terdengar. Tentunya ini membuka jalan lahirnya konsep idée fixe yang lekat dengan karyanya Symphonie fantastique dan jembatan penghubung dengan leitmotif khas Wagner. Ditampilkan dalam bahasa Prancis, semalam menjadi sebuah penampilan penuh warna. Menarik bahwa dalam karya ini tokoh Romeo dan Juliet tidak ditampilkan dalam personifikasi seorang penyanyi, melainkan lewat permainan orkestra yang penuh imajinasi, sebuah pendekatan yang berbeda. Solois pun lebih memegang peranan sebagai pemberi narasi lewat teks nyanyiannya yang penuh romantisme puitik.

John Eliot Gardiner pun menampilkan karya dengan mematuhi arahan dari Berlioz sendiri. Dramaturgi pun terbentuk lewat hadirnya paduan suara kecil dari Monteverdi Choir perlahan masuk ke ruangan dan menyanyikan bagian semi-chorus dengan berdiri di depan orkestra. Di hadapan semi-chorus ini lagi seorang konduktor yang mengaba mereka, Denis Souza. Pun Berlioz juga memikirkan secara matang dramaturgi yang diinginkan, di tengah bagian kedua tiba-tiba terdengar suara paduan suara pria yang saling berjawab di kiri dan kanan gedung konser. Ternyata di lantai galeri paling atas dari gedung konser megah ini, dua kelompok paduan suara pria bersahutan masing-masing dipimpin oleh dirigen Denis Souza dan dirigen NYCScotland Christopher Bell. Dan di atas panggung, John Eliot Gardiner mengaba orkestra mengiringi paduan suara keduanya. Dan musik yang tersampaikan pun menjadi sangat kaya.


Paduan suara NYCScotland sendiri hadir dalam format besar perlahan masuk ke panggung sembari menyanyi. Paduan suara yang diawaki penyanyi berusia 16-25 tahun ini tampil dengan mengesankan semalam. Orkestra pun juga tampil dengan bobot tersendiri. Orkestra yang juga hadir sebagai orkestra dengan instrumen kuno ini mampu memberi karakter pada musik yang disampaikan. Solois mezzo-soprano asal Kanada Julie Boulianne tampil dengan mengesankan, begitu pula tenor Jean-Paul Fouchécourt yang memberi kesan ringan dan rileks namun menjiwai karakter. Pujian pun dilayangkan kepada bass Laurent Naouri yang memberikan wibawa pada karakter Friar Lawrence. Selain hadir sebagai solois, masing-masing solois juga bernyanyi dalam Monteverdi Choir menjadikannya paduan suara kecil yang gegap. Menarik sebenarnya melihat setiap anggota Monteverdi Choir secara kualitas suara mampu mengimbangi solois-solois ini dengan kematangan suara masing-masing.

Malam itu, Berlioz mengeksplorasi ruang, membedahnya dalam ruang suara dan memetakannya dalam benak segenap audiens. Hanya kekaguman yang terlontar, sebuah pengalaman musikal yang indah…

 

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: