Kabar Terkini

Kekerasan dalam Pendidikan? Harus Diubah, Seni Kuncinya


Masih ingatkah Anda dengan kisah pencubitan guru yang kemudian berujung pada dituntutnya sang guru oleh orang tua siswa?

Kini yang terjadi lebih ekstrim, sang murid mengumpat kasar karena ditegur tidak mengerjakan tugas, sang guru menampar sang murid. Si murid mengadu kepada orang tuanya dan sang bapak akhirnya datang menghampiri sekolah untuk berdiskusi dengan pimpinan sekolah yang ternyata tidak ada di tempat dan ternyata berpapasan dengan sang guru. Si bapak memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri dengan kepalan tangannya dan meninju sang guru.

Upaya yang begitu ramai saat ini di media sosial adalah dengan kemudian menghakimi sang orang tua murid. Ya, sang orang tua murid salah karena mengambil jalan kekerasan. Tapi apakah kemudian tindakan guru menampar muridnya yang berkata kasar adalah jalan keluar untuk mengajar anak untuk berbudi baik?

Inilah carut-marutnya pendidikan di Indonesia. Kita sebagai orang ketiga dapat melihat bagaimana sang anak bisa meluncurkan kata-kata kasar di depan sang guru padahal ia yang tidak mengerjakan tugas adalah karena dikelilingi oleh orang dewasa yang ternyata tidak juga menunjukkan kedewasaannya. Sang guru main tampar dan sang ayah main tinju. Tidak ada contoh yang baik di rumah maupun di sekolah. Tidak heran bukan?

Seni kabarnya mampu melatih budi, menjadikan orang lebih halus dalam berperilaku. Beberapa bahkan menghubungkan akhlak dengan seni. Ya, memang bahwa seni dapat mengubah perilaku dan mengajarkan kehalusan budi. Namun tidak otomatis. Apabila seni berarti menghaluskan perilaku seperti demikian, seniman berarti otomatis memiliki akhlak baik dan terpuji. Musisi juga praktis orang yang baik dalam berperilaku. Namun kenyataannya tidak demikian.

Namun seni bisa menjadi instrumen yang baik dalam mengajarkan perilaku terpuji dan kehalusan pekerti, hanya apabila materi disampaikan dan dibentuk sesuai dengan tujuannya, yakni membentuk kehalusan budi dan pekerti tersebut. Seni dapat mengajarkan nilai-nilai seperti ketekunan, ketelitian, serta menghargai perbedaan dan menjunjung keterbukaan, demokrasi serta mengeluarkan pendapat. Hal-hal inilah yang menjadi tema sentral dalam pengajaran budi pekerti.

Dalam pendidikan seni, seorang anak dibentuk untuk mampu berkreasi dan berpikir secara luas dan kreatif tanpa terhalang formula-formula. Dengan demikian dalam situasi berkelompok ia dapat menghargai perbedaan dalam kehidupan, dimulai dari menghargai interpretasi yang berbeda akan instruksi guru misalnya dalam melukis dengan tema yang sama, menyanyikan lagu yang sama.

Dalam pendidikan seni, seorang anak juga diajak untuk terbuka menerima masukan, menerima perbedaan. Murid diajak untuk tidak tersinggung dalam menerima kritik dan saran bahwa diskusi bisa terjadi dan bisa membawa pencerahan dan pengetahuan. Lewat pendidikan seni, murid juga diajar untuk membangun diskusi atas perbedaan yang ia saksikan, lewat komunikasi mendasar misalnya lewat perbedaan interpretasi yang ada dan tidak langsung berkata kasar atau mengumpat karena kritik dan perbedaan pendapat dengan kawan. Juga tidak dengan main pukul dan main tampar. Ya, seni bahkan dapat mengajarkan bagaimana berdemokrasi apabila diajarkan dengan komprehensif.

Tanpa itu semua, pelajaran seni budaya hanya akan menjadi pelajaran keterampilan dan bukan pelajaran kehidupan. Seni pun hanya akan melatih keluhuran budi apabila guru di sekolah memikirkan pentingnya keluhuran budi tersebut dan mengintegrasikannya dalam pendidikan seni. Bisa dikatakan seni dan budaya adalah subyek paling tepat untuk mengajarkan hal ini, karena hal berperilaku seperti ini tidak mudah disampaikan dan diajarkan dalam bidang studi eksakta misalnya.

Ketika murid mengumpat kasar, guru mengandalkan kekerasan dan orangtua main pukul, tentu ada yang salah dalam pendidikan di Indonesia yang menyebabkan kekerasan baik fisik maupun verbal masih menjadi budaya bahkan dalam institusi pendidikan. Netizen pun juga menjadi bagian dari budaya kekerasan tersebut dengan menghujat agar si anak dikeluarkan dan jangan diterima di sekolah manapun. Ya, netizen pun dengan kekerasan verbal macam ini bukannya memutus mata rantai dengan pendidikan yang berkualitas, malah memperpanjangnya dengan merampas hak anak untuk dididik, dibentuk dan tidak lagi mengandalkan kekerasan. Dalam situasi seperti ini dan dikelilingi lingkungan yang mengadalkan aniaya dan kekerasan, justru pendidikan yang harus diutamakan, dan justru pendidikan seni kuncinya.

Semua kasus yang terjadi belakangan ini adalah buah kekerasan guru. Ada orang tua yang bereaksi menuntut sang guru ke meja hijau, ada yang kemudian main pukul. Ini adalah bukti bagaimana metode pendidikan kita masih jauh dari sempurna. Murid perlu dididik, guru juga perlu dididik, orang tua pun demikian. Sudah saatnya meluruskan penyakit kekerasan di masyarakat yang sudah terlanjur membudaya ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: