Kabar Terkini

Mengapa Encore Menarik Sedang LinkedIn Kurang


Melihat munculnya sebuah media sosial khusus profesional musik seperti Encore sangat menarik. Dengan arahan pendekatan macam Gojek, Encore menyajikan media sosial profesional yang menyambung pemberi kerja dengan tenaga profesional. Konsep yang serupa sebenarnya hadir juga lewat media sosial LinkedIn. Namun sejauh penglihatan saya, LinkedIn tidak menjadi media sosial profesional utama bagi banyak musisi. Mengapakah demikian?

Sebenarnya menarik apabila kita mengupas bagaimana natur pekerjaan mempengaruhi desain media sosial yang tepat untuk jenis pekerjaan tersebut. Bekerja dalam dunia seni musik sebenarnya banyak mengandalkan jejaring, sebagaimana banyak profesi lainnya. Namun dalam seni musik terutama di Indonesia, lingkupnya cukup sempit sehingga jejaring menjadi andalan yang utama. Inovasi media sosial yang berfungsi untuk memperluas jejaring tersebut sebenarnya tetap penting dan berpengaruh. Namun untuk media sosial yang generik seperti LinkedIn tidak dirancang secara khusus untuk memfasilitasi musisi.

Inilah kekurangan LinkedIn. Meskipun sebenarnya mampu dan penting untuk memediasi jejaring musisi, LinkedIn belum mampu secara langsung menjawab kebutuhan industri musik, terutama dari sisi musisi dan penampil. Musisi dan penampil dalam mencari kesempatan kerja masih mengandalkan portfolio dan rapport keterampilan, penampilan dan pengalaman bermain repertoar dan spesialisasi tertentu. Dengan dinamika portfolio yang sedemikian besar, media sosial generik macam LinkedIn tidak mampu menampung spesialisasi ini.

Hal yang serupa ini juga yang terjadi dengan aplikasi seperti Gojek dan Uber. Sebenarnya aplikasi ini adalah media sosial yang juga memperluas jejaring pengemudi dengan calon penumpang. Spesialisasi dan keterampilan difasilitasi lewat pekerjaan yang ditawarkan, apakah mengantarkan barang, makanan ataupun orang, maupun layanan lainnya. Di sini spesialisasi menjadi kunci pembeda. Enggannya tukang ojek ataupun pengemudi mobil sewa untuk bergabung dengan LinkedIn bukan dikarenakan kelas sosial pengemudi Ojek ataupun pengemudi Uber, namun dikarenakan jejaring profesional seperti LinkedIn tidak mampu menyajikan kebutuhan informasi yang diminta sang pengguna layanan sehingga tidak memberikan nilai tambah.

Ini pula yang menjadi sebab banyak musisi tidak menggunakan media sosial profesional seperti LinkedIn, dikarenakan tidak mampunya media sosial ini mengakomodasi kebutuhan profesional musisi dalam menyajikan informasi portfolio secara lengkap, terutama bagi musisi. LinkedIn pun dikemas untuk pengguna pencari kerja maupun pemberi kerja yang bersifat institusional tetap daripada pengguna yang berbasis freelance. Ruang yang disediakan pun sangat minimum untuk ruang kerja berbasis freelance untuk menampilkan pekerjaan yang pernah dilakukan maupun pilihan portfolio yang dimiliki. Karenanya banyak pekerja kreatif memilih menggunakan media lain selain LinkedIn untuk menjaring kesempatan kerja: seperti penata rias dan desainer lewat Instagram mereka.

Namun yang menjadi magnet utama dalam aplikasi seperti Encore ini adalah fungsinya yang menghubungkan kebutuhan pemberi kerja dengan pencari kerja secara spesifik. Di sini aplikasi seperti Encore, Gojek serta Uber Berperan sebagai marketplace di mana pemberi kerja terhubung langsung dan mampu melakukan pembicaraan dan diskusi dengan tenaga kerja yang tersedia. Encore pun mengandalkan teknologi geografis seperti GPS untuk memetakan pemberi kerja dan tenaga kerja. Dalam prosesnya, Encore menetapkan siapa saja tenaga kerja yang tersedia di tempat tersebut, di mana pemberi kerja dapat melihat dan kemudian mencari profil pemain yang tepat lewat ruang portfolio yang disampaikan.

Meski aplikasi ini adalah aplikasi yang menarik, yang akan menantang adalah persoalan standarisasi pelayanan sebagai produk yang ditawarkan. Sebagai sebuah produk kreatif, musik tidak mudah untuk distandarisasikan dengan hanya melihat portfolio yang ada. Hal ini tentunya lebih mudah dilakukan untuk layanan transportasi di mana standarisasi adalah sebuah kelaziman yang mudah diterima. Sedangkan dalam musik, skala penilaian dan standarisasi adalah suatu hal yang sangat sulit. Sederhana saja, apabila ia adalah seorang lulusan dari sebuah perguruan musik tertentu dengan video menampilkan quartet Mozart secara baik, tidak jaminan individu tersebut mampu membawakan kuartet Dvorak dengan ciamik. Meskipun dalam pekerjaan lain juga tidak ada jaminan, namun untuk Tukang Ojek misalnya, standarisasi yang dilakukan berdasar pada layanan seperti mengenakan jaket, perangkat, keramahan yang lebih bersifat generik. Uber pun demikian, bahkan pengetahuan akan lalu lintas pun difasilitasi oleh Uber lewat fiturnya yang akan menunjukkan daerah tujuan dan jalur tercepat menuju ke tempat tersebut.

Ini adalah aplikasi kemajuan teknologi yang mungkin membawa dampak yang cukup besar. Namun hingga kini, belum dapat dinilai seberapa besar aplikasi semacam ini dapat berpengaruh dalam memperluas jejaring profesional musisi. Namun demikian, tidak ada salahnya memperluas jejaring di dunia maya maupun nyata, tidak ada ruginya.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: