Kabar Terkini

 3 Kunci Mencipta Kasus, Mengangkat Argumen Seni

Team of construction worker with equipment. Isolated

Acap penggerak seni mengalami kesulitan menerangkan apa pentingnya seni dalam kehidupan dan apa perlunya dukungan terhadap kesenian. Dalam hal ini, menciptakan kasus dan mengangkat argumen pentingnya kesenian sepertinya perlu untuk dibangun.

Sebagaimana diutarakan peneliti dari Koalisi Seni Indonesia, Annayu Maharani dalam sebuah perbincangan privat, diskusi pendanaan seni banyak bertumpu pada diskusi estetik dan bukan pada diskusi kebijakan. Kualitas estetik menjadi argumen utama, padahal tidak semua penentu kebijakan paham betul kualitas estetik sebuah karya seni. Sesungguhnya ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun sungguh terjadi di mana-mana. Maka dari itu sebenarnya yang menjadi kunci justru adalah pemikiran lateral dan multidisipliner yang mampu menyatukan pandangan seni, kebijakan dan dua buah keterampilan khusus, yakni menciptakan kasus dan berargumen.

Kesulitan yang saat ini banyak dihadapi penggerak seni adalah putusnya tali kebijakan publik dengan dunia kesenian. Putusnya temali ini sesungguhnya dapat dirangkai perlahan lewat pengemukaan kasus dan menjalin argumen yang kuat dan runut akan pentingnya kesenian dalam kebijakan publik saat ini. Berikut adalah 3 kunci yang setidaknya perlu dijelajah dalam menciptakan kasus dan beragumen ini:

  1. Kenali permasalahan. Permasalahan adalah sebuah awal yang tepat dalam menyikapi sebuah studi kebijakan. Kebijakan umumnya dibuat untuk menjawab sebuah permasalahan yang dianggap cukup mendesak. Sebuah kasus dapat diangkat untuk melihat betapa pentingnya kebijakan tersebut dan permasalahan riil langsung di lapangan. Hubungkan permasalahan ini dengan kebijakan publik yang telah ada dan kenali implikasi permasalahan dan kebijakan yang tentunya saling tarik menarik.
  2. Cermati gap dan alamatkan dengan seni. Interaksi antara permasalahan dan kebijakan tentunya menciptakan gap dalam pelaksanaan. Di antara gap inilah sebenarnya ada ruang di mana seni dapat bermanfaat dan disinilah temali argumen harus dibangun di antara kasus. Dibanding berpikir apakah yang dapat dilakukan institusi untuk seni, ada kalanya berpikir apakah yang dapat seni lakukan untuk institusi adalah cara berpikir yang lebih mudah untuk mengembangkan argumen. Apakah seni kemudian dapat menjawab permasalahan ada ataukah mungkin setidaknya menutup gap yang sebelumnya telah ada.
  3. Susun kerangka kerja. Apabila argumen dan gap telah dihubungkan, kini saatnya untuk menyusun langkah demi langkah apa saja yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak agar jaringan temali tersebut dapat terangkai dengan sempurna dan menutup gap yang sempat ada. Kerangka kerja inilah yang membuat perencanaan terlihat riil di lapangan hingga dapat dieksekusi. Jangan lupa untuk menganalisa dampak yang mungkin akan terjadi lewat kerangka kerja yang ada. Bisa jadi solusi ini tidak bersifat hanya satu arah, melainkan justru bisa beragam penjuru dan terhubung dengan kasus dan permasalahan yang lain.

Logika ini bisa jadi adalah hal biasa dalam kerangka problem solving dan solution driven selling, kini sudah saatnya menghubungkan kerangka pemikiran ini dalam praktek berkesenian. Jujur saja, hal ini gampang-gampang susah untuk dipraktekkan namun setidaknya kerangka argumen bukan hanya di ranah estetik yang seringkali sulit direlasikan dengan kebijakan publik dan setidaknya mendekatkan seni dengan kebijakan dan permasalahan yang ada di masyarakat.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: