Kabar Terkini

Ngomong-ngomong Efisiensi, Economies of Scale dalam Seni


Menarik apabila merenungkan tulisan yang terpampang di 5th Bali International Choral Festival yang diambil gambar oleh Abraham Panjaitan.

We need thousand hours of rehearsal for a ten minutes successful performance ~Tommyanto Kandisaputra

Tidak ada yang memungkiri bahwa untuk memberikan penampilan yang terbaik, ratusan bahkan ribuan jam dihabiskan dalam latihan. Musisi juga tidak lepas dari hal ini, latihan menjadi bagian paling integral dalam kehidupan musisi. Ketika orang lain bekerja 6-8 jam sehari, musisi bisa saja berlatih 6-8 jam sehari untuk memastikan penampilan yang baik. Meskipun banyak pula musisi yang mengatakan 4-5 jam sehari adalah cukup, sebagaimana seorang atlet, musisi pun harus terus mengasah diri memastikan kualitas penampilan mereka.

Meskipun demikian apabila kita melihat dari kacamata manajerial pragmatis, apakah sungguh bidang yang membutuhkan ribuan jam latihan untuk 10 menit penampilan adalah sesuatu yang menarik untuk diinvestasikan? Hal ini menjadi penting untuk dilihat apabila kita melihat seni dalam kacamata profesional. Dalam lingkup amatir, mungkin waktu tidak menjadi elemen yang sangat penting. Namun dalam manajemen seni, ribuan jam latihan untuk sebuah penampilan 10 menit adalah sebuah kegagalan perhitungan economies of scale. Apabila tenaga profesional tersebut dihitung ribuan jam untuk menghasilkan penampilan 10 menit, pastinya tergolong tidak ekonomis.

Argumen ekonomi pastinya selalu dapat diperdebatkan dalam kesenian. Banyak perdebatan yang diangkat akan berkisar dalam lewat nilai intrinsik dari karya seni itu sendiri. Dalam tataran perbincangan kita saat ini adalah 10 menit penampilan tersebut bisa jadi adalah 10 menit yang mampu mengubah hidup seseorang dan bahkan membuat dunia menjadi lebih baik. Tidakkah ribuan jam latihan adalah sesuatu yang layak untuk dikorbankan untuk mencapai sebuah tujuan mulia? Dan inilah awal mula sekaligus perdebatan ekonomi dalam seni: manakah yang terlalu mahal, manakah yang terlalu murah dan manakah yang layak untuk diperjuangkan, didukung dan disponsori.

Baumol dalam teori cost disease-nya menyatakan kegagalan mekanisasi dalam seni adalah salah satu yang patut diperhitungkan. Mekanisasi yang mampu menekan harga semakin rendah, namun sayangnya karya seni tidak seperti itu. Nilai karya seni seperti lukisan-lukisan bahkan semakin tinggi sejalan dengan naiknya usia lukisan tersebut, begitu pula seni pertunjukan. Ketika produk di pasar diciptakan dalam kurun waktu yang semakin singkat dan otomatisasi dengan mesin yang menyebabkan harganya bisa ditekan semurah-murahnya, setiap penampilan Symphony Beethoven tetap membutuhkan sekurang-kurangnya 45 orang pemain orkestra dan tidak bisa diciutkan lagi.

Meski demikian sebagai praktisi, bagaimanakah kita harus bersikap? Latihan ribuan jam adalah keniscayaan bagi banyak penggerak seni. Malcolm Gladwell dalam bukunya ‘The Outliers’ mengatakan bahwa setidaknya untuk mencapai kemahiran tertentu, dibutuhkan setidaknya 10,000 jam latihan untuk mencapai kemahiran tersebut. Inilah yang perlu digarisbawahi dalam praktek di lapangan. Ruisi quartet

Ketika latihan ribuan jam adalah sebuah kebutuhan, adalah baik apabila latihan tersebut bukan hanya bersentral pada sebuah keberhasilan sebuah pertunjukan, melainkan untuk sungguh memperlengkapi setiap individu dengan keahlian berkesenian yang dibutuhkan untuk sebuah karir jangka panjang. Dengan demikian keterampilan yang didapat dalam ratusan jam latihan adalah keterampilan yang menempel di sisi musisi, dan bukan keterampilan yang hanya melekat di sebuah penampilan. Dalam proses produksi, inilah yang kemudian mampu meningkatkan efisiensi dan mencapai titik optimal dalam economies of scale.

Karenanya sebagai praktisi kita harus membagi latihan dalam dua bentuk. Yang pertama, latihan sebagai sebuah sarana pendidikan di mana peserta terdidik untuk mampu melakukannya sendiri (practice). Di sini, latihan menjadi sarana menularkan esensi keilmuan sehingga seniman memiliki konsep yang jelas dan pengertian akan proses berkesenian itu. Tips-tips praktis pun dibagikan untuk menjadi kerangka berpikir dan kerangka praktis yang dapat digunakan berkali-kali ke depan. Pianis Aisha Pletscher, mengungkap kepada penulis dalam sebuah sesi kelas piano, “Kamu les selama ini adalah untuk belajar bagaimana berlatih. Saya hanya mengajari kamu bagaimana cara untuk berlatih, supaya kamu bisa latihan sendiri ke depannya…” Pembekalan seperti ini yang kemudian dapat memangkas economies of scale dalam pertunjukan seni.

Sebagai contoh, mari kita mengambil bidang tata cahaya sebagai pembanding. Penataan cahaya adalah pekerjaan yang rumit dan membutuhkan banyak latihan, namun penata lampu manapun diharapkan sudah menguasai logika sekaligus dasar-dasar operasi instrumen penataan lampu sehingga tidak perlu setiap kali menghabiskan ratusan jam untuk belajar kembali hal tersebut. Penata lampu yang efisien adalah ia yang mengerti konsep dan sisi teknis operasional cahaya dan fundamental instrumen yang digunakan sehingga waktu latihan hanya dihabiskan untuk berlatih bersama aksi di atas panggung dan bukan sibuk mengoprek peralatan sendiri. Dengan demikian waktu latihan sebagai belajar esensi keilmuan dapat dipangkas dan tidak perlu dilakukan berkali-kali. Dapat dibayangkan ketika setiap pementasan kita harus bekerja dengan seorang penata cahaya yang tidak punya pengalaman sama sekali.

Meski demikian, latihan tetap memegang peranan penting. Selalu ada aspek berbeda dalam pementasan. Porsi latihan kedua adalah porsi latihan yang diperuntukkan untuk mengerjakan keragaman aspek dalam pementasan ini (rehearsal). Aspek ini tidak dapat diganggu gugat dan tidak dapat dipangkas. Di sinilah economies of scale dapat diusahakan untuk mencapai titik optimum, namun tidak dapat dikurangi ataupun diulik. Apapun pementasannya dan seberapapun keahliannya, untuk mencapai suatu kualitas tertentu dibutuhkan sedikitnya latihan untuk beradaptasi dengan perbedaan lingkungan seperti ini.

Sebagai contoh, apabila seluruh anggota paduan suara sudah memahami dasar-dasar produksi suara yang benar, intonasi yang beres, diikuti pula dengan pemahaman akan konteks praktis historis dan fleksibilitas dalam pengaplikasiannya, dapat terbayangkan berapa puluh jam latihan akan mampu dipangkas untuk menghasilkan sebuah pementasan. Latihan pun akan terkonsentrasi untuk menggarap aspek khusus dalam karya musik tersebut dan latihan ini memang tidak dapat dibuang. Juga apabila singkatnya penyanyi dalam paduan suara cukup terlatih dalam bidang tari, latihan hanya akan terkonsentrasi untuk memastikan skema koreografi tersampaikan dengan baik.

Karenanya perlunya pemahaman bagi setiap seniman musik dalam dua hal ini. Mereka yang profesional adalah mereka yang telah meluangkan waktu ribuan jam untuk melakukan latihan dalam practice dalam setting amatir baik sebagai siswa mandiri maupun anggota kelompok amatir, sehingga latihan bersama hanya akan terkonsentrasi pada latihan dalam pengertian yang kedua (rehearsal). Pemangkasan latihan dalam pengertian pertama (practice) juga memunculkan surplus nilai dalam hal ekonomi yang dapat dipetik baik bagi seniman sendiri maupun bagi penyelenggara.

Latihan adalah penting, namun memikirkan efisiensi juga tidak kalah penting. Karenanya perlu pemahaman yang jelas untuk kedua hal ini antara practice dan rehearsal untuk menciptakan pertunjukan serta insan seni yang mantap.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

3 Comments on Ngomong-ngomong Efisiensi, Economies of Scale dalam Seni

  1. The Pilgrimer // 1 Agustus 2016 pukul 4:39 pm //

    Cewl… Indeed… That’s why there’s the thing called Rehearsal Technique😉

  2. Yap, and rehearsal technique apparently cannot subside the need of a great deal of practice…

  3. The Pilgrimer // 11 September 2016 pukul 11:50 pm //

    Sure, but it helps us to practice in a smart and efficient way to reach certain level of skill and artistry…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: