Kabar Terkini

Eksplorasi Tabuhan Piano


~ oleh Vincent Wiguna

Indah. Sebuah pesan yang dipersembahkan dengan seluruh perasaan dan pikiran meninggalkan kesan yang mendalam. Malam resital pemudi belia cantik yang baru saja menyelesaikan studinya di Royal College of Music London ini memuaskan telinga dengan melimpah. Adalah Stephanie Onggowinoto yang semakin memperlihatkan cerahnya masa depan musik klasik di Indonesia.

Program konser disusun atas dua babak yang menyentuh musisi dari empat zaman. Dibuka dengan JS Bach Toccata in G Major BWV 916, pianis dengan segudang prestasi ini mampu mengeluarkan kelincahan dan polifon yang kuat. Karakter dari musik barok yang lugas mampu ditarikan dengan elegan. Babak pertama yang manis dan semangat dilanjutkan dengan Variasi dalam F Mayor op 34 karya Beethoven. Stephanie menjelaskan dahulu semua karya yang akan dibawakan dengan cukup komprehensif sehingga memberikan gambaran yang cukup terang untuk apa yang akan dicerna oleh para pendengar. Seperti yang dijelaskan oleh pemain, variasi ini agak berbeda dengan variasi-variasi pada umumnya. Dimulai dengan tema utama di tangganada tonika, berlanjut kepada variasi yang telah bermodulasi turun terts sehingga setiap variasi dimainkan di tangganada yang berbeda. Kematangan dan permainan yang artistik dapat dirasakan melalui melodi yang begitu jelas serta kalimat musik yang alamiah. Dari sentuhan nada-nada awal langsung jelas perubahan warna dari musik Bach ke Beethoven: ruang yang lebih luas bersatu dengan transparansi nada-nada cepat khas zaman klasik. Program pun dilanjutkan dengan karya virtuosik dari Liszt Hungarian Rhapsody no 12 yang gagah.

Babak kedua lebih bernuansa gelap. Prayer Bell Sketch karya komponis Inggris yang masih hidup, Oliver Knussen, merupakan imajinasi dari macam – macam suara lonceng di Jepang. Permainan suasana dan dinamika membangun atmosfer yang terapung. Pendengar kembali diajak ‘melayang’ bersama Debussy lewat Cloches a travers les feuilles (Lonceng Melewati Dedaunan). Pemahaman dan imajinasi dari pianis yang akan melanjutkan studi master di kampus yang sama ini mampu difasilitasi lewat piano Boston yang beresonansi dengan hangat. Malam pun ditutup dengan sebuah karya fenomenal, mahakarya yang mampu mewakili titik kulminasi dari zaman romantik: Frans Liszt Sonata in B minor. Karya virtuosik yang menguras tenaga selama 30 menit, yang tak dibayangkan untuk dimainkan oleh pianis berusia 21 tahun, karya yang menuntut imajinasi, keutuhan, kematangan, perasaan, dan itulah yang diberikan oleh sang pianis.

Jelas Stephanie telah memberikan musik yang terbaik. Indah. Bermakna. Menginspirasi. Senyum lebar timbul bukan tanda bahwa ada harapan terhadap musik klasik di negara kita kelak, namun bahwa harapan itu telah datang, dan datang mendekat, lewat malam ini serta musisi – musisi muda lain.

~ Vincent Wiguna adala pengajar piano dan teori di Yayasan Musicorum dan aktif sebagai pianis kolaboratif di Jakarta

Stephanie Onggowinoto2

1 Comment on Eksplorasi Tabuhan Piano

  1. Saya sampai meneteskan airmata terbawa alunan dentingan sang pianist, persembahan musik yang sangat cantik, sang pianist piawai memainkan piano, seolah turut mengajaknya berbincang, bukan hanya sekedar alat musik. Maju terus Stephanie, terus memperkaya diri dan berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: