Kabar Terkini

Mahler, Philharmonia: Kepedihan dan Ironi


Ironi dan kepedihan menjadi tema hari ini, hari Senin ini penonton dibawa kembali ke masa pecahnya Perang Dunia kedua lewat invasi Jerman ke Polandia. Dalam nuansa inilah program konser Prom 32 di Royal Albert Hall dirangkai. Sejarah ini masih membawa pilu bagi banyak bangsa Eropa, dan kisahnya masih menjadi tanda pahit berdiamnya demokrasi di satu negara yang mengakibatkan bangsa terpecah, perang berkecamuk yang melebar ke seluruh dunia dan jutaan jiwa melayang akibat perlakuan rasis dan todongan bedil.

Berturut karya Arnold Schoenberg A Survivor of Warsaw, Op.46 yang berkisah tentang kepedihan juga perjuangan sekelompok penyintas Yahudi di ghetto Warsawa yang melarikan diri dari kejaran tentara Jerman lewat narasi yang dibacakan dalam bahasa Inggris dan Jerman. Mereka pun tertangkap dan dibariskan, di mana penyintas yang renta dan sakit menjadi sasaran pukul tentara Nazi. Para prajurit pun menghitung berapa orang yang akan dijebloskan di kamar eksekusi gas, di antara sedu sedan itu paduan suara pria menyanyikan dengan lamat Shema Yisrael sebagai ekspresi kekuatan iman mereka. Ditulis tahun 1947, karya Schoenberg yang menggunakan teknik serialisme ini menjadi media ekspresi dan menjadi pewarna kisah pahit namun penuh harap ini. Narator David Wilson-Johnson pun membawakan karya ini dengan kesigapan penuh, turut dalam rentetan ritme yang digalang oleh Schoenberg. Ya, dalam karya Schoenberg narator adalah pula seorang penyanyi, meski tidak bernada. Philharmoni Voices juga membawakan Shema dengan haru biru.

Karya Henri Dutilleux The Shadows of Time menjadi sajian berikut. Ditulis di tahun 1995, karya ini dibuat untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia II dan terinspirasi sebuah buku harian Anne Frank, seorang remaja belia usia 14 tahun yang menceritakan kisah di dalam kamp konsentrasi dan kemudian menjadi korban dari genosida di kamar eksekusi gas di Auswitzch. Buku harian ini selamat dan di tangan adik tiri Anne Frank dan akhirnya diterbitkan 4 dekade kemudian sebagai pengingat kekejaman manusia dan perjuangan seorang gadis kecil untuk bertahan hidup. Ditulis untuk orkestra dan 3 solois anak, karya ini menjadi sebuah karya memorial yang lamat, dengan ketiga anak menyanyikan berulang,”Pourquoi nous? Pourquoi l’étoile?” (Mengapa kami? Mengapa bintang [Daud]?). Karya ini bernafaskan pilu namun berbalut ketenangan.

Di babak kedua giliran karya besar seorang komponis menjadi penanda bergulirnya nafas anti-semit di Eropa, seorang komponis dan konduktor yang dalam berbagai esai dikatakan sebagai penyintas sekaligus peramal dagelan politik Eropa awal abad ke-20 yang berujung pada dua perang dunia. Adalah Gustav Mahler dan karyanya Symphony no.1. Bertabur ironi, karya Mahler yang berbalut kepekatan namun juga kejenakaan yang serasa semu. Gema tarian rakyat Landler di bagian kedua dibalas tema lagu anak’Frére Jacques’ dalam nada minor yang berbentuk mars penguburan seakan menertawakan kematian. Kengerian di bagian akhir seakan mengubur segala harap sebelum akhirnya ditutup dengan kemegahan dan gempita meski seakan tidak lepas dari ironi yang muncul lewat tema di bagian pertama dari karya yang ditulis tahun 1898 ini. Karir seorang Mahler sendiri menjadi contoh nyata ironi di negara-negara berbahasa Jerman. Seorang keturunan Yahudi, Mahler mampu membangun kariernya dengan gemilang di Jerman dan kemudian di Wina meski stigma seakan tidak habis dari mereka yang membenci keturunan Yahudi. Ia pun selalu kesulitan mencari waktu menggubah karena kesibukannya mengaba.

Malam ini Philharmonia Orchestra tampil dengan kekuatan penuh dengan barisan berjumlah hampir 100 orang. Gegap dan tanggap, Philharmonia menjelajah wilayah nada dengan ekpresif namun juga efisien, ekspansif tapi juga rawit, dengan dorongan yang besar namun kejernihan begitu terjaga. Ya, orkestra ini seakan menjaga posturnya dengan seksama, menciptakan ironinya tersendiri. Ketelitian halus kadang bertabur ledakan-ledakan besar yang meluap-luap bersamaan dengan sabetan tajam ayunan tangan Salonen yang seakan melecut tiba-tiba. Di saat lain tatapan mata konduktor utama orkestra ini mampu menghantar energi tersembunyi yang menganyam orkestra. Ketelitiannya dalam mengaba juga karya kontemporer berbaur dengan irregularitas di karya Mahler, karya yang justru memiliki birama yang lebih teratur. Namun harus dikatakan, dalam karya Mahler setiap sudut penuh tanda di mana konduktor harus bermanuver di antara arahan sang komponis yang juga konduktor ulung ini. Kedekatan Salonen dengan Mahler juga sangat terasa, kelekatan pilihan karier sebagai komponis yang sibuk mengaba hingga kesulitan meluangkan waktu mencipta menjadikan Salonen memiliki pendekatannya yang tersendiri untuk karya Mahler ini.

Kepedihan dan ironi sungguh terasa malam ini. Orkestra dan pertunjukan semalam menjadi epitomi sempurna dari ironi kehidupan yang tergambar dalam karya. Dan dalam ironi itu, kenyataan menjejak dan membawa kepedihan. Pembacaan dan deklamasi musik semalam seakan menjadi perca-perca yang menyusun gelisah, bukan sebuah pertunjukan megah gempita, namun pertunjukan yang membawa perenungan. Ya, nilai pertunjukan musik bukan hanya dari keindahan yang dibawanya semata atau uniknya interpretasi, tapi lekat dalam perbincangan intelektual dan bahkan spiritual yang hadir karenanya, sebuah refleksi akan sebuah pengalaman musikal. Dan malam ini parade ironi menjadi cermin kemanusiaan bagi siapapun yang menyaksikannya.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: