Kabar Terkini

Memaknai Mempelajari Manajemen Seni di Luar Negeri


~setelah melihat tulisan di media massa

Beberapa pernyataan muncul di media massa beberapa waktu terakhir ditulis musisi kenamaan Indonesia yang cukup menarik tentang manajemen seni. Pernyataan-pernyataan tersebut mengangkat bahwa tidak ada perlunya seseorang belajar manajemen seni di luar negeri terutama di Eropa. Pernyataan yang cukup mengundang tanya dan juga menggelitik untuk dijawab, terutama dikarenakan pemikiran ini secara tidak langsung dapat ditelusuri dasar logika yang mendasarinya dan mengujinya bersama.

Pernyataan bahwa tidak perlunya belajar manajemen seni di luar negeri seperti yang telah diungkap di atas sebenarnya mencoba mengangkat tema lokalitas dan perbedaan budaya yang ada di masyarakat. Pernyataan memiliki sebuah nilai kebenaran bahwa tidak ada satupun solusi yang sempurna dan mampu menjawab segala persoalan masyarakat yang ada, terlebih masyarakat Indonesia yang memiliki karakter yang berbeda dengan masyarakat asing, terutama di Eropa. Pandangan ini mengangkat lokalitas dan perlunya pemecahan masalah lokal dengan memperhatikan konteks, keadaan masyarakat sekitar. Bagi pembaca Indonesia, pernyataan ini mengangkat sedikit semangat nasionalis, bagi pembaca asing di Eropa hal ini mengangkat isu multikulturalisme yang di Eropa. Pernyataan ini meskipun benar, tapi sesungguhnya argumen ini belum digarap hingga mendalam.

Apabila dilihat lebih jauh, persoalan lokalitas budaya tidak pernah berhenti dalam lingkup nasional saja, tapi bisa dibawa ke tingkat yang jauh lebih mikro. Bagi mereka yang pernah mempelajari ilmu manajemen secara mendalam pasti mengetahui bahwa setiap organisasi adalah berbeda dan unik. Demikian juga dengan pemerintahan, setiap daerah berada dalam konteksnya sendiri dan tidak pernah bisa dipukul rata. Bisnis pun demikian, bentuk bisnis berbeda, manusia yang terlibat pun berbeda, budaya organisasi pun juga berbeda. Namun demikian hal tersebut tidak mendustai usaha untuk mempelajari keilmiahan teorema untuk semakin mengerti keadaan di sekitar.

Lalu apakah dengan demikian ilmu manajemen, termasuk manajemen seni, menjadi sebuah hal yang obsolet yang tidak bisa dipelajari di luar negeri? Tentu saja tidak. Ilmu tersebut masih tentu relevan untuk dipelajari, tinggal bagaimana menyikapinya dalam praktek di lapangan. Ini adalah kenyataan yang ada yang tentunya diketahui oleh para manajer yang berpengalaman di mana pun berada.

Lantas, buat apa belajar manajemen seni di luar negeri? Dalam praktik manajemen, kelengkapan ilmu seorang manajer dapat dilihat dari bagaimana pribadi tersebut mampu menganalisis masalah yang ada di depannya dan kemudian memberi solusi dan kemampuannya melakukan implementasi, ilmu yang cukup praktis. Pemahaman akan teori manajemen dan praktik manajemen dalam bentuk kasus riil bisnis (business case) menjadi utama dalam mempelajari cara mengelola.

Dalam hal ini, banyak sekolah di luar negeri sedikit diuntungkan dikarenakan praktek manajemen seni di banyak negara telah mencapai kematangan yang mencukupi sehingga kasus-kasus bisnis terapan menarik dapat diangkat secara akademik dan kemudian dapat dibagikan kepada peserta didik. Di sini mahasiswa tidak perlu mengalami jatuh bangunnya sendiri di lapangan, namun belajar dari pengalaman pihak lain meskipun kasus tersebut berada di luar negeri dan baru berada di atas kertas. Banyaknya kasus ini kemudian juga memungkinkan tersusunnya teori-teori yang cukup lengkap yang kemudian juga tanggap terhadap perkembangan teori manajemen umum dan teori budaya lain yang berkembang di sekitarnya, menjadikan manajemen seni terlihat lebih lincah dan bergiat sekaligus juga spesifik dan memahami diskursus diskusi kebudayaan.

Namun demikian pemahaman yang baik juga harus diikuti dengan kemampuan calon manajer untuk mendekonstruksi masalah maupun mendekonstruksi solusi di atas kertas dan merekonstruksi sebuah solusi dan analisis baru untuk menjawab permasalahan lokalitas ini. Tanpa kemampuan untuk mengelola pengetahuan secara terbuka dan tanggap, solusi macam apapun dalam praktik manajemen hanya akan berhenti di teori yang tidak akan aplikatif. Tanggapnya setiap manajer dalam mengelola ilmu, pengalaman dan reseptif terhadap lingkungan sekitar adalah hal yang terutama. Namun dengan berbekal pengetahuan yang kuat dan ekstensif akan kasus bisnis dari berbagai tempat, seorang manajer memiliki amunisi lebih untuk mengolah pola pikir dibekali dengan teori yang mendasari di belakangnya.

Pernyataan akan tidak perlunya belajar manajemen seni di luar negeri adalah sebuah lagu lama, apakah perlu seorang belajar manajemen atau MBA di luar negeri. Namun bagi banyak pihak lagu lama ini sebenarnya sudah berjawab. Mempelajari ilmu manajemen adalah baik, terlebih apabila sang murid sungguh belajar dan menyerap ilmu sebanyaknya yang kemudian dapat ia sintesiskan dalam menjawab persoalan setempat di mana pun ia akan berada.

Menyatakan tidak perlunya belajar manajemen seni di luar negeri adalah sebuah logika yang hanya berhenti di tengah jalan. Sebuah argumen yang dapat dengan ringkas dipatahkan apabila logika itu kita teruskan hingga paripurna. Praktek manajemen seni di Indonesia baru seumur jagung, tidak ada salahnya apabila melongok sebentar ke lahan lain yang sudah melakukan praktek ini cukup lama dan telah berulangkali mengalami panen raya maupun gagal panen.

Kegagalan untuk mengerti perlunya pendekatan lateral terhadap berbagai persoalan kesenian di Tanah Air adalah sebenarnya pertanda masih perlu terciptanya ragam perspektif dalam pengelolaan seni di Indonesia. Cita-cita ini yang sebenarnya mampu diwujudkan oleh manajer seni yang memiliki wawasan dan visi. Bukankah demikian?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: