Kabar Terkini

Menjelang Festival Orkes dan Ensemble Perdana: Wawancara Nathania Karina


Jakarta akan menjadi tuan rumah dari sebuah festival ensembel dan orkestra pertama di Indonesia. Indonesia Orchestra & Ensemble Festival (IOEF) menjadi sebuah inisiatif pertama untuk menyatukan pecinta musik klasik dan para pemain orkestra dan ensembel untuk berbagi ilmu dan kemeriahan dalam musik. Diselenggarakan oleh Musicmind bekerja sama dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (Trust) yang berbasis di Jakarta, Musicalprom berkesempatan mewawancarai penggerak Trust, dirigen sekaligus direktur musik Nathania Karina untuk berbagi kiprahnya dalam penyelenggaraan acara ini.

Mike: Halo Nia, senang sekali mendengar bahwa Musicmind bersama Trust akan mengadakan sebuah festival orkestra dan ensembel pertama di Indonesia. Mungkin Nia bisa menceritakantolong ceritakan apakah itu IOEF dan event seperti apakah yang akan diadakan dalam acara ini?

Nia: Indonesia Orchestra & Ensemble Festival adalah festival orkestra & ensemble pertama di Indonesia, dengan fokus utama pada grup/chamber music (format apapun selain solo) dan instrumen (non-vokal). Terbuka untuk instrumen orkestra standar Barat, instrumen tradisional Indonesia, instrumen Tionghoa ataupun ensemble alat musik sejenis seperti gitar ensemble.
Untuk konten dari acara ini cukup beragam. Yang terutama adalah pertunjukan dari berbagai grup undangan (orkestra/ensemble komunitas dan sekolah). Selain itu kami juga mengadakan seminar/workshop dari para akademisi maupun ahli di bidangnya. Topik yang ditawarkan sangat variatif, namun sebagian besar akan membahas tentang ensemble/orkestra mulai dari teknik permainan, peranan dalam industri musik, pengetahuan aransemen, pengetahuan teknik rekam dan sound system, hingga perawatan alat musik yang baik dan benar. Kami juga mengadakan konser gala yang akan menampilkan lagu-lagu tradisional indonesia, call for scores (semacam kompetisi komposisi), dan world premiere dari karya Indonesian Suite yang ditulis khusus oleh Ivan Tangkulung untuk event ini. Bagi para musisi, kami juga mengadakan masterclass dari para maestro untuk berbagai instrumen. Yang terakhir, kami juga mengadakan segmen Meet the Orchestra – wadah untuk para indvidual yang belum memiliki grup orkestra, namun ingin  bermain dalam sebuah orkestra, khusus untuk berpartisipasi dalam event ini.

M: Wah menarik dan beragam sekali, lalu apakah alasan dan tujuan IOEF yang pertama ini diadakan? Apakah yang membuat acara ini unik di mata Nia? 

N: Tujuan utama acara ini diselenggarakan cukup beragam. Yang pertama, memberikan kesempatan kepada grup-grup orkestra/ensemble di Indonesia untuk dapat tampil. Banyak grup-grup kecil yang kurang terekspos karena adanya keterbatasan dana ataupun keterbatasan organisasi sehingga belum mendapatkan kesempatan untuk tampil di depan publik. Kedua, untuk membagikan wawasan dan berbagai ilmu yang menarik kepada pelaku-pelaku musik di Indonesia (khsususnya di bidang orkestra/ensemble). Banyak sekali pakar di bidang ini yang sebenarnya memiliki bekal pengetahuan dan ingin berbagi tetapi belum ada wadahnya.

Yang ketiga, kami ingin memberikan inspirasi dan motivasi kepada para pelaku musik khususnya generasi muda agar terpacu untuk terus meningkatkan kemampuan ataupun memberanikan diri untuk tampil dan bergabung ke dalam sebuah grup. Selain itu, juga memberikan support kepada musisi muda Indonesia, khususnya para non-pianis dan non-vokalis/chorister. Selain kepiawaian para pianis, vokalis, ataupun grup choir dari Indonesia saya rasa sudah bisa menembus level dunia, berbagai kompetisi dan festival juga marak diadakan di Indonesia untuk kedua bidang ini. Bagi kami panitia, sudah saatnya para instrumentalis mendapatkan kesempatan yang sama. Sebelum menembus panggung dunia internasional, minimal kita harus berusaha dulu untuk tampil di dalam negeri. Kelima, acara ini juga menjadi ajang sosialisasi/bertemu para grup. Ironisnya, meskipun akhir-akhir ini banyak grup orkestra/ensemble  bermunculan, sering kali terjadi persaingan yang tidak sehat. Banyak wejangan untuk tidak bergaul dengan grup tertentu dikarenakan adanya eksklusivitas ataupun karena keterbatasan/kelangkaan pemain. Festival ini diharapkan dapat menjadi melting pot untuk menghapus anggapan-anggapan tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi grup-grup dan anggota untuk saling mengenal grup lain.

Latihan orkestra Trust dengan solois Giovani Biga

Latihan orkestra Trust dengan solois Giovani Biga

M: Bisakah Nia menceritakan bagaimana IOEF ini tersusun dan bagaimana rencana ini akhirnya berbuah? Apa inspirasinya dan bagaimana perjalanan persiapannya?
N: Inspirasi kuat festival ini adalah festival serupa yang diikuti oleh TRUST Orchestra tahun 2015, Australian International Music Festival. Luar biasa sekali melihat passion, animo dan keseruan festival tersebut dan sangat disayangkan  bahwa di negara kita sendiri belum ada festival serupa. Berangkat dari ide tersebut ditambah prinsip dan misi bahwa festival ini harus memiliki nilai edukatif dan harus berjalan 100% non profit, lahirlah IOEF.

Persiapan IOEF bisa dibilang cukup mengerikan. Sangatlah tidak mudah mengatur begitu banyak grup, peserta-peserta individual, berbagai bintang tamu dan para pembicara. Event ini diorganisir oleh Musicmind, sebuah lembaga nonprofit yang diprakarsai oleh Felicia Satyadi, yang mengkhususkan diri untuk mengorganisir berbagai event di bidang pendidikan musik. Bergandengan dengan Musicmind, IOEF didukung oleh patron TRUST yaitu PT Trinity Optima Production dan di-host oleh TRUST sendiri.

Salah satu tantangan terbesar kami adalah mensosialisasikan apa itu festival. Banyak calon peserta ataupun pengunjung masih tidak familiar dengan istilah festival maupun agenda-agenda yang ditawarkan. Komentar yang cukup umum adalah “oh ini lomba ya?”. Ini bukanlah lomba. Selain itu, komitmen non-profit juga tentunya sangat berpengaruh terhadap berbagai persiapan teknis seperti sponsorship dan lain-lain. Sangatlah tidak mudah untuk meyakinkan berbagai pihak sponsor bahwa acara ini sangat bermanfaat dan menarik untuk publik.

Sisi positifnya, kami mendapatkan dukungan yang begitu luar biasa khususnya dari para pembicara seperti Maylaffayza, Dr. Tomislav Dimov, Joost Flach, Rama Widi, Aghi Narottama, Artidewi, Adra Karim, Therese Wirakesuma, dan Sudirman Leman yang begitu semangat untuk mendukung acara ini dan memberikan waktu serta berbagai pemikirannya agar festival ini dapat berjalan dengan baik.

M: Melihat dari struktur acaranya akan banyak berkecimpung di dunia ensemble, orkestra, pendidikan dan karier bermusik. Sesi apa sajakah yang menurut Nia personally akan jadi highlight untuk disaksikan dalam rangkaian acara 2 hari ini? 

N: Menurut saya pribadi, highlights dari festival ini adalah seminar-seminar yang topiknya sangat luar biasa menarik. Secara umum publik pasti akan berpikir seminar yang ditawarkan akan membahas seputar teknik bermain, atau bahasan mengenai lagu seperti pada umumnya. Pada garis besarnya, topik seminar di festival ini bisa dibagi menjadi: General Orchestra Knowledge, Composition & Arrangement, Performing & Music Industry.

Akan ada bahasan menarik dari PT Trinity Optima sebagai salah satu label musik terbesar di industri tentang bagaimana cara berkiprah di industri musik sebagai seorang instrumentalis. Ataupun bagaimana cara menyiapkan sound system untuk sebuah orkestra dari Sound System School. Atau bagaimanakah proses latihan sebuah orkestra yang akan didemonstrasikan langsung oleh Budi Utomo Prabowo bersama Orkes Komunitas Concordia.

Jelas yang tidak boleh ketinggalan adalah Gala Concert di hari terakhir serta penampilan grup-grup ternama seperti Lantun Orchestra maupun Hajar Bleh Bigband.

M: Mungkin kita beralih ke dunia orkestra yang lebih makro. Menurut Nia, apakah tantangan terbesar saat ini untuk dunia orkestra di Indonesia? 

N: Ada 4 tantangan terbesar dunia orkestra di Indonesia menurut saya sekarang ini. Pertama, mengenai bagaimana kita dapat memberikan sosialisasi bahwa bermain di orkestra itu adalah lebih dari sekedar skill individu. Bermain dalam sebuah orkestra merupakan pengalaman luar biasa yang membutuhkan lebih dari sekedar latihan pribadi. Kita dapat belajar banyak untuk saling mendengar dan bersaing secara sehat di dalam sebuah grup.

Kedua, bagaimana akhir-akhir ini industri musik/media membentuk pemain-pemain orkestra instan yang bisa tampil di televisi hanya cukup bermodalkan paras cantik tanpa diimbangi dengan kemampuan yang cukup. Akibatnya, sebagian besar masyarakat berpikir bahwa orkestra adalah sebuah hal remeh yang bisa dijalankan tanpa latihan, tanpa persiapan yang matang. Bunyi-bunyi yang indah bisa digantikan oleh teknologi digital dan orkestra hanya menjadi sekedar pemanis suasana.

Ketiga, ada guyonan cukup umum di kalangan para musisi di mana orkestra di Indonesia itu isinya sama semua, hanya ganti pengabanya saja. Sangatlah penting memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk dapat berekspresi dan dibimbing agar kedepannya kita dapat bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang sudah memiliki bergitu banyak grup orkestra dan orkestra nasional yang sangat solid.

Terakhir, prinsip friendship dan fun. It really brokes my heart akhir-akhir ini di kalangan generasi muda ada persaingan-persaingan yang tidak sehat. Bagaimana kita dapat menciptakan ruang yang menantang untuk generasi muda namun sehat.

M: Mungkin bisakah dishare harapan Nia untuk IOEF tahun ini?

Harapan terbesar kami adalah IOEF dapat dihadiri banyak kalangan dan lapisan, menginspirasi mereka yang hadir dan memberikan semangat kepada para pelaku orkestra sehingga siapa tahu, mereka dapat mengadakan acara serupa di kemudian hari.

Wah sepertinya akan sangat seru ya. OK kalau begitu, sukses ya untuk penyelenggaraan acara ini. Semoga memberi manfaat bagi para pesertanya dan sustainable ke depannya. Terimakasih Nia untuk waktunya!

Daftar Acara IOEF

~ Indonesia Orchestra and Ensemble Festival akan diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (Graha Bhakti Budaya, Foyer GBB dan Teater Kecil) pada tanggal 3-4 September 2016. Gratis untuk umum.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: