Kabar Terkini

Jadi Konduktor: Kemewahan Kelas Menengah


Mengikuti masterclass mengaba kali ini di Romania membawa refleksi tersendiri yang cukup mengejutkan. Proses menjadi pengaba atau konduktor adalah kemewahan kelas menegah, sebuah kenyataan pahit dalam ketidakadilan bermusik namun membelalakkan mata lewat pengamatan kali ini. Mengikuti masterclass mengaba dan bergaul dengan banyak konduktor muda dalam masterclass kali ini, penulis berkesempatan melongok lebih jauh hubungan mimpi, kerja dan juga karir konduktor, terutama mereka yang bermimpi untuk menjadi konduktor besar profesional. Hal ini nyatanya dibangun dalam situasi yang melekat dengan pendidikan konduktor dan proses yang mereka lalui dan seringkali tidak berpihak dengan mereka yang bukan berasal dari kalangan berada. Ada baiknya kita runut bersama situasinya.

Pendidikan konduktor di Eropa umumnya hanya dapat dilalui apabila seorang musisi muda telah menggapai capaian artistik tertentu dalam permainan instrumen. Karenanya tidak sedikit dari calon konduktor ini adalah mereka yang telah terlebih dahulu mempelajari seni musik hingga level yang cukup tinggi, bahkan tidak jarang mereka yang telah menyelesaikan pendidikan minimal strata 1 untuk instrumen musik mereka. Sebagaimana pendidikan tinggi lain, pendidikan musik pun juga terjadi seleksi diri sekalipun mungkin pendidikan musik di beberapa negara dapat ditempuh dengan gratis dan mungkin hanya sekedar biaya administrasi sebagaimana di Jerman, Austria dan di Belanda. Namun biaya hidup mahasiswa musik juga tidak dapat dibilang murah, mereka pun harus mampu menopang dirinya selama studi. Karenanya tidak jarang mereka berasal dari kelas menengah yang memiliki eksposur terhadap seni musik sejak dini dan mampu membiayai perkuliahan dan biaya hidup selama studi.

Hal serupapun berlanjut ketika menuntut ilmu mengaba. Sekalipun mereka adalah instrumentalis handal, banyak sistem pendidikan dan juga preferensi profesor pendidik menuntut agar para calon konduktor ini menempuh pendidikan kembali melalui proses strata 1 dan kemudian berlanjut ke strata 2 agar penyerapan ilmu menjadi maksimal. Pendidikan musik sebagai pendidikan vokasional juga menuntut waktu praktek dan latihan yang sangat padat sehingga tidak banyak yang mau mengambil resiko menyambinya dengan pekerjaan paruh waktu untuk menafkahi hidup. Lagi-lagi, untuk menjadi cemerlang dalam bidang yang spesifik ini, calon konduktor muda juga harus meluangkan waktu berlatih dan studi sehingga sedikit yang memilih untuk bekerja paruh waktu.

Karenanya tidak heran apabila kita melihat konduktor muda meluangkan paling tidak 10 tahun dalam pendidikan sebelum akhirnya lulus pendidikan mereka. Sepuluh tahun ini tidak pula membuat seorang konduktor bisa langsung mendapatkan pekerjaan sebagai seorang konduktor, pekerjaan yang terbilang sangat kompetitif ini. Alhasil, tidak sedikit dari mereka bahkan efektif belum bekerja dan mencari nafkah sendiri hingga menjelang usia 30 tahun. Belum lagi persaingan di dunia kerja, konduktor muda seringkali tidak menjadi pilihan utama dibandingkan konduktor yang sudah berpengalaman di usia yang terbilang lanjut. Karena ya tidak jarang terlihat calon konduktor di usia 30-an tahun belum pula memiliki karir yang jelas.

Pertanyaan yang muncul kemudian tentunya adalah bagaimana pribadi-pribadi ini yang meluangkan waktu untuk studi berbelas tahun ini mampu bertahan hidup namun juga sekaligus meningkatkan kualitas diri sebagai konduktor? Tentunya mereka yang berasal dari keluarga kelas menengaah yang diuntungkan. Tidak sedikit dari mereka yang masih mengandalkan nafkah dari keluarga dan sanak saudara di usia menjelang 3 dekade.

Dalam kasus yang ditemui penulis kali ini, beberapa anggota masterclass yang berasal dari Asia yang sungguh-sungguh berjuang untuk menjadi konduktor muda mendedikasikan diri untuk fokus studi dan kesana kemari untuk mengikuti masterclass untuk mengembangkan diri tanpa ada waktu untuk bekerja dan mencari nafkah. Beberapa musisi muda ini yang berasal dari kelas menengah dari Jepang dan Korea Selatan bahkan mampu bertahan bertahun-tahun di Jerman misalnya untuk sekedar hidup, berlatih dan belajar sekalipun di usia kepala 3. Beberapa kawan yang berasal dari negara Eropa pun juga tidak luput dari situasi ini. Apabila mereka ingin berkembang dengan optimal dan bersaing, mereka pun mengandalkan keberuntungan mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah. Tidak dapat dipungkiri mereka semua memiliki keteguhan hati dan kegigihan dalam bekerja dan menuntut ilmu yang tidak main-main.

Ananda Sukarlan dalam tulisannya di Kompas pernah mengkritik mahalnya upah beberapa konduktor dunia dan Indonesia. Kritiknya memang ada benarnya, namun sebagai pembaca, kita harus pula melihat konteks secara lebih utuh. Peran konduktor sebagai pemimpin dan juga sebagai seorang seniman kreatif yang turut menciptakan kembali musik dari atas kertasharus dipertimbangkan secara utuh. Selain itu, harus pula dipertimbangkan persiapan mereka dalam vokasi yang tentunya tidak pendek. Dalam pendidikan saja, seorang konduktor setidaknya membutuhkan 5-10 tahun lebih panjang dibandingkan seorang instrumentalis. Setidaknya itulah yang tergambar dalam banyak sistem pendidikan pengaba di dunia saat ini. Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri juga adanya ketidakadilan maupun kecacatan dalam sistem dan jalur pengembangan karir yang juga tidak berpihak pada para konduktor muda sehingga semakin memperparah kesenjangan yang ada.

Tulisan ini hanyalah sebuah amatan terhadap kecenderungan seni musik dan profesi konduktor yang lebih menguntungkan mereka yang berasal dari kelas menengah. Bahkan dengan sistem yang ada sekarang saat ini, untuk meniti karir dan pendidikan seorang konduktor dan menjadi konduktor mendunia adalah sebuah kemewahan bagi mereka yang berasal dari kelas menengah. Meski demikian, tidak ada pula yang mampu menjamin keberhasilan masa depan calon konduktor ini karena kesempatan untuk memimpin kelompok musik pun tidak banyak, terlebih dengan oversupply talenta saat ini. Dan karenanya banyak dari mereka akan pula terperangkap dalam kondisi belajar tanpa henti tanpa arah yang jelas sambil menunggu ‘saat istimewa'(big break) itu tiba. Sebuah kemewahan yang perlahan berubah menjadi racun bagi mereka yang berani bermimpi. Gila juga!

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

4 Comments on Jadi Konduktor: Kemewahan Kelas Menengah

  1. Hallo
    Saya Juga sedang mendalami teknik mengaba(orchestra)di Bandung,melihat tulisan ini saya sepakat bahwa menjadi Dirigent bukan lah suatu hal yang mudah,kesempatan mereka jauh lebih kecil dibanding dengan seorang Instrumentalis,tetapi mungkin itu juga karena jumlah Orkes yang tidak seimbang dengan talenta baru,lalu apakah membuat grup Orchestra sendiri bisa dijadikan sebagai peluang terhadap Dirigent baru?
    Nb:
    Terimakasih Ka tulisannya sangat bagus.

  2. Sepertinya membuat group orchestra baru sendiri memang bisa dijadikan peluang terhadap dirigen baru, terutama di negara-negara di mana orchestra sudah full schedule. Namun untuk negara seperti Indonesia, sebenarnya kapasitas konser orchestra-orchestra di Indonesia masih terbilang kecil, setahun kebanyakan orchestra hanya konser 2-5 kali, masih terbilang sedikit, bahkan jauh dari angka satu konser per minggu. Sebenarnya pengembangan kapasitas ini tergantung dari orchestra-orchestra yang ada apakah mereka sadar mereka masih dapat meningkatkan kapasitas mereka, sekaligus memberi ruang bagi dirigen muda Indonesia untuk ikut andil dalam peningkatan kapasitas dan dalam pekerjaan dirigen di sana, misalnya sebagai asisten dirigen, ataupun dirigen tamu…. Sayangnya hal seperti ini belum banyak disadari konduktor kenamaan di Indonesia yang biasanya berlindung dalam adage bahwa tidak ada cukup dana untuk menyelenggarakan konser lebih sering…

  3. andreasarianto // 13 September 2016 pukul 11:36 am //

    Kalau seperti ini kondisinya, bukan cuma kemewahan kelas menengah lagi namanya, tapi benar2 milik kelas atas ya🙂

  4. Suka tidak suka sepertinya demikian bro Andreas. Mereka yang dari kelas menengah ke bawah pastinya prioritasnya adalah mencari nafkah dulu, sehingga biasanya setelah beres pendidikan instrumen, pilihannya entah langsung sebagai pengajar ataupun sebagai penampil, dan bukan jadi konduktor… Kalau kita runut kisah banyak konduktor legendaris, kebanyakan pun berasal dari keluarga kelas menengah. Jarang sekali dari kelas bawah atau dari kelas pekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: