Kabar Terkini

17 Agustusan dan Musik Gita Bahana Nusantara Sebagai Kebijakan Budaya


Selalu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para musisi muda untuk bergabung dalam barisan Gita Bahana Nusantara yang terdiri dari musisi dan penyanyi dari seluruh Indonesia dan mengisi acara puncak upacara kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka di tanggal 17 Agustus. Inisiatif ini pun adalah sebuah kebijakan budaya dari pemerintah yang dapat kita cermati secara lebih mendalam.

Dibentuk sejak tahun 2003, Gita Bahana Nusantara (GBN) adalah sebuah proyek musik besar yang ada di Republik Indonesia. Digagas oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada waktu itu dan kemudian dilanjutkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan kini di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gita Bahana Nusantara adalah sebuah kegiatan kamp panjang musik satu-satunya di Indonesia yang digagas pemerintah. Proses pendaftaran dibuka bulan April dan diikuti audisi di bulan Mei, Gita Bahana Nusantara memuncak di upacara kemerdekaan kenegaraan di Istana Merdeka, setelah sebelumnya diikuti kegiatan kamp karantina selama 3 minggu sedari awal Agustus dan beberapa konser persiapan. GBN diikuti oleh ratusan musisi muda usia 15-25 tahun dari seluruh Indonesia, penyanyi maupun instrumentalis. 136 penyanyi dan 70 orang pemain orkestra tergabung dalam karantina ini. Dan sebagaimana Paskibraka, musisi ini pun ditetapkan cadangan sebanyak kira-kira 20 orang.

Sebagai sebuah kebijakan kebudayaan, GBN memiliki efek yang mengakar dan memiliki reputasi tersendiri yang kuat. Dengan peserta yang diaudisi dari seluruh Indonesia dan perwakilan dari berbagai provinsi, GBN menjadi himpunan talenta bermusik muda yang terseleksi dan mengemban tugas kenegaraan yang terbilang istimewa dengan menjadi perwakilan pemuda dalam rangkaian upacara kenegaraan terpenting di negeri ini. Karenanya, jebolan GBN pun kemudian memiliki prestise tersendiri sebagai pemain musik yang kemudian berguna untuk karir bermusik mereka ke depan. Menarik bahwa banyak alumnus muda mengatakan bahwa sertifikat keikutsertaan GBN mampu untuk mengamankan posisi mengajar di berbagai sekolah musik di Indonesia.GBN2

Di sisi lain, GBN pun juga menjadi tempat lahirnya berbagai musik aransemen orkestral bernafaskan Indonesia. Beragam lagu wajib pun dipadu dalam bentuk orkestrasi megah dengan aransemen paduan suara. Singgih Sanjaya selaku tokoh yang aktif dalam GBN memimpin orkestra dalam upacara di Istana, dan tahun ini hadir pula Purwacaraka di atas podium, dua dari penggerak musik di Indonesia.

Namun jangan pula dilupakan bahwa di belakang mereka hadir pula puluhan penggerak lainnya dalam operasi besar ini. Puluhan pelatih dan pengaudisi juga hadir dalam kegiatan kesenian besar ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di daerah pun terlibat aktif dalam proses seleksi dan audisi anggota paduan suara, sedang audisi pemain orkestra umumnya terkonsentrasi di Jakarta dan Yogyakarta. Belum pula kemudian seluruh musisi muda ini kemudian menjalani pelatihan karantina yang dibina oleh para pelatih di instrumen dan bidangnya masing-masing dan diikuti beragam konser di bilangan Kemendikbud serta rumah Kepresidenan. Di dalam masa pemerintahan presiden sebelumnya, tercatat beberapa kali musik ciptaan presiden pun ditampilkan dalam orkestrasi megah dalam acara ini.

Sangat menarik apabila mencermati bagaimana posisi orkestra dan paduan suara dalam GBN menjadi perwujudan nilai kebangsaan yang coba diusung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama lebih dari 13 tahun terakhir ini. Orkestra dan paduan suara menjadi sebuah perwujudan nilai Bhinneka Tunggal Ika dengan 136 orang penyanyi paduan suara dari 34 provinsi, masing-masing provinsi mengirimkan 4 orang dengan format sopran, alto, tenor, bas. Keberagaman alat musik orkestra juga menjadi warna yang ditekankan dan juga dipadukan dengan beberapa instrumen pilihan dari kekayaan instrumen musik etnik di Indonesia, sebuah perwujudan kebhinnekaan. Namun patut pula dicermati bahwa pemain musik orkestra muda banyak terkonsentrasi di Jakarta dan Jogja yang menyebabkan kesempatan untuk ikut serta dalam orkes belum begitu merata karena apabila ingin ikut audisi harus pula terbang ke salah satu dari dua kota ini, berbeda dengan paduan suara yang sudah lebih merata.

Mencermati nilai dan identitas, orkestra yang adalah sebuah temuan musik barat kemudian diadopsi menjadi milik Indonesia sendiri. Musik orkestra memang memiliki kemegahan dengan beragam unsur prestise dan tentunya dapat mengikutsertakan banyak orang dalam barisannya. Namun di sisi lain, orkestra ini juga mencerminkan bagaimana nilai ke-Indonesia-an juga tidak terlepas dari nilai kebudayaan asing yang diserap oleh bangsa Indonesia. Orkestra yang majemuk dengan satu konsep standar internasional pun sebagai fondasi dianggap netral dalam mewakili kebudayaan Indonesia dibandingkan menggunakan alat musik etnik Indonesia yang sedemikian beragam. Alhasil, alat musik etnik pun lebih mendapat tempat sebagai instrumen pengaya dibandingkan sebagai sajian pokok. Namun demikian orkestrator pun kini juga aktif menyajikan alat musik etnik dalam aransemen mereka yang menunjukkan keterwakilan musik etnik dan juga kekhasan musik Indonesia sendiri (lih. blog Kemendibud).

Anggota GBN 2016 mulai mengikuti pemusatan latihan pada 1 Agustus 2016 di Kinasih Resort, Depok, Jawa Barat. Dalam latihan tersebut, diterapkan juga nilai-nilai kedisiplinan, patriotisme serta nasionalisme untuk seluruh anggota GBN 2016. Selain latihan musik bersama, dalam pemusatan latihan juga ada beberapa agenda yang dimasukkan untuk jadi bekal mereka di masa depan. Agenda tersebut antara lain seminar motivasi dan pengembangan diri, dan seminar bela negara. Mereka akan berada di pemusatan latihan selama 18 hari, dan kembali ke daerah masing-masing pada 19 Agustus 2016. ~blog Kemendikbud

Gita Bahana Nusantara 4

Singgih Sanjaya memimpin GBN

GBN pun menjadi sarana dalam menanamkan nilai nasionalisme dan patriotisme dalam anak-anak muda ini. GBN pun menjadi sarana kebijakan kebudayaan yang mengikusertakan elemen pemuda-pemudi Indonesia dalam kegiatan budaya yang juga mengangkat nilai ke-Indonesia-an dan bela negara. Ya, pemusatan latihan pun menjadi sarana untuk membangun persaudaraan antar anggota dari beragam daerah di Indonesia.

GBN pun juga sebenarnya menjadi refleksi dunia permusikan Tanah Air dan bagaimana idealisme dan kekaryaan musik. Lewat karya-karya yang dimainkan dan disiarkan di penjuru Tanah Air, GBN menjadi pengejawantahan selera nasional akan lagu-lagu wajib yang familiar, lagu-lagu daerah yang rancak dalam balutan aransemen yang nyaman di telinga dan terbilang megah. Di lain pihak, juga tergambar bahwa eksperimentasi musik meskipun ada dan hadir dalam musik yang dibawakan, namun tetap dibatasi untuk menjamin akses dan pemahaman publik akan musik yang ditampilkan.

Sebagai sebuah kebijakan kebudayaan, Gita Bahana Nusantara adalah perwujudan program yang menarik dengan konsep yang tidak kalah kaya dengan Paskibraka yang menapakkan kaki di lapangan Istana Merdeka. Toh, para musisi muda inilah usia 15-25 tahun inilah, didukung dengan jajaran Kementerian dan para profesional di belakangnya yang kemudian menjadikan inisiatif ini mungkin, yang membuat upacara hidup dan menarik untuk disimak. Sayangnya tidak terlalu banyak perhatian publik tertuju pada barisan pemuda ini. Dengan 13 tahun sejarah dan lebih dari 2000 alumni, GBN bukan hanya sekedar program musik Kemendiknas dan Istana Kepresidenan, namun juga perwujudan nilai kebangsaan dan kebijakan kebudayaan yang patut dicermati perkembangannya dari tahun ke tahun.

GBN1

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on 17 Agustusan dan Musik Gita Bahana Nusantara Sebagai Kebijakan Budaya

  1. Mike, mereka tampilnya hanya tiap Agustus aja di Istana kah atau ada program tahunan selain pentas hari kemerdekaan ya? Sebenernya inisiatif ini memang bisa diperkuat lagi lewat jaringan yang mereka miliki di seluruh propinsi ya, walau memang ketersediaan musisi orkes muda belum tentu merata di seluruh ibukota propinsi. Tapi kalau ada program di Indonesia Barat, Tengah dan Timur, dengan keunikannya masing2, akan membuat keragaman budaya semakin dapet tempat dan sorotan dan punya dampak semakin merata.

    Makasi buat infonya Mike, jadi ada ide baru๐Ÿ˜€

  2. Sama2 ndre…! Mmg ini idenya sudah bagus, namun sayang hanya bersifat festival dan hanya utk mendukung upacara kenegaraan di bulan Agustus… Harusnya dapat digaet dan dikembangkan lebih jauh. Pelaksanaannya selama ini sudah cukup menarik, hanya memang masih banyak ruang pengembangan yang terbuka sebenarnya.

    Yang menarik dari Paskibra adalah sifatnya yang mengakar dari sekolah. Apakah GBN juga bisa mengakar dari sekolah dan universitas dan mengirimkan putra-putri terbaiknya secara lbh terstruktur seperti seleksi paskibraka nasional? Ini akan lebih menarik lagi kalau dibahas…๐Ÿ™‚ karena keterwakilan juga akan menjadi pro dan kontra juga… Terlebih krn keberagaman talent dan skill instrumen dalam orkestra, tidak seperti kirim 2pria 2wanita dalam paskibra maupun paduan suara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: